http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/01/humaniora/3732854.htm ===================
Jakarta, Kompas - Pengembangan nanoteknologi memberikan penawaran perubahan paradigma konsumtif menjadi produktif. Pemerintah diharapkan memberi dukungan dengan membentuk kelembagaan khusus serta kebijakan pembebasan pajak bagi pengembangan industri berdaya saing global berbasis nanoteknologi. Demikian dikatakan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) GM Tampubolon, Selasa (31/7), dalam seminar "Nanoteknologi Penentu Daya Saing Bangsa". "Tingginya angka kemiskinan dan jumlah penganggur selama ini diatasi dengan kebijakan moneter, tetapi hasilnya begitu-begitu saja. Pengembangan teknologi seharusnya menjadi elemen kunci pembangunan," kata Tampubolon. Perkembangan industri global saat ini tidak terlepas dari pengembangan nanoteknologi yang menghasilkan produk berkapasitas tinggi dengan ukuran materi relatif kecil. Seperti dicontohkan dalam pengembangan teknologi komputer serta telepon genggam yang makin kecil dengan kapabilitas makin lengkap. Berbagai negara telah memiliki kelembagaan khusus untuk mengembangkan nanoteknologi ini. PATI mendorong supaya presiden juga membentuk kelembagaan khusus untuk pengembangan nanoteknologi pada bidang-bidang, seperti pangan, pertanian, farmasi, dan energi. Pernyataan Tampubolon juga terkait dengan pernyataan Menteri Perindustrian bahwa pada Oktober 2007 nanti pihaknya akan menerbitkan Kebijakan Pengembangan Industri Nasional (KPIN) dengan Visi Nasional 2030 menjadikan Indonesia sebagai negara industri. Dalam sambutannya, Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan, KPIN memerhatikan perubahan konstelasi sosial, ekonomi, politik, dan teknologi, baik dalam negeri maupun internasional. Lebih lanjut Fahmi menerangkan, Departemen Perindustrian dalam mewujudkan KPIN menuju Indonesia sebagai negara industri menempuh tiga hal. Pertama, industri dikembangkan dengan pendekatan top down (kebijakan dari struktur atas). Namun, penyesuaian industri didasarkan pada kompetensi daerah dalam rangka pengembangan proses otonomi daerah. Kedua, pengembangan industri melalui pendekatan bottom-up (kebijakan dari struktur bawah). Ketiga, orientasi pengembangan industri masa depan yang memberi daya saing global. "Industri masa depan untuk menciptakan daya saing global termasuk industri yang memanfaatkan nanoteknologi," kata Fahmi Idris. Fahmi juga memaparkan, aplikasi nanoteknologi sekarang sudah ditempuh Balai Penelitian dan Pengembangan Industri di bawah Departemen Perindustrian. Aplikasi nanoteknologi di antaranya untuk memproduksi membrane, chromatography, dan fine tekstil. Nano-edukasi Ketua Masyarakat Nanoteknologi Nurul Taufiqu Rochman, salah satu pembicara dalam seminar itu, mengungkapkan, nano-edukasi kini perlu digalakkan di Indonesia melalui pengenalan di jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Nano-edukasi di dunia sekarang juga menjadi paradigma baru dalam pengembangan industri. "Sehari-hari sekarang sudah ditemui produk nanoteknologi, seperti komputer atau telepon genggam dengan ukuran makin kecil dan performa makin baik. Pengetahuan nanoteknologi bukan hal baru, tetapi ini menjadi paradigma baru yang harus kita kuasai," kata Nurul. Nanoteknologi pada prinsipnya mengembangkan material berukuran nanometer, yaitu satu per satu miliar meter. Nurul mencontohkan, dibandingkan dengan ukuran bola Bumi, material nanometer berukuran seperti bola pingpong. Nanomaterial memiliki tiga isu penting, meliputi teknik membuat nanopartikel sebagai bahan baku produk nanoteknologi. Kedua, membuat karakterisasi sifat dan fenomena nanopartikel. Ketiga, menyusun kembali nanopartikel menjadi produk akhir yang dikehendaki sesuai dengan karakternya. Nurul mengatakan, produk nanoteknologi yang paling banyak dikonsumsi dunia saat ini berturut-turut meliputi nanokeramik, nanopartikel logam, nanoporous material, carbon nano tube, dan nanostruktur logam. Masing-masing bahan baku ini menunjang industri nanoteknologi, seperti komputer atau telepon genggam yang makin kecil ukurannya, tetapi makin kompleks. (NAW)
