Oleh Maria Hartiningsih & Ninuk Mardiana Pambudy
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/02/persona/3810018.htm
====================

Perjalanan untuk tiba usia 80 tahun adalah perjalanan panjang dalam
hitungan waktu yang umum. Pada Saparinah Sadli, perjalanan itu sangat
penuh. Sejarah mencatat ketokohannya dalam berbagai peristiwa penting
bagi perjuangan keadilan untuk perempuan dan bagi kehidupan bersama
yang bebas dari segala bentuk kekerasan.

"Di tengah kita, Ibu Sadli adalah pembawa pelita. Kadang berjalan di
belakang untuk menerangi, kadang di depan untuk membuka jalan, kadang
di tengah untuk menghangatkan….

"Ketika ada yang terluka, Ibu menjadi tempat bersandar yang kokoh,
nyaman dan terpercaya, sambil kita mencari jalan untuk memulihkan
diri. Dalam keraguan, Ibu Sadli memberi ketegasan: sekali tidak, tetap
tidak. Jangan coba-coba mengubah hatinya!"

Potongan dari catatan Kamala Chandrakirana, Ketua Komisi Nasional Anti
Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), untuk Bu Sap—begitu
Saparinah disapa—yang belum sempat dikirim itu menyiratkan peran Bu
Sap bagi Kamala dan bagi aktivis gerakan perempuan di Indonesia.

Beberapa bagian dari perjalanan Bu Sap adalah perjalanan melawan
badai. Ia berada di depan pada saat-saat kritis bangsa ini. Dia adalah
tokoh yang bersama dengan sekelompok tokoh dan aktivis perempuan
menghadap Presiden Habibie untuk mendesak agar pemerintah mengakui dan
meminta maaf atas terjadinya pemerkosaan terhadap sejumlah perempuan
etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei tahun 1998.

Atas desakan itu, pemerintah akhirnya membentuk Tim Gabungan Pencari
Fakta untuk menyelidiki peristiwa kerusuhan Mei, kekerasan seksual
menjadi bagian yang integral.

Dan yang sangat penting bagi perjuangan perempuan Indonesia adalah
dibentuknya Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan sebagai
komisi nasional yang independen. Dia kemudian memimpinnya sampai paruh
pertama tahun 2004.

Kegigihannya menolak berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan dan
kelompok terpinggirkan adalah warisan yang harus dilanjutkan.

Ia terus memberi dorongan bagi kaum muda bertindak, seraya memuji
perjuangan keras dan berbahaya demi keadilan, pemberdayaan, dan
perbaikan kondisi perempuan yang dilakukan perempuan di akar rumput.
Seperti Aleta Ba'un dari Timor Barat dan Mutmainah Korona dari Palu,
penerima Penghargaan Saparinah Sadli tahun 2007.

"Mereka sungguh luar biasa," ujar Bu Sap.

Acara pemberian penghargaan yang diselenggarakan para sahabat tepat
pada hari ulang tahunnya tanggal 24 Agustus 2007 di Jakarta itu tidak
ia hadiri. Absennya Bu Sap berbeda dibandingkan dengan acara sama saat
Anugerah Saparinah Sadli pertama, tahun 2004, diberikan kepada Maria
Ulfah dari Fatayat NU.

Bu Sap hadir sebentar pada diskusi informal "Perempuan Pejuang
Menitipkan Pesan Bagaimana Mengisi Kemerdekaan" tanggal 28 Agustus
2007, untuk menghormati kemerdekaan RI dan ulang tahunnya ke-80.

Sudah lebih dari dua minggu ia menginap di rumah sakit, menunggui
suaminya, Prof Mohamad Sadli (85), yang belakangan tidak lagi
mengenali siapa pun yang datang, termasuk istrinya.

Ketika ditemui suatu siang pekan lalu, Bu Sap sedang membaca buku
pemberian Kamala, The Year of Magical Thinking karya Joan Didion.

Kebersamaan

Bu Sap bukan tipe yang sentimental, meski hampir tak bisa dimungkiri,
pikirannya tersita untuk kondisi kesehatan pasangan hidupnya itu.

Pasangan itu unik. Begitu banyak perbedaan yang mewarnai sikap dan
pandangan mereka. Misalnya, ketika Bank Dunia bersidang di satu negara
di Eropa untuk mengevaluasi penggunaan pinjaman di Indonesia, pasangan
itu berada di posisi berpunggungan. Bu Sap pada posisi kritis bersama
kelompok organisasi nonpemerintah, sementara Prof Sadli berada di
pihak pemerintah.

Kehidupan perkawinan mereka yang dimulai 26 April 1954 tampak seperti
yang digambarkan filsuf Lebanon, Kahlil Gibran, sebagai pasangan yang
makan bersama dengan dua piring di satu meja makan. Keduanya memiliki
konvensi sendiri-sendiri; juga tidak selalu runtang-runtung. Misalnya,
Pak Sadli baru tahu Bu Sap dicalonkan menjadi anggota Komisi Nasional
Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tahun 1990-an dari telepon teman,
tetapi keduanya saling menghormati perbedaan pandangan di antara mereka.

Itu, barangkali, yang membuat ikatan batin keduanya sangat kuat. Bagi
Bu Sap, Pak Sadli adalah pasangan dan sahabat jiwa, soulmate.

"Mula-mula sih flu biasa," jelas Bu Sap tentang kondisi kesehatan Pak
Sadli, yang rentan terhadap flu, tetapi sulit diajak berobat ke
dokter. "Kami masih makan di luar sebelum Pak Sadli masuk rumah
sakit," ia melanjutkan.

