Oleh Budiarto Shambazy & Imam Prihadiyoko
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/01/persona/3631210.htm
=====================

Akhir Juni lalu Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri (44) menerbitkan dua
buku sekaligus, "Transformasi Pendidikan Tinggi di Era Knowledge Based
Society: Studi Kasus Universitas Indonesia" (170 halaman) dan
"Transformasi Perguruan Tinggi Berbasis Riset dan Berdaya-Usaha:
Catatan Pengalaman FISIP UI 2002-2006" (96 halaman). Ia mengubah FISIP
UI sejak jadi dekan tahun 2002 berkat kepemimpinan "berpikir di luar
kotak" atau "thinking out of the box".

Buku Transformasi persembahan lengkap untuk mengawal perubahan
Universitas Indonesia (UI) jadi universitas riset dan
berkewirausahaan. Gumilar sering menyebut "turbulensi" sebagai kata
kunci untuk menggambarkan proses transformasi itu.

"Dukungan dana dari pemerintah turun seiring dengan otonomi
pendidikan. Biaya pendidikan meningkat dan globalisasi serta kompetisi
juga terus naik. Pasar juga butuh pelayanan pendidikan tinggi yang
lebih baik. Inilah tantangannya," kata Gumilar tentang bukunya.

Mau tak mau pengelolaan universitas harus lebih profesional dan itu
sudah dibuktikan Gumilar lewat buku Catatan Pengalaman FISIP UI. Ia
tak membusungkan dada karena bukti sudah terlalu banyak. "Kata orang,
FISIP UI maju pesat. Harus diakui kami paling rapi dalam implementasi
administrasi akademik dan non-akademik. Bahkan, kami pelopor di ASEAN
yang mengenalkan sabatical leave dengan orientasi
acedemic-contagion-effect yang sangat berorientasi keilmuan," ujarnya
dengan menyebut contoh sosiolog Dr Robert Lawang dan pengajar ilmu
politik Dr Makmur Keliat sebagai contoh.

Kedua buku saling baku kait, melengkapi, dan terprogram dengan
berbagai solusi konkret. Pertama, Gumilar menawarkan kepemimpinan di
fakultas yang memiliki keunikan karena keberagaman ilmu (sosial,
politik, administrasi, komunikasi, kriminologi, dan lain-lain) ke
tingkat universitas.

"Kini zamannya ilmu-ilmu sosial dan politik. Setiap fakultas telah
mempunyai sistem serupa, tinggal dikonvergensikan dengan kepemimpinan
yang mengandalkan keberagaman," katanya.

Kedua, keberagaman disiplin ilmu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia (FISIP UI) tentu akan membentuk inkorporasi yang
lebih padu. "Ini masalah capacity building. Contohnya fitur-fitur
telepon genggam yang tak ada artinya jika berdiri sendiri-sendiri.
Namun, kalau disajikan bersamaan, telepon genggam menjadi benda yang
meledakkan perubahan besar," katanya.

Ketiga, di kedua buku itu Gumilar banyak bercerita tentang good
governance sebagai satu-satunya opsi dalam pengelolaan universitas
sebagai lembaga pendidikan. "Tak bisa lain, good governance telah
menjadi tuntutan wajar. Masalah tinggal bagaimana setiap fakultas dan
juga universitas bersama-sama mengubah UI dari good menjadi great,"
tambahnya.

Gumilar ditunjuk jadi ketua Panitia Pengarah Hari Lahir Pancasila yang
menghadirkan 600 intelektual dan tokoh dalam "Seminar Pancasila" tahun
2006. Acara itu dilanjutkan dengan pembacaan "Maklumat Keindonesiaan"
dan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 1 Juni di Jakarta yang
dihadiri sekitar 3.500 tokoh.

"Itu prakarsa bersama-sama yang dimulai karena kegalauan kami terhadap
anggapan bahwa Pancasila itu salah. Padahal, ia merupakan nilai-nilai
inti dari kehidupan kebangsaan kita," ujarnya.

Di kalangan alumni ia dijuluki "The Green Dean" (Dekan Peduli Alam)
karena kehirauan dia pada pelestarian lingkungan. Ia kolektor berbagai
jenis ikan, aneka unggas, dan beragam tanaman. Kampus ia sulap menjadi
taman asri yang membuat betah dosen, karyawan, serta mahasiswa. Ia
memang lahir sampai jadi siswa di daerah Bumi Priangan.

"Ayah orang India alias Indhiang, kota kecil di Tasikmalaya. Ibu asli
Turki alias Turunan Kidul, di Tasik Selatan," kata Gumilar tertawa lepas.

Berpikir di luar kotak

Sebagai dekan ia percaya pada moto "berpikir di luar kotak" alias
artinya "tidak mau biasa". Kampus yang jadi tempat sekitar 8.000
mahasiswa belajar kini bak hotel berbintang lima. Karyawan wajib
berseragam, tetapi gaji mereka naik rata-rata 20 persen per tahun.
Gaji dosen inti rata-rata Rp 9 juta per bulan (di luar gaji PNS)
berkat kas fakultas yang terbesar kedua di UIĀ—sekitar Rp 30 miliar per
tahun.

Di kampus ada restoran masakan Korea, toko IT (information
technology), toko suvenir, toko buku internasional, atau kantin yang
menampung 20 pedagang kaki lima. Dari parkir motor saja FISIP UI
mendapat penghasilan tambahan sekitar Rp 200 juta. FISIP terpilih
sebagai kampus tebersih dan terindah UI, merebut Piala Rektor dalam
lomba yang pertama kali diadakan tahun 2006.

