Dear all,
Hati-hati dengan program Rintisan SBI. Itu program yang sudah salah 
sejak desainnya. Saya akan sampaikan komentar saya dalam beberapa 
posting.

Benarkah Program Sekolah Bertaraf (bukan 'berstandar') 
Iinternasional ini akan dapat membuat kualitas pendidikan kita 
meningkat ke taraf yang sesuai dengan namanya?
Apakah Program SBI ini akan membuat bangsa kita mengejar 
ketertinggalannya dibandingkan negara-negara lain? Tunggu dulu. Jika 
kita cermati ternyata program SBI ini mengandung banyak kekurangan 
mencolok. Alih-alih menghasilkan kualitas bertaraf internasional 
kualitas pendidikan kita justru akan terjun bebas. Mengapa? Ada 
beberapa kelemahan mendasar dari program SBI ini.
Pertama, program ini nampaknya tidak didahului dengan riset yang 
mendalam dan konsepnya lemah. Dengan menyatakan bahwa SBI = SNP + X, 
maka sebenarnya konsep SBI ini tidak memiliki bentuk dan arah yang 
jelas. Tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, 
diperdalam, dll  tersebut. Jika konsep ini secara jelas menyatakan 
mengadopsi atau mengadaptasi standar pendidikan internasional 
seperti Cambridge IGCSE atau IB, umpamanya, maka akan lebih jelas 
kemana arah dari program ini. Dengan memasukkan TOEFL/TOEIC, ISO dan 
UNESCO sebagai "X" juga menunjukkan bahwa Dikdasmen juga tidak 
begitu paham dengan apa yang ia maksud dengan "X" tersebut. Atau 
mungkin ini sebuah strategi agar target yang hendak dikejar menjadi 
longgar dan sulit untuk diukur?
Sekolah-sekolah yang mengadopsi atau berkiblat pada standar 
internasional seperti Cambridge atau International Baccalaureate 
(IB) adalah sekolah-sekolah yang memang dirancang untuk 
mempersiapkan siswa-siswa mereka agar dapat melanjutkan ke luar 
negeri. Dengan sistem kurikulum tersebut siswa mereka memang 
dipersiapkan untuk dapat belajar di luar negeri. Mereka bahkan tidak 
perlu mengikuti Ujian Nasional karena mereka memang tidak berencana 
untuk meneruskan pendidikan mereka di universitas di Indonesia. Nah, 
dengan demikian, apakah sebenarnya yang hendak dituju dengan program 
SBI ini? Jika yang hendak dituju adalah peningkatan kualitas 
pembelajaran dan output pendidikan maka mengadopsi IB ataupun 
mengikutsertakan siswa dalam ujian Cambridge bukanlah jawabannya. 
Ujian Cambridge diperuntukkan bagi siswa yang ingin melanjutkan 
pendidikannya ke luar negeri. Meski demikian nilai yang tinggi dalam 
ujian Cambridge juga bukan jaminan bahwa siswa dapat diterima di 
perguruan tinggi di luar negeri. Nilai ujian Cambridge hanya akan 
memudahkan siswa untuk dapat diterima di perti LN karena nilai ujian 
Cambridge diakui oleh beberapa negara.
Permasalahannya adalah berapa banyak dari siswa kita sebenarnya yang 
ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri? Berapa persenkah 
dari lulusan sekolah publik kita yang benar-benar ingin dan mampu, 
baik secara finansial maupun intelektual, untuk melanjutkan studinya 
ke luar negeri? Jika Depdiknas tidak memiliki data statistik tentang 
hal ini mengapa tiba-tiba timbul kebijakan untuk mengubah sekolah-
sekolah kita menjadi SBI yang berkiblat pada Cambridge? Bukankah ini 
suatu pengorbanan yang sangat sia-sia yang bakal menelantarkan siswa-
siswa lain yang tidak akan melanjutkan pendidikannya ke luar negeri? 
Untuk apa kita mengerahkan seluruh energi dan kapasitas kita membawa 
siswa menuju ke sistem Cambridge,umpamanya, jika sebenarnya tujuan 
yang hendak dituju bukanlah kesana? Ini adalah contoh tujuan 
pendidikan yang sangat misleading.
Jelas sekali bahwa tidak mungkin sekolah harus mengikuti dua kiblat, 
yaitu UNAS dan Cambridge umpamanya, karena akan sangat menyulitkan 
bagi sekolah maupun murid untuk mengikuti dua kiblat tersebut. 
Beberapa sekolah National Plus yang selama ini memang dirancang 
untuk mengikuti dua kiblat tersebut mengakui bahwa sangat sulit bagi 
mereka untuk mengikuti dua kiblat tersebut sekaligus.

Sekian dulu. Silakan kalau ada yang mau mengomentari
Salam
Satria

--- In [email protected], qori hani <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
Yang paling membuat gelisah dan jengkel adalah kalimat-kalimat 
menjatuhkan dari pihak sekolah yang mengatakan bahwa uang yang 
dikeluarkan tidak sebanding dengan apa yang akan dihasilkan oleh 
program ini. Dan orangtua seharusnya mendukung upaya ini, karena 
tidak setiap anak mempunyai kesempatan untuk duduk dalam kelas SBI.



Kirim email ke