Pak Andi, saya mengatakan begitu karena begitulah citra masyarakat kita
memperlakukan perempuan. Tentu ada juga yang tidak begitu, tetapi
tidak terdengar suaranya. Soal psikologi evolusi, literatur sejarah
(sosiologi?), pernah dibahas panjang oleh Pak Manneke dan Pak Loekyh
di milis ini, masih soal gender.

Pak Andi, saya bekerja total untuk menganalisa persoalan-persoalan perempuan.
SEmua sektor mulai dari masalah kemiskinan, hak reproduksi, perempunan di 
wilayah konflik,
perempuan dan budaya pop, perempuan dan bencana, perempuan dan
HIV/AIDs, dan masih banyak lagi, semua isu mereka adalah pekerjaan saya. Ada 
apa dengan
ketidak setaraan ini? Kenapa permepuan pasif? Jadi pertanyaannya tidak
hanya sampai pada pernyataan: Perempuan adalah pasif, laki-laki aktif.
Kenapa? Saya bergerak dari pertanyaan radikal ini.

Bersyukurlah untuk rekan sekerja Anda yang memutuskan dengan
kesadarannya, dengan alsan yang sangat manusiawi (karena anaknya
senang tidur dikeloni suaminya). Tapi potret perempuan kita tidak
begitu kenyataannya. Kebanyakan bukan karena kesadaran itu, karena sudah
tuntutan, sudah menjadi peran, sudah seharusnya.


Perhatikan perda no. 8 Tangerang beberapa waktu lalu, ada peraturan
tentang jam malam. Bagi perempuan berjalan di malam hari bisa
dicurigai pelacur. Dan terbukti, ada kasus salah tangkap, yang
tertangkap seorang ibu yang bekerja di restoran, dituduh pelacur yang
sedang menjajakan diri. Inilah potret kita, bahkan sudah sampai
kebijakan!

Bersyukurlah orang seperti Pak Andi, seperti saya, (mudah-mudahan) tidak 
seperti itu.
Seperti rekan Anda, kompleksitas persoalannya sudah lebih kecil, tidak
lagi urusan kebiasaan, atau melakukan sesuatu berdasarkan pendapat
orang, melainkan alasan kasih sayang.



mariana

Tuesday, July 17, 2007, 11:28:12 AM, you wrote:

> Bu Mariana,

> Anda selalu berasumsi bahwa perempuan yang mementingkan pendidikan 
> anaknya ketimbang pekerjaannya adalah karena tekanan masyarakat atau 
> tekanan suami. Tidak pernahkah terlintas di pikiran Bu Mariana bahwa 
> bisa saja mereka mengambil pilihan itu karena dorongan nurani 
> sendiri? Rekan sekerja saya mengurangi jam kerjanya karena anaknya 
> ternyata lebih senang tidur dikeloni suaminya (yang pulang tepat 
> waktu) daripada dirinya sendiri (yang pulang malam). Tidak ada olok-
> olok maupun tekanan di situ.

> Contoh seperti ini tentu susah diperdebatkan kecuali kalau ada riset 
> yang mendukung. Kalau nanti ketemu akan saya tampilkan di sini.

> Tapi kalau Anda baca-baca lagi literatur mengenai psikologi evolusi 
> ada banyak bahasan ilmiah mengapa wanita sering memutuskan keluar 
> dari pertarungan kompetitif menuju puncak karir (tentu kalau 
> membacanya dengan pikiran terbuka dan tidak meledek sebagai "ilmu 
> kebinatangan"). Lantas kalau Anda baca-baca sejarah, tidak akan Anda 
> temui masyarakat seberapapun terpencilnya dimana wanitanya tidak 
> secara otomatis mengemban tanggung jawab utama (utama, bukan satu-
> satunya) dalam merawat keluarganya; baik dia memilih bekerja atau 
> tidak.

> Andi

Kirim email ke