--- In [email protected], tjuk kasturi sukiadi 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
...... Bangsa Indonesia yang pernah mempunyai angkatan bersenjata 
salah satu yg terkuat di Asia pada awal dasawarsa 1960-an justru...


Kayaknya itulah yang menjadi pangkal sebab RI dikeroyok rame-rame 
oleh negara tetangga yang didukung penuh negara superpower. Ketika 
itu bangsa melayu takut sekali dengan orang Indonesia sampai 
merangkak mohon perlindungan dari tuan yang menganugerahkan 
kemerdekaannya. Seorang sobat Malaysia pernah cerita ketika sekolah 
di London tahun 60-an dia takut banget bila bertemu mahasiswa 
Indonesia disana. Dengan temannya saling mengingatkan, hati-2, itu 
orang Indonesia...

Setelah kejayaan AB berhasil dilumpuhkan berkat bantuan sahabat lokal 
para pengeroyok, maka program pelumpuhan permanen terus dilakukan 
sampai hasilnya kayak yang sekarang ini. Tidak kepalang tanggung, 
selain kekayaan alamnya dikuras habis, martabat SDMnya pun 
direndahkan. TKI yang nyaris setara budak dengan sadar disebar luas 
ke mancanegara. 

Info terakhir puluhan ribu anak TKI di Malaysia tidak diberi peluang 
pendidikan memadai disana. Artinya Malaysia sudah menyiapkan cadangan 
tenaga kerja bodoh murah setara budak asal Indonesia untuk kebutuhan 
puluhan tahun kedepan.

Kasus penganiayaan pemegang paspor RI di KL itu adalah fakta bahwa 
pihak sana memang sudah menganggap enteng bangsa ini. Kebetulan si 
korban adalah seorang duta olahraga. Bukan mustahil para TKI yang 
memang banyak disana sudah sering diperlakukan demikian; cuma nggak 
ada yang meliput.

Peristiwa ini sebetulnya suatu momentum untuk menjalin kembali 
semangat nasionalisme bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang besar 
dihormati diantara bangsa-bangsa. Ada kalanya diperlukan "musuh 
bersama" guna mengokohkan barisan bangsa. Era 1945 musuh bersama kita 
adalah si penjajah sampai pembebasan Irian Barat, terus ganyang M, 
Nekolim dan go to hell...; (lalu kalah dan malah terperangkap dalam 
hell...)

Sewaktu gegeran Timtim dulu juga ada momentum serupa ketika si 
kangguru terlalu campur tangan dan menghina, sayangnya masih sekedar 
bangsa ramah tamah yang mudah lupa dan sepertinya senang dilupakan.

Maksudnya bukan harus meniru gaya BK, tapi pakai cara yang 
cerdaslah...

JDP



Kirim email ke