Peneliti nuklir sama seperti kita juga, mereka perlu spirit dan dukungan, juga alasan kuat untuk melakukan pekerjaannya.
Kalau belum-belum tujuan penelitian membuat PLTN sudah diputuskan haram, ada 4 kemungkinan yg akan dilakukan oleh peneliti PLTN: - nekad meneliti PLTN krn jiwanya memang teguh, suka tantangan dan tdk terpengaruh halal-haramnya NU. - pindah ke luar negeri dan meneruskan meneliti PLTN, krn di Indonesia sudah kurang spirit dg gaji yg kecil. Bulan Sept 2007, Batan kehilangan lagi 1 peneliti PLTN, pindah ke perusahaan pembuat PLTN, mistubishi. - pindah profesi lain krn lingkungan yg sudah tdk kondusif, misalnya jadi penjual es krim atau apa saja asal halal. - bergabung dengan grup anti-PLTN, no comment, orang lain lebih tahu tipe peneliti spt ini, yg pasti sudah pantas hrs keluar dari Batan. - apa ada kemungkinan lainnya ? Muhammad Subekti --- In [email protected], "Putra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau saya bilang, banyaknya penolakan nuklir tidak boleh dijadikan > alasan bahwa kita harus me-ruled out semua kajian, penelitian, ataupun > pengembangan teknologi kenukliran termasuk nuklir untuk energi. > > Bahwasanya nuklir untuk energi masih tinggi kadar bahayanya, justru > disitulah tantangan bagi negeri ini yang kaya akan ilmuwan2 untuk > mengembangkan energi nuklir yang lebih baik, lebih aman, lebih layak, > dan lebih bermanfaat. Bukankah tugas ilmuwan yang bersangkutan untuk > menciptakan teknologi yang lebih baik untuk umat manusia? Seperti > slogan Toyota "Keep moving forward". > > Jadi ketimbang mendebat perlukan PLTN atau tidak, kenapa gak mulai > sekarang pemerintah mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang > terutama pada masyarakat yang berpengaruh besar dan berkompeten untuk > menentukan: MAU KEMANA ARAH PENGEMBANGAN NUKLIR DI INDONESIA? > > Jadi nanti ada ketetapan bersama yang nantinya harus dipatuhi: Apakah > mau mengembangkan nuklir hanya untuk kesehatan saja, atau hanya untuk > pertanian saja, atau mengembangkan nuklir untuk semua aspek termasuk > energi (kecuali senjata). > > Misal dari suatu musyawarah pemerintah bersama para pakar, ilmuwan, > wakil masyarakat, alim ulama, sastrawan, budayawan, wartawan, dll, > telah SEPAKAT menetapkan arah pengembangan nuklir di Indonesia akan > digunakan dan dikembangkan untuk kesehatan, energi, pertanian, > bioteknologi, rekayasa sains, dsb. > > Misal dalam hal kesehatan, apa saja yang perlu dikembangkan? Perangkat > apa saja yang cocok diterapkan dan dikembangkan di Indonesia? Apa yang > bisa dijual teknologi buatan negeri ke manca negara? Apa saja yang > diperlukan untuk mendukung semua ini? > > Begitu juga dalam hal energi, apa saja yang perlu dikembangkan? > Perangkat pengayaan uraniumnya, bagaimana penelitian, perkembangan, > dan penerapannya? Bagaimana menyiapkan manajemen resikonya? > Infrastrukturnya? Dan lain hal, agar dapat bangsa kita dapat > menciptakan dan menikmati energi nuklir yang aman, layak, murah, dan > bermanfaat. > > Dan aspek2 lainnya, dijabarkan secara detail, apa yang perlu > dipersiapkan dan arahan penelitian dan pengembangannya, serta > implementasinya. Bagaimana nantinya ketetapan ini menjadi pedoman > bersama pemerintah dan rakyatnya dalam pengembangan nuklir. > > Meributkan perlu PLTN atau tidak, tidak akan ada habisnya. Ini seperti > dua kutub yang bertolak belakang. Ketimbang mempertemukan sesuatu yang > sulit atau tidak akan bisa bertemu, kenapa tidak memulai bermusyawarah > dan menetapkan MAU DIBAWA KEMANA NIH ARAH PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN > NUKLIR DI INDONESIA? > > Sehingga penelitian dan pengembangan yang dilakukan selama ini oleh > ilmuwan2 tidak sia-sia atau hanya menjadi sejarah, ataupun arsip > belaka. Melainkan apa yang telah ilmuwan teliti dan kembangkan dapat > juga dinikmati manfaatnya untuk bangsa ini. > > Atau pilihan terakhir Indonesia cukup menjadi penonton dunia saja > dalam penelitian dan pengembangan teknologi nuklir. > > p
