Wah Prof, Kita kan nggak bisa membenarkan sesuatu dengan menafikan yang lain. Kalau begitu terus nanti analoginya bisa bermacam-macam. Boleh dong kita mencuri dari koruptor. Boleh dong kita memukuli koruptor, pelanggar HAM, pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi yang mengaku diri sebagai penguasa negeri ini. Bagaimana mekanisme pembenarannya.
Saya lebih setuju bahwa kita sebal pada koruptor, pelanggar HAM, pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi yang mengaku diri sebagai penguasa negeri ini, namun kalau mau demo, pilihlah simbol yang tidak melambangkan negara. Buatlah boneka koruptor, pelanggar HAM, pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan preman berdasi yang mengaku diri sebagai penguasa negeri ini dan lumuri mereka dengan lumpur. Vavai manneke budiman wrote: > > Lumpur tanah yang dilumurkan pada bendera merah putih itu tak ada > artinya dengan lumpur yang ditimbunkan pada bendera oleh para > koruptor, pelanggar HAM, pencuri uang rakyat, pemeras, bajingan, dan > preman berdasi yang mengaku diri sebagai penguasa negeri ini. > > marwan azis <[EMAIL PROTECTED] <mailto:wawan_epwkdi%40yahoo.com>> > wrote: Dari milis tetangga, saya juga kaget mendengar berita ini, kok > Bendera "Merah Putih" yang yang merupakan hasil perjuangan para > pendahulu kita dengan air mata dan darah, tak dihormati bahkan > dilumpuri, ini sangat tidak bisa diterima dengan alasan apapun. Atau > ini pertanda lunturnya semangat kebangsaan kita????? > > Salam damai. > > Wan > > -- This message has been scanned for viruses and dangerous content by MailScanner, and is believed to be clean. [Non-text portions of this message have been removed]