Semua upaya mengatasi penyakit Pak Sadli harus mempertimbangkan
kondisi ginjalnya yang sejak setahun lalu harus dirawat dengan
dialisis tanpa mesin dengan metode CAPD (Continuous Ambulatory
Peritoneal Dialysis), empat kali sehari. Di rumah, Bu Sap melakukannya
sendiri. Hanya sesekali saja dibantu pekerja rumah tangga.

"Banyak faktor kerentanan karena usianya sudah tua," kata Bu Sap.

Kesehatan usia lanjut adalah masalah rumit. Usia harapan hidup yang
meningkat, membawa persoalan besar terkait dengan populasi yang
bertambah, tetapi tidak diikuti fasilitas yang menunjang. "Media tidak
memberi cukup perhatian pada persoalan ini," ia melanjutkan.

Ia sendiri merasa bersyukur karena melewati usia 80 tahun dengan
kesehatan yang baik. "Sehat bagi usia lanjut merupakan faktor yang
sangat penting," tuturnya. "Yang terpenting bagi saya sekarang adalah
menjadi tetap sehat."

Bu Sap mengaku tidak menjalani check-up kesehatan secara rutin. Dalam
soal makan, ia tak ketat berpantang. Ia juga tidak terlalu rajin
olahraga; juga tidak minum jamu. Waktu usianya lebih muda ia suka
berkebun. Setiap hari ia bangun pagi untuk shalat. Setahun terakhir ia
ikut senam osteoporosis di Wisma Oktrooi Kemang, Jakarta Selatan.
"Setiap Sabtu jam 08.00. Saya paling tua di situ," katanya.

Kalau tidak ada yang dijaga secara khusus, bagaimana ia memiliki
energi yang sedemikian berlimpah?

Tahun 2002, ia masih menemui pejuang hak asasi perempuan, Mama Yosefa,
di Timika, Papua, yang membekaskan kesan sangat dalam. "Ketika melihat
tanah yang dieksplorasi Freeport menganga seperti kawah, Mama Yosefa
berteriak histeris, 'Mana Ibu saya…. Mana Ibu saya….' Bumi adalah Ibu
baginya," Bu Sap Mengenang. Ia berada di Aceh cukup lama setelah tsunami.

Sampai hari ini ia masih mengajar dan membimbing disertasi. Bahan
mengajarnya selalu diperbarui dan berkonteks, membuat ia harus rajin
membaca dan berdiskusi. Kegiatannya di luar masih banyak, dan ia
selalu siap kalau dibutuhkan, khususnya oleh Komnas Perempuan.

Bersama kaum muda

Mungkin ritme hidup seperti air mengalir itu resepnya. Akan tetapi,
ada yang lebih penting. "Saya bekerja dengan anak muda," katanya. Ini
mengingatkan pada ungkapan senada dari sastrawan, aktivis, dan feminis
Mesir, Nawal El Saadawi.

Hampir seluruh kegiatannya dilakukan dengan mereka yang usianya jauh
lebih muda; beberapa pernah menjadi muridnya. Penampilannya pun lebih
menyerupai para aktivis. Busananya selalu chic. Wajahnya selalu segar
dengan rias tipis. Ia suka perhiasan etnik, yang sering harus
direlakan bila diminta.

Di kalangan aktivis, Bu Sap dikenal sangat demokratis. "Saya sulit
untuk mengemukakan pendapat dengan jujur, kecuali dengan Bu Sap," ujar
Dr Kristi Purwandari, Ketua Program S-2 Studi Kajian Wanita
Universitas Indonesia, generasi ketiga yang memimpin program itu,
setelah dibidani dan dipimpin Bu Sap selama 10 tahun sejak program itu
dibuka, 17 tahun lalu.

Bu Sap menjadi "orang besar" karena mau mengakui keterbatasannya. "Dia
terbuka untuk menerima masukan," Kristi menyambung, "saya banyak
mendapatkan ide dari diskusi dengannya. Ia sosok yang selalu memberi
inspirasi pada kami."

Banyak orang kagum kepadanya. Seperti Ny Sinta Nuriyah Wahid yang
pernah menjadi muridnya di Kajian Wanita UI. "Beliau mendukung penuh
saat kami berjuang untuk perdamaian melalui Suara Perempuan untuk
Perdamaian tahun 1999," ujarnya.

Dukungan juga diberikan Bu Sap dengan menjadi staf ahli pada Puan Amal
Hayati, lembaga yang didirikan Sinta Nuriyah untuk melakukan kajian
Kitab Kuning dengan perspektif yang lebih adil untuk perempuan.

Saparinah berasal dari keluarga priayi Jawa yang ketat dengan tradisi,
tetapi memberi kebebasan kepada anak-anak perempuannya untuk memilih
sekolahnya.

Setelah lulus Sekolah Asisten Apoteker di Yogyakarta, ia sempat
bekerja di apotek di Yogya dan Jakarta, lalu tahun 1954 ikut tes di
Jurusan Psikometri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia—cikal
bakal Fakultas Psikologi UI—karena bosan bekerja di laboratorium.
"Saya buat obat, tetapi tak kenal yang mengonsumsi."

Setelah menikah pada tahun 1954 juga, dia mengikuti suaminya belajar
ke AS selama tiga tahun. "Ya belajar anatomi segala. Jadi, awalnya
memang sangat klinis. Tiga tahun di Amerika, kembali ke Jakarta, saya
kuliah lagi," ujarnya.

Saparinah muda kagum pada ketekunan Madame Curie, penemu radioaktif
dan penerima Nobel bidang fisika tahun 1903. Namun, Janet Hyde melalui
bukunya, Half of Human Experience, Psychology of Women tahun 1974,
adalah salah satu yang membawanya tiba pada point of no return bagi
perjuangan untuk hak-hak asasi perempuan. 

Kirim email ke