Oleh A Muhaimin Iskandar
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/09/opini/3663945.htm
======================

Judul artikel ini diadopsi dari tulisan KH Abdurrahman Wahid,
Kebangkitan Kembali Peradaban Islam: Adakah Ia? yang menjadi kata
pengantar buku kumpulan karangan KH A Wahid Hasyim, Mengapa Memilih NU
(1985).

Dalam tulisan itu, Gus Dur mengungkapkan syarat-syarat yang harus
dipenuhi bagi sebuah kebangkitan peradaban.

Pada 20 Mei 2007, orang ramai memperingati Hari Kebangkitan Nasional
(Harkitnas) yang usianya sudah hampir mencapai satu abad. Namun, tahun
ini peringatan itu terasa kurang bergairah, sehingga perayaan tersebut
seperti hanya untuk memenuhi seremoni belaka.

Mengapa peringatan Harkitnas tahun ini kurang gereget? Apakah karena
masyarakat sudah bosan dengan seremoni-seremoni yang dianggap tidak
memengaruhi secara langsung kebutuhan hidup mereka? Ataukah ini
sebagai gejala bangsa ini telah mengalami rasa putus asa secara kolektif?

Kendala untuk bangkit

Dilihat dari sejarah, sumber daya alam dan manusia, serta nilai-nilai
yang dimilikinya, Indonesia merupakan bangsa yang sebenarnya sudah
memenuhi syarat untuk bangkit sejak lama.

Dibandingkan dengan Singapura, Vietnam, atau Malaysia, untuk menyebut
beberapa contoh, modal spiritual dan material bangsa ini jauh lebih
besar. Namun, mengapa kita sekarang semakin tertinggal dari
bangsa-bangsa tersebut yang dulu berada jauh di belakang kita?

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan Indonesia sering
kali mengalami kendala serius untuk bangkit. Jika tidak diselesaikan,
kendala ini dalam jangka panjang bisa menjadi faktor yang merusak
bangsa dari dalam, sehingga peluang untuk bangkit akan jauh lebih
sulit di masa depan.

Pertama, sudah sejak lama bangsa ini mempunyai masalah dengan
ideologinya. Sampai hari ini kita tidak bisa merumuskan suatu clear
ideology. Padahal, dalam clear ideology, berbagai aspek kehidupan
bangsa, termasuk sumber daya di dalamnya, bisa diikat untuk mencapai
tujuan akhir bersama (Abdurrahman Wahid, dalam Dialog: Indonesia Kini
dan Esok, 1980).

Clear ideology berfungsi sebagai daya ikat sekaligus menjadi petunjuk
arah perjalanan bangsa menghadapi berbagai tantangan dan perubahan.

Bagaimana dengan Pancasila? Sebagai ideologi bangsa, harus diakui,
Pancasila sampai saat ini masih belum clear. Di satu sisi, penafsiran
dan rumusan-rumusan Pancasila masih dimonopoli oleh penguasa dan elite
politik nasional pada umumnya, sementara rumusan dari bawah tidak muncul.

Di sisi lain, setelah dimonopoli dan dimanipulasi oleh para penguasa
di masa lalu, kini Pancasila justru tersingkirkan dari diskursus
ideologi bangsa karena ada aspirasi yang bersifat masif dari kalangan
agama untuk menjadikan agama mereka sebagai ideologi di satu pihak,
dan keinginan sekelompok masyarakat untuk melakukan liberalisasi
kehidupan politik dan ekonomi bangsa secara total.

Tanpa bisa didapat suatu rumusan ideologi yang clear, bangsa ini akan
terus mengalami degradasi dalam berbagai bidang kehidupannya.
Kelihatan modern dan maju di permukaan, tetapi sangat rapuh di
dalamnya, karena tidak ada arah yang jelas dan akumulasi yang dibutuhkan.

Kedua, belum munculnya kepemimpinan nasional yang kuat. Kepemimpinan
demikian bertugas menjaga dan mengembangkan ideologi nasional secara
konsisten, dan sekaligus mengawal kelangsungan tahapan-tahapan
pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan.

Tugas ini mengharuskan adanya suatu pola kepemimpinan yang meletakkan
proses pembangunan bangsa sebagai pekerjaan jangka panjang, sehingga
capaian-capaian yang dibuat tidak sekadar memenuhi kepentingan lima
tahunan.

Pola kepemimpinan nasional kita tidak melembaga secara kuat karena
sebagian pemimpin nasional berpikir sektoral dan untuk kepentingan
jangka pendek. Jarang ada pemimpin yang menginvestasikan hidupnya
untuk satu generasi ke depan, sementara dia sendiri mungkin tidak akan
ikut menikmati hasil investasinya. Kebanyakan pemimpin kita sibuk
membangun citra guna mempertahankan atau merebut jabatan politik.

Ketiga, sebagian besar komponen bangsa ini terus dibuai oleh keyakinan
palsu bahwa agama, kelompok, atau ideologi yang diikutinya akan bisa
mengatur dan menyelesaikan persoalan kehidupan secara komprehensif.
Ini adalah sebuah gejala yang disebut overclaim.

Overclaiming menyebabkan kita kehilangan ruang bersama untuk saling
berbagi dan berdialog secara sehat, menutup kemungkinan suatu pola
kehidupan bersama yang bersifat saling melengkapi (komplementer).

A Muhaimin Iskandar Ketua Umum DPP PKB 

Kirim email ke