Dear all Saya prihatin dengar Indonesia negaraku tercinta mau bangun PLTN.......Aku pernah menonton Channel TV Aljazera dimana terjadi perdebatan mengenai rencana pembangunan PLTN diIndonesia.
Diskusi mengenai ini dihadiri juga oleh pakar nuklir indonesia yang gagasan dan explanationnya didukung oleh pakar nuklir malaysia, Mereka berdebat dengan seorang Doctor ahli penyakit pengaruh akibat radiasi nuklir (Dia seorang wanita dan asal dari USA). Doctor ini menjelaskan kalau PEMBANGKIT NUKLIR ITU SANGAT MERUGIKAN UNTUK PERHITUNGAN JANGKA PANJANG KARENA ONGKOS PENGOBATAN DAN PENANGANAN LIMBAHNYA AKAN TERUS MENERUS KARENA TIDAK DAPAT DIMUSNAKAN. Technology pengolahan limbah yang canggih hanya di amerika. Kalau kita mengirim limbah 1 drum maka akan diolah dan dikembalikan keindonesia 2 drum yang terdiri dari 1 drum sudah bersih sedangkan yang satu lagi masih sampah nuklir juga yg tetap tidak boleh dibuang kealam bebas. Dia juga khawatir karena Indonesia merupakan dari subduction zone atau daerah yang mempunyai aktivitas gempa tectonic yang tinggi........jadi dia tidak setuju......kasihan makin terpojok kita bangsa Indonesia kalau membangun reactor nuclir...banyak masalah.....HENTIKANLAH KARENA SAMPAH NUKLIR TIDAK DAPAT DIMUSNAKAN DGN TEKNOLOGI CANGGIH APAPUN. ok...Hidup Maju Terus Indonesiaku Leo --- James Wiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Sadjug yg ganteng, > yg dikoreksi cuman Cbat 80ya Pak? Jadi yg lain > memang benar? :-) Wah, > wartawan dapat bahan berita menarik lagi nih. Asik > donks > > > Yang diacu oleh Dr. Muhamad Nur ini kasus > penyimpanan limbah dimana? Di > Indonesia tidak ada fasilitas pengolahan limbah > seperti itu. Pensiunan > Bapeten, mantan inspektur pengawas limbah radioaktif > pernah bilang, sampai > > sekarang, limbah radioaktif tidak jelas > penanganannya, termasuk yang > dihasilkan dari rumah sakit. Salah satunya misalnya > sumber gamma (cobalt 80, > ralat dari Pak Sadjuga jadi Cobalt 60) yang tidak > di-treat sesuai prosedur. > > Pak Sadjuga, kami menanti informasi soal pintu di > BATAN yg pernah > disampaikan Pak Puput. Apakah sudah ada hasilnya? > Katanya kita belajar > transparansi Pak -)
