Bang Agus benar, kadang yang awam (masyarakat kecil) jauh lebih "berani"
dibandingkan yang "the have" yang naik mobil pribadi.
Rasa aman memang sudah tumbuh, dan semoga saja damai dibumi, juga di
Indonesia.
Salam,
D.Budi Eman
[EMAIL PROTECTED]
www.lionsclubs307a.org
www.lcindo.org/307a/
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/02/metro/3809890.htm
====================
Sebuah bus Kopaja 88 meluncur dari perempatan Slipi ke arah Grogol,
Jakarta Barat. Ketika itu, 20 Agustus 2007, jarum jam sudah
menunjukkan sekitar pukul 23.00. Penumpang bus tinggal sekitar delapan
orang, enam di antaranya perempuan berpakaian trendi layaknya anak
muda sekarang.
Dua penumpang perempuan berusia 20-an tahun duduk di bangku dekat
pintu depan, empat lainnya duduk berpencar. Mereka terlihat santai
tanpa rasa takut meski sudah larut malam.
Salah satu penumpang perempuan yang duduk dekat pintu depan membuka
tasnya dan mengeluarkan telepon seluler (ponsel) yang mungil, lalu
melihat layar ponselnya seperti sedang membaca pesan singkat (SMS).
Setelah itu jari telunjuknya bergerak-gerak menekan tuts ponselnya,
seperti tengah membalas SMS yang ia terima.
Perempuan di kursi lain juga mengangkat ponsel dan berbicara dengan
lawan bicaranya di seberang sana. Ketika bus masih melaju kencang
dengan suara keras dari guncangan pintu dan bangku yang ditingkahi
suara mobil dari luar, perempuan yang duduk di samping Kompas juga
membuka tas dan mengeluarkan ponselnya, membaca pesan singkat, dan
membalasnya. Bahkan, ia sempat bertelepon dengan suara keras.
Pemandangan orang menggunakan ponsel juga terlihat di metromini dan
bus-bus lainnya, terutama bus transjakarta yang ber-AC.
Kebebasan penumpang angkutan umum untuk berponsel ria seperti itu
menunjukkan betapa rasa aman telah menyelimuti diri penumpang. Kasus
penodongan dalam bus yang pernah terjadi sepertinya terlupakan.
"Ngapain takut. Biasa-biasa saja. Tidak ada apa-apa," kata Ida
Siregar, penumpang Kopaja 88, yang baru pulang kerja. "Saya kerja di
Sogo Senayan. Setiap hari naik mobil ini," katanya singkat ketika
ditanya Kompas soal rasa takut terhadap penjahat yang mengincar siapa
saja.
Ida merasa santai dan aman pulang jam berapa saja. Apalagi, perempuan
kelahiran Medan ini bisa berbahasa Batak, yang banyak digunakan awak
angkutan umum yang berasal dari Sumatera Utara. Rasa canggung menjadi
cair ketika dia ikut nimbrung mengobrol dengan awak bus dalam bahasa
Batak. Yang tidak bisa berbahasa Batak juga tidak berarti tidak aman.
"Saya tidak pernah diganggu siapa-siapa. Paling kernet minta ongkos
dengan menyodorkan tangannya. Gitu saja," kata Yanti, asli Jakarta,
yang mengaku baru pulang dari bekerja di sebuah restoran Jepang di
kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.
Obrolan santai di atas kopaja terus berlangsung hingga Terminal Bus
Kalideres, Jakarta Barat, yang terkenal "seram" dan rawan kejahatan.
"Habis, habis. Hanya sampai Kalideres," teriak kernet yang secara
tidak langsung membangunkan sebagian penumpang yang tertidur.
Banyaknya penumpang angkutan umum yang dengan bebas menggunakan ponsel
belakangan ini membuktikan adanya pertumbuhan rasa aman pada
masyarakat kota Jakarta. Bisa jadi situasi keamanan kota kita sudah
berubah. Rasa aman sudah tumbuh. (nas)
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
[Non-text portions of this message have been removed]