Kawan-kawan yth,

Mohon diluruskan pengertian "merengek". Dalam kalimat ini mengisyaratkan
bahwa PLTN itu merupakan ambisi BATAN sebagai individu. Padahal BATAN
secara peraturan yang ada memang mempunyai tugas dan fungsi untuk
memberikan masukkan kepada bangsa Indonesia tentang bidang nuklir. Jadi
the best information available yang diperoleh BATAN mengisyaratkan bahwa
Indonesia memerlukan PLTN di suatu waktu, seperti halnya di suatu waktu
semua saudara kita diseluruh pelosok tanah air memerlukan listrik.

Markal memang perlu di-update dengan memasukkan asumsi dan angka-angka
baru. Yang perlu dipelototin adalah apakah asumsi-2 dan angka-2 yang
dibuat dan digunakan benar adanya. Lainnya perlu dipelototin lagi adalah
kompetensi orang yang akan menjalankan PLTN di samping proses pengadaannya
agar tidak dimarkup maupun di kutil. Dengan demikian masalah ambisi
pribadi dan masalah pengutilan tidak menyeruak kepermukaan dan membelokkan
esensi pendirian PLTN.

Salam hangat.

Sadjuga



> Pak KK dan rekans FPK,
>
> Proyek PLTN memang proyek lama tahun 1970-1980an yang awalnya dianjurkan
> IAEA untuk recycling petrodollar Indonesia.Tapi ternyata boom minyak
> pendek
> umurnya, sebab itu impian beberapa orang BATAN yang kemudian mau menjadi
> direktur PLTN jadi tenggelam.
>
> Waktu Indonesia mau jadi macan kecil tahun 11990an orang2 BATAN merengek
> minta PLTN, sebab itu dipesan studi MARKAL di KfA Juelich-Jerman, paralel
> dengan itu disiapkan UU dan didirikan BAPETEN. Tetapi ternyata hasil
> skenario MARKAL menunjukkan bahwa  PLTN tidak akan mampu bersaing dengan
> PLTU (dalam aktualisasi kira2 tahun lalu, dikatakan baru 2015 mampu
> bersaing, dengan syarat diskon 10%). Itulah alasan kenapa BATAN ingin
> memiliki PLTN 2016 dan empat biji PLTN, bukan hanya satu. Bisa jadi
> sekarang
> kita titik beratnya justru di segi ekonomi, sebab alasan yang dipakai
> ekonomi. Kita perlu orang yang ngerti urusan discount rate. ternyata
> BATAN/BPPT sekarang pakai 10%. Korea bisa jadi 5% - ini mungkin bohong.
>
> Dalam studi MARKAL, masukan Indonesia dicor kedalam suatu analisa sistem
> dan
> keluarnya adalah suatu program komputer diberi nama Market Analyse
> (analisa
> pasar) dan disingkat MARKAL. Dalam program ini bisa diisi varibel input,
> output keadaan pasar dll. Yang keluar adalah diagram 3 dimensi energie mix
> Indonesia seperti yang ditolerir oleh pasar Indonesia. Kita bisa minta
> supaya studi MARKAL diperluas. Dulu cuma batubara yang intensif diselidiki
> sebagai pengganti pltdisel dan minyak. Bisa jadi sekarang kita titik
> beratnya justru disegi ekonomi, sebab alasan yang dipakai ekonomi.
> Alternativ
> yang lain seperti geothermal, tenaga air, angin dan sampah hijau kurang
> dibahas oleh MARKAL kaena tahun 1990an energi alternatif memang kurang
> populer. Setahu saya sebagian sektor2 itu sudah ada MARKAL-nya di BPPT,
> tetapi ngga ada yang kenal.
>
>
> Ohya, konon calon PLTN di Muria adalah jenis OPR 1000 dari Korsel. Didalam
> review Westinghouse sebetulnya diperinci lebih detail mengenai harga
> produksi berdasarkan syarat2 setempat yang ada. Kalau lihat disitu saya
> ragu
> ongkos bangun di Muria bisa lebih murah dari Jepang yang mencapai
> $3000/kWh.
> Kalau pakai standard BPPT dimana diskon 10%, maka jelas tidak feasible.
> Kalau dilihat di file2 KHNP dan Doosan maka ada OPR1000, OPR1000+ dan APR
> 1400. Ahli2 security tidak percaya bahwa perbedaan antara sistem2 ini
> signifikan. Saya juga curiga jangan2 perbedaannya dalam perampingan teknis
> sehingga APR1400 lebih murh dari OPR1000. Dari Korea sendiri saya belum
> lihat analisa security.

Kirim email ke