Salam, Khusus mengenai pembayaran lunas dari hutang Indonesia kepada Belanda yang berhubungan dengan nasionalisasi perusahaan2 Belanda di Indonesia(Yang kemudian menjadi BUMN yang sebagian besar telah hancur), sejarawan LIPI Aswi Warman telah pernah menulis bahwa pembayaran sudah lunas. Tulisan itu sebagian besar saya kutib dalam artikel saya dalam suatu majalah yang terbit di Amerika. Namun karangan itu disangkal oleh bekas pejabat Belanda dari Kementerian Keuangan. Nama dan jabatan orang itu saya sudah lupa dan membutuhkan effort untuk mencari dalam arsif saya. Wasalam, Wal Suparmo
--- In [email protected], "dipo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > From: "gsuryana" <[EMAIL PROTECTED]> > : > > : Soekarno sadar akan hal tersebut, maka di awal pemerintahannya > : selain membenahi warisan Belanda yang di nasionalisasi, juga ... > > Selama berita lama di bawah ini belum jelas, saya kok ragu kalau > nasionalisasi itu berjalan sebagaimana mestinya - kesannya, di KMB > kita dipaksa membeli peninggalan Belanda. > > Ada yang bisa kasih petromaks? > SBY, mungkin? > > - > > >Selasa, 15 Agustus 2000 > > Ganti Rugi Indonesia untuk Belanda > > TIDAK banyak orang tahu, perbaikan dan pembangunan kembali Belanda > yang rusak setelah Perang Dunia (PD) II justru dibantu oleh bangsa > Indonesia. Ini semua ada kaitannya dengan persetujuan Konferensi Meja > Bundar (KMB), yang memutuskan sebagai imbalan penyerahan kedaulatan > kepada Indonesia, Belanda mendapat bayaran sejumlah 4,5 milyar gulden > dari pihak Indonesia. > > Lewat tulisannya di de Groene Amsterdammer Januari 2000 berjudul De > Indonesische Injectie (Sumbangan Indonesia), sejarawan Lambert Giebels > mengungkapkan, sebelumnya Belanda menuntut jumlah yang lebih banyak, > yakni 6,5 milyar gulden. > >