Rasa mewah terasa di Miriam Budiardjo Resource Center atau Selo
Soemardjan Research Center yang sudah empat tahun ber-"Wi-Fi". Ruang
kerja staf pengajar layaknya kantor eksekutif perusahaan raksasa yang
bertebaran di Jalan Sudirman, Jakarta. Perpustakaannya lengkap dan
dikunjungi 700-1.000 orang per hari.

Gumilar memelopori terselenggaranya Research Days yang di UI pertama
kali diadakan FISIP tahun 2004. Waktu penyelenggaraan tahun 2006
dipresentasikan 200 karya ilmiah. Kesempatan itu juga dimanfaatkan
jadi ajang pertemuan perdana dekan FISIP se-Indonesia dan berbagai
kegiatan ilmiah domestik serta internasional lainnya. UI pun tak mau
kalah dan akan menyelenggarakan Gelar Ilmu tanggal 29 Juli mendatang.

"Semua dekan, termasuk almarhum Pak Selo Soemardjan, almarhumah Ibu
Miriam Budiardjo, atau Pak Juwono Sudarsono, sampai Pak Martani
Huseini adalah para pelopor dengan cara masing-masing. Insya Allah
saya hanya meneruskan saja," ujar pria kelahiran 11 Maret 1963 ini.
"Saya memakai pola 'berpikir di luar kotak' untuk memotong lingkaran
setan. Bagi FISIP yang terpenting memperbaiki infrastruktur dulu, baru
fokus ke berbagai upaya mencapai academic excellence," ujar mantan
ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah saat sekolah menengah atas (SMA)
di Tasikmalaya itu.

Bagi sebagian orang ia mengganggu "harmoni". "Saya banyak belajar
mengendalikan perasaan dengan memasukkan rasionalitas dalam menilai
keadaan. Akselerasi membutuhkan toleransi agar perubahan yang cepat
juga menimbang cermat kondisi riil. Cara berpikir di luar kotak tak
mudah dimengerti orang, saya juga selalu memeriksa kelemahan-kelemahan
saya," kata doktor lulusan Fakultas Sosiologi, Universitas Bielefeld,
Jerman, itu.

Metafora pulang kampung

Gumilar adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara, sekaligus anak
lelaki tertua. "Saya diwajibkan Ayah lari pagi dan memberi makan ikan
di kolam dekat sawah. Lari pagi untuk kesehatan diri dan kasih makan
ikan untuk tambahan uang sekolah. Setelah itu, baru sekolah," kenangnya.

Ayahnya guru lulusan sarjana muda dan menjadi kepala sekolah dasar.
"Tak heran jika kami anak-anak wajib punya rapor bagus. Kalau rapor
jelek, itu aib bagi keluarga. Ayah saya juga mengerjakan lahan tanaman
sayur dan buah, sama dengan penduduk kampung lainnya. Ia menanam jeruk
dan nanas. Ia pernah bergabung dengan Tentara Pelajar TNI AL, tetapi
memutuskan menjadi pendidik.

Jejak sang ayah yang telah membangkitkan keinginan Gumilar ikut-ikutan
menjadi guru walau pernah terobsesi jadi jenderal atau dokter. "Kenapa
jenderal? Sebab Ayah suka cerita tentang tokoh-tokoh pergerakan
nasional yang mimpin. Saya kagum kepada dokter karena mengobati orang
sakit. Sederhana kan?" katanya sambil tertawa renyah.

Sang ayah satu-satunya orang desa yang berlangganan koran. "Kami
langsung tahu informasi apa yang terjadi di luar desa. Selain koran,
sumber lainnya radio yang selalu memancarkan warta berita RRI
Jakarta," katanya lagi.

"Ada prinsip yang selalu saya ingat hingga kini. Kami tujuh bersaudara
dididik mengatasi rasa malas dan malu. Malas membuat kami tidak mau
berusaha, maunya dapat hasil besar tanpa berkeringat. Bagi saya itu
tidak adil dan dalam agama tidaklah halal mendapatkan sesuatu tanpa
berkeringat. Rasa malu juga membuat kita enggan bertanya, padahal
banyak yang kita tak tahu dalam hidup ini," tuturnya.

Dengan bekal dua pesan penting inilah Gumilar tetap gembira meski
ketika sekolah di sekolah menengah pertama (SMP) harus menempuh jarak
lima kilometer (km) dari desa. Begitu juga ketika harus melanjutkan
sekolah di SMA Negeri Ciawi, Tasikmalaya. Jaraknya sekitar 40 km dari
desa. "Makanya, saya indekos di rumah kerabat di kota kawedanan
tersebut. Seminggu sekali saya pulang dengan bus antarkota. Turun dari
bus, belum langsung tiba di rumah, jalan kaki lagi dua jam. Karena
jadwal sekolah sore hari, acara 'pulang kampung' itu saya lakukan
menjelang magrib. Tak heran baru tiba di rumah sekitar jam sembilan
malam," kenang dia.

Perjalanan ini sering kali terasa melelahkan, meskipun ia tidak
sendirian karena ada teman-teman sekampung. Namun, tak jarang kaki
terantuk batu di jalan terjal dan gelap. Itu sebabnya ia senang sekali
kalau sedang bulan purnama, jalan agak terang.

Metafora "pulang kampung" bersama teman di bawah temaram Bulan
menghindari jalan terjal dan gelap inilah yang membentuk kepribadian
Gumilar memimpin FISIP UI. Ia selalu ingin bersama-sama mengerjakan
apa pun, enggan meninggalkan dosen, karyawan, maupun mahasiswa yang
dia asuh nun di belakang sana.



Kirim email ke