Mas Iwan yth,

Sayangnya saya tidak dalam posisi dapat memutuskan penghentian eksport BB
Fosil. Saya sangat setuju. Bahkan segala macam bahan baku tidak boleh
diexport dalam keadaan mentah. Mestinya export bahan sepertiga, setengah
atau 3/4 jadi.

Klo import jangan hanya barangnya saja tapi juga teknologinya. Untuk bisa
menguasai teknologi diperlukan SDM yang cukup banyak. Tidak cukup model
elitisme. Kuncinya: education, education, education...... untuk semua
lapisan masyarakat.

Salam hangat,

sadjuga

> Kawan kawan Pro PLTN,
>
>
> Saya melihat argumen mendukung PLTN kurang fundamental dilihat dari sisi
> kepentingan Indonesia. Hanya memakai acuan, Negara lain yang kebutuhannya
> sangat berbeda dengan Indonesia. Saya akan coba membuka diskusi lebih
> rasional untuk menolak atau menerima PLTN.
>
> Saya akan mendukung pembangunan PLTN di Indonesia dengan dua syarat saja
> dahulu lainnya menyusul. Pertama, Pemerintah menghentikan penjualan
> sumber
> energi batubara dan gas alam. Kedua PLTN dibeli dengan cara desain,
> bangun,
> operasi dilakukan bersama antara ahli reactor Indonesia dan Vendor PLTN.
> Walaupun memerlukan waktu lama tapi Indonesia akan menguasai segala aspek
> tentang PLTN, mungkin perlu waktu 10 sampai dengan 15 tahun tidak ada
> masalah. Bila Dua syarat ini  tidak dipenuhi pendukung PLTN atau
> pemerintah
> berarti tidak memikirkan kepentingan rakyat banyak tetapi hanya memikirkan
> kepentingan proyek saja. Berarti mari kita tolak PLTN karena alasannya
> tidak
> jelas.
>
> Perancis, Korea dan Jepang adalah Negara yang sumber energinya sangat
> terbatas tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia. Amerika memiliki semua
> jenis sumber energi, amerika mengimpor dengan cara halus maupun kekerasan
> seluruh sumber energi yang ada didunia. Sumber energi sendiri untuk
> kepentingan anak cucu supaya energi tidak dihabiskan saat ini saja.
> Bagaimana Pemerintah Indonesia mewariskan energi kepada  anak cucu, ya
> gimana nanti. Anak Cucuc mendapat warisan energi beresiko, ngotot dengan
> PLTN.
>
>
> Salam,
> Iwan Kurniawan

Kirim email ke