Sutiyoso sudah mulai pasang ancang-ancang lho, Pak. Kemaren saya lihat di Gramedia sudah dijual coffee table book (= buku besar mewah penuh gambar) mengenai kesuksesannya memimpin Jakarta.
Beberapa gagasan Sutiyoso seperti Busway, Taman Monas, dan Taman Menteng memang patut diacungi jempol. Sabtu sore yang lalu saya main ke Monas dan mengagumi bagaimana masyarakat Jakarta menggunakan ruang terbuka Monas yang indah itu untuk piknik, pacaran, main roller blade, main futsal. Rasanya seperti menyaksikan taman-taman di luar negeri. Berbeda dengan sebelumnya ketika Lapangan Monas dijadikan lapangan parkir merangkap pasar kaki lima merangkap kawasan pelacuran. Tapi Sutiyoso mungkin tidak akan terlalu populer di kalangan kawasan kumuh DKI karena namanya identik dengan penggusuran. Begitu juga kalau nantinya dia dijadikan tertuduh dalam kasus Balibo, wah bisa rame. Capres RI masuk dalam poster "Wanted" di Australia. Rame juga nanti mendengar tanggapan UPC atau Wardah Hafidz, sang "musuh bebuyutan" kalau Sutiyoso nyalon jadi RI-1.. hehehe. Andi --- In [email protected], "Putra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau saya jadi Jusuf Kalla, maka tidak perlu tahun 2009 mencalonkan > diri jadi presiden. Cukup melanjutkan dengan duet SBY-JK. > > Karena dengan yang posisi yg sekarang saja JK sudah bisa mengontrol > kebijakan pemerintah dengan pengaruh yang sangat kuat. Untuk apa dia > mengorbankan posisi yg sudah sangat comfort ini. Kalau mau nyalonin > capres barulah di tahun 2014, karena kalau misalkan duet SBY-JK > terpilih lagi di 2009, maka JK berpeluang berkuasa di negeri ini > hampir 15 tahun (kalau skenarionya 2014 dia capres dan terpilih jd > presiden). > > Itu seandainya saya jadi JK. > > Kalau untuk Megawati, sebaiknya PDIP sadar bahwa Bu Mega sulit > mencapai kemenangan di pilpres 2009. Karena masyarakat sudah punya > perbandingan nilainya dengan SBY. Kalau dari pandangan saya sendiri, > sejelek2nya SBY dan Mega, performance SBY masih lebih baik dari Mega. > Jadi sebaiknya PDIP mencalonkan orang lain saja, mungkin Megawati > diposisikan sebagai penasihat senior seperti Lee Kuan Yew apabila > capres PDIP menang dalam capres 2009. > > Dengar2 Akbar Tanjung berniat mencalonkan diri jadi presiden? Ah, > lupakanlah Pak. > > Bagaimana dengan Sutiyoso? Ini seharusnya calon yang diajukan PDIP. > > Salam, > > *lagi iseng2 dan berandai2... > p > > > --- In [email protected], "Agus Hamonangan" > <agushamonangan@> wrote: > > > > Pasangan Jangan Kompetitor > > http://www.kompas.co.id/kompas- cetak/0709/01/Politikhukum/3802349.htm > > ======================= > > > > Jakarta, Kompas - Dalam kondisi biasa, belum tentu ada kemauan dari > > Megawati Soekarnoputri untuk maju dalam Pemilihan Presiden-Wakil > > Presiden 2009 nanti. Barulah jika ada kepentingan nasional yang > > strategis, kesempatan maju dalam pencalonan itu akan dipertimbangkan > > Megawati. > > > > Pernyataan itu disampaikan Wakil Sekjen Partai Demokrasi Indonesia > > Perjuangan (PDI-P) Sutradara Gintings dalam diskusi "Dialektika > > Demokrasi" di ruang wartawan Gedung MPR/DPR, Jumat (31/8) siang. > > Pembicara lain adalah Ketua Partai Golkar Priyo Budi Santoso, anggota > > Dewan Pakar Partai Demokrat Sutan Bhatoegana, dan pengajar Universitas > > Indonesia Prof Maswadi Rauf. > > > > Sutradara merujuk pengalaman Megawati yang pernah menduduki berbagai > > jabatan politis, termasuk pernah menjadi wanita pertama yang menjadi > > Presiden Indonesia. Karena itu, dalam kondisi yang biasa saja, belum > > tentu Megawati bersedia maju. Sutradara menampik jika pernyataannya > > itu disebut sebagai bentuk kekhawatiran PDI-P. > > > > Faktanya, menurut dia, PDI-P memperoleh sekitar 20 persen suara pada > > Pemilu 2004 dan kini diuntungkan dengan posisinya sebagai partai > oposisi. > > > > Sutradara menyebutkan, pada Januari 2008 nanti Megawati mestinya sudah > > menentukan sikap, setelah pada rapat kerja nasional Januari lalu > > pengurus daerah dan kelompok masyarakat mengusulkan Megawati maju lagi > > dalam Pemilu Presiden 2009. > > > > Bukan kompetitor > > > > Menurut Sutradara, efektivitas pemerintahan bisa dicapai lewat > > dukungan yang cukup di parlemen, kemampuan mengendalikan birokrasi, > > dan juga kemampuan mengendalikan pemerintah daerah. Dalam merangkaikan > > pasangan calon, perlu dipertimbangkan kebutuhan koalisi permanen, > > tidak menjadi kompetitor, dan punya basis politik. > > > > Maswadi Rauf sependapat jika calon presiden-wapres diumumkan jauh > > sebelum Pemilu 2009 untuk membantu rakyat pemilih bisa fokus menilai > > seluruh calon. Idealnya, sekitar 1,5 tahun pasangan calon sudah > > diketahui. Untuk menciptakan pemerintahan yang efektif, sudah > > semestinya calon presiden dan wakilnya berkoalisi sejak lama. Dukungan > > calon dan wakilnya harus diikat dalam koalisi permanen, sedikitnya > > untuk waktu lima tahun, dan wakil pun tidak boleh menjadi kompetitor > > presiden. > > > > Priyo menyebutkan, masih terdapat beragam kemungkinan sikap Partai > > Golkar pada Pemilu 2009. Tidak mudah bagi Partai Golkar membicarakan > > soal calon presiden saat ini. Pilihannya bisa mengajukan calon > > presiden sendiri atau melanjutkan duet Yudhoyono-Jusuf Kalla. > > > > Jika Partai Golkar tampil sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2009, > > tentunya pilihan untuk mempertahankan duet ini akan dibicarakan kembali. > > > > Sutan menilai, masih terlalu dini membicarakan calon presiden. Yang > > terpenting sekarang adalah bagaimana duet Yudhoyono-Kalla bisa > > membangun relasi dan berkinerja bagus. (DIK) >
