GELAR

Oleh : Anton

Beberapa tahun yang lalu Helmi Yahya sebagai pemandu acara 
kuis `Siapa Berani' menanyakan pada rombongan yang merupakan para 
Sarjana Ekonomi salah satu Universitas di Jakarta. Helmi Yahya 
menanyakan "Apa arti Equilibrium?" satu orangpun dari mereka tidak 
bisa menjawab ketika ditanya lagi oleh Helmi "Anda benar semua 
sarjana?" tanya Helmi Yahya dengan wajah heran, semuanya mengangguk 
senang dan bersorak-sorak tapi tidak tahu Equilibrium, Helim Yahya 
hanya menggeleng kepala sambil mulutnya tersenyum kecut. Helmi yang 
pintar dan lulusan STAN itu mungkin lupa di Indonesia pendidikan dan 
gelar merupakan suatu yang beda, gelar harus dimaknai sebagai gelar, 
sebagai bagian proses adaptasi bermasyarakat dan penyandangnya tidak 
harus dituntut melalui proses pendidikan yang berat untuk menyandang 
gelar itu. `Kamu punya uang maka kamu bergelar'

Gelar bagi masyarakat kita merupakan bagian dari `nama yang hidup' 
dan bahkan dianggap merupakan fase kehidupan sehingga apapun yang 
dinilai memiliki arti dan mengesankan bagi masyarakat kita, maka 
gelar yang jauh dari konteks prestasinya diberikan. Disinilah nama 
menjadi bagian yang berbunyi bagi masyarakat Indonesia tidak seperti 
orang barat yang tidak mementingkan nama tapi perbuatan, makanya di 
barat nama tidak indah dan itu-itu saja sementara di Indonesia nama 
menjadi suatu yang bunyi bahkan lebih berbunyi dari tindakan. 

Bagi saya pribadi suku yang punya nama aneh namun kaya adalah 
Minangkabau. Disana bermacam-macam nama bisa digelar dan kata teman 
saya "Orang Padang  namanya aneh-aneh" misalnya : Man Robert, 
Vittorio Hasan, Geovanni Maerosso, Musso Benum, Alon  dan nama-nama 
yang tidak memiliki konteks asal-usulnya.  Kita tidak bicara 
masyarakat Padang (Padang, adalah sebutan cepat untuk orang Minang) 
jaman sekarang yang memang saat ini nama orang Indonesia semangkin 
aneh-aneh dan tidak berkonteks. Tapi masyarakat Padang jaman dulu. 
Mereka memiliki kekayaan nama mungkin karena mereka adalah 
masyarakat yang suka merantau dan banyak berolah pikir juga terbiasa 
dengan kebudayaan luar. Pemikir-pemikir besar Indonesia yang 
memiliki daya jangkau luas biasanya orang Minang sebut saja : Tan 
Malaka, Hatta, Sutan Sjahrir, Hamka, Mochtar Lubis (walaupun dia 
Tapanuli Selatan tapi pengaruh Minangnya kuat), Poerwadarminta, 
Chairil Anwar, Deliar Noer, Rosihan Anwar,  Djamalludin Adinegoro 
(lebih berkembang di Medan tapi asli Minang) atau kakaknya Moh. 
Yamin si Tukang Tambo yang tergila-gila budaya kuno Jawa. Orang 
Minang jaman dulu memang si Gilo-Gilo Baso mereka banyak membentuk 
Ke-Indonesiaan masa depan namun mencermati nama-nama di Minang 
adalah mencermati gelar. Di Minang nama berarti gelar dan setiap 
orang tanpa memperhatikan strata sosialnya bisa menyandang gelar 
yang direstui melalui sidang ninik mamak, disinilah nama, status dan 
embel-embel harapan  menjadi egaliter. Namun se-egaliter apapun 
pemberian gelar adalah kerinduan bawah sadar untuk menjadikan diri 
mereka berbeda dengan yang lain.

Islam sendiri adalah agama paling egaliter, tidak mengenal sistem 
kependetaan. Hukum-hukum ibadah diletakkan pada disiplin 
kemasyarakatan yang paling egaliter. Bahkan untuk menghindari kelas 
dan pembentukan sistem masyarakat yang mengkultuskan individu sejak 
awal mula Nabi Muhammad menolak menjadi Raja dan menolak di 
patungkan atau dilukis. Dan memang tidak ada sistem kependetaan 
dalam Islam, lalu kenapa di Indonesia dan Malaysia marak gelar Haji 
dan seakan-akan haji itu merupakan sebuah kelas sendiri dalam sistem 
masyarakat Indonesia? Adalah Belanda yang sangat mengenal pola pikir 
bangsa ini dari awal mulanya. Sebelum Belanda datang sebutan Haji 
tidak ada (mana ada Kyai Haji Syaikh Siti Jenar, atau Sunan Haji 
Kalijogo) tapi setelah Belanda datang barulah di kenal nama Haji 
dalam susunan masyarakat untuk mempertegas kelas-kelas sosial di 
masyarakat pada gilirannya kaum Haji inilah yang kemudian menjadi 
kelas penyangga dalam sistem kolonial di Indonesia. Namun dampak 
dari sistem kelas penyangga ini ternyata tidak hanya sampai disini, 
kadang-kadang gelar Haji adalah sebuah bentuk eliminir untuk 
menghilangkan rasa inferior compleks bila tidak bisa menyelesaikan 
gelar pendidikan, misalnya Haji Harmoko (penekanan Haji ini untuk 
mengeliminir pertanyaan kenapa tidak ada gelar seperti Insinyur 
Akbar Tandjung). Jadi dalam masyarakat modern Indonesia di tahun-
tahun gila gelar pada era Orde Baru gelar Haji menjadi semangkin 
berbunyi. Proses seleksi Haji jaman dulu sangat rumit hanya orang 
kaya dan mampu-lah yang bisa naik haji, bahkan dulu ada 
istilah `Haji Singapur' untuk meledek kaum yang tidak berpunya tapi 
nekat mau naik haji namun hanya terdampar di Singapura karena 
kekurangan uang atau bekerja jadi awak kapal. Seleksi rumit biasanya 
diikuti menjadi pemisahan kelas, nah kelas-kelas yang terpisah 
inilah kemudian memperkuat makna bunyi Haji dalam susunan sosial 
masyