Oleh Komaruddin Hidayat
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/03/humaniora/3779259.htm
====================

Perayaan 62 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia baru saja selesai kita
peringati, tetapi bangunan bangsa kian rapuh sehingga mengakibatkan
kemerosotan, terutama di dunia global. Sebabnya, lagi-lagi pendidikan
yang terbengkalai.

Padahal, di belahan dunia yang lebih maju, generasi muda bukan saja
semakin berperan, tetapi juga semakin kaya dan berkuasa. Sebut saja
Sergei Brin dan Larry Page, dua pemuda berumur 28 dan 30 tahun yang
mendirikan Google kurang dari sepuluh tahun yang lalu dan saat ini
berada di jajaran orang paling kaya di dunia.

Demikian juga dengan Tom Anderson dan Chris deWafe yang mendirikan
MySpace, situs social networking paling populer yang akhir tahun lalu
dibeli oleh Intermic Media senilai 580 juta dollar AS hanya dalam
waktu dua tahun sejak situs tersebut pertama kali diluncurkan.

Sebut lagi Steve Chen (28), Chad Hurley (29), dan Jawed Karim (28),
yang mendirikan Youtube, situs video networking dua tahun yang lalu.
Ketiga pemuda itu baru-baru ini menjual Youtube senilai 1,65 miliar
dollar AS atau sekitar Rp 10 triliun kepada pihak Google.

Fenomena ini harusnya membuka mata kita bahwa dunia dan kehidupan
tidak lagi berjalan, tumbuh, dan berkembang secara tradisional. Setiap
hari harus ada inovasi baru yang diperkenalkan dan diterapkan yang
pada akhirnya mengubah cara dan gaya hidup secara drastis.

Agar kita bisa ikut tumbuh dan berkembang secara optimal, seorang
manusia apalagi suatu bangsa membutuhkan kemauan dan kemampuan
adaptasi yang tidak saja baik, tetapi juga kompetitif.

Budaya yang kuat

Bangsa yang maju memiliki budaya yang kuat atau bahkan ekspansif
karena mampu menularkan budayanya kepada bangsa lain. Dengan kata
lain, tanpa budaya yang kuat, suatu bangsa bisa jadi hilang ditelan,
dipengaruhi, dikuasai, atau bahkan ditinggalkan oleh peradaban yang
lebih besar dan lebih kuat.

Dalam rangka perayaan 62 tahun kemerdekaan Indonesia dari belenggu
penjajahan, mari kita bertanya, budaya Indonesia yang mana yang kita
miliki dan perlu kita kembangkan untuk meningkatkan peran dan
kontribusi Indonesia di peradaban Asia atau bahkan dunia saat ini?
Susah menjawabnya.

Mengapa karakter kebangsaan Indonesia semakin luntur atau setidaknya
'kabur' sampai kita sendiri susah untuk mengenalinya?

Itu tidak lain karena sistem pendidikan di Indonesia tidak dikemas dan
ditujukan untuk membangun suatu karakter budaya yang kuat. Sistem
pendidikan nasional masih berorientasi pada pembangunan fisik, bukan
pembangunan jiwa dan karakter kebangsaan.

Akibatnya, dana pendidikan belum dapat mengikuti amanah UUD 45 yang
seyogianya mencapai 20 persen dari keseluruhan anggaran pembangunan
nasional. Namun, demi kepentingan masa depan anak cucu bangsa dalam 30
tahun ke depan, Indonesia butuh solusi, yang pragmatis, kreatif, dan
segera.

Pragmatis dalam arti solusi tersebut harus betul-betul mengatasi
masalah pembiayaan yang dibutuhkan sektor pendidikan nasional.

Kreatif dalam arti solusi tersebut tidak boleh lagi-lagi membebani
keuangan negara yang sudah hampir lumpuh dibebani utang.

Segera dalam arti solusi tersebut ada di sekitar kita dan dapat segera
diciptakan, diterapkan, dan disempurnakan terus- menerus.

Melibatkan pihak swasta

Caranya adalah dengan melibatkan dan mengarahkan pihak swasta.
Perusahaan swasta, terutama multinasional, memiliki kemampuan dan
kepentingan untuk membiayai peningkatan kualitas pendidikan anak
bangsa. Selain itu, swasta justru lebih peka dan lebih cepat bertindak
dibandingkan dengan pemerintah dalam hal mengenali dan mengatasi
permasalahan sosial di sekitar wilayah usahanya.

Terakhir, perusahaan swasta, baik lokal maupun multinasional, memiliki
pengaruh profesionalisme, konsistensi, dan semangat bersaing yang
sangat penting untuk ditularkan terhadap insan pendidikan di seluruh
Tanah Air.

Contohnya adalah kegiatan "Berbagi 1.000 Kebaikan" yang diadakan oleh
PT Unilever Indonesia (ULI) melalui merek es krim Walls yang akan
menyumbangkan Rp 1.000 dari setiap kotak es krim Viennetta Kurma dan
varian lainnya terjual. Dana yang terkumpul dari konsumen Vienneta
Kurma akan disumbangkan kepada anak-anak putus sekolah melalui Dompet
Dhuafa.

Unilever Indonesia, sebagai salah satu perusahaan multinasional
terbesar, justru memilih cara yang sangat lokal untuk tetap memimpin
di pasar global, yaitu dengan memilih kebutuhan lokal untuk dipenuhi
dengan cara lokal pula.

Kegiatan sosial yang telah dilakukan oleh Vienetta Kurma layak untuk
dicontoh. Akan lebih baik lagi bila banyak perusahaan yang memiliki
kepedulian yang sama sehingga dapat berbagi 1.000 kebaikan bagi
pendidikan.

Sementara itu, bila Walls fokus kepada perkembangan dan pertumbuhan
anak-anak dalam pendidikan, barangkali dapat menjadi inspirasi bagi
perusahaan lain untuk memikirkan guru-guru sebagai orang yang memiliki
peran penting dalam mendidik generasi kita di masa mendatang.

Guru juga perlu untuk diberikan pendidikan dan pelatihan agar mereka
dapat meningkatkan kualitas dan motivasi mereka dalam mengajar.

Hal ini penting karena nasib guru di Indonesia sangat menyedihkan,
baik dari segi pendapatan maupun pelatihan. Akibatnya, banyak guru
yang merasa minder dan tidak memiliki kepercayaan diri yang positif
ketika menghadapi anak muridnya, terutama yang datang dari kalangan
menengah atas.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan nasional tidak pernah berfungsi
seperti filosofi "busur panah" yang diperkenalkan Kahlil Gibran.
Artinya, sistem pendidikan seharusnya bisa menjadi busur yang membuat
setiap anak panah melesat sejauh-jauhnya dan sedalam-dalamnya ke
jantung tujuan.

Ke depan, kepedulian dan komitmen terhadap peningkatan kualitas sistem
pendidikan nasional harus menjadi ukuran keberhasilan dari setiap
elemen masyarakat, baik tokoh agama, bisnis, politik, sosial, maupun
pemerintahan.

Selain itu, perusahaan lokal dan multinasional yang memang menunjukkan
komitmen nyata, pragmatis, dan solution-oriented terhadap masalah
pendidikan harus diberi beragam insentif.

Suka atau tidak, pengertian kompetisi semakin bergeser ke arah
penciptaan, perlindungan, dan penerapan kemampuan intelektual atau
human capital di seluruh dunia. Siapkah Indonesia untuk itu?

Jawabannya adalah, pemerintah bersama pihak swasta harus bersama-sama
memprioritaskan pendidikan... pendidikan... pendidikan.

Komaruddin Hidayat Rektor Universitas Islam Negeri, Syarif
Hidayatullah Jakarta



Kirim email ke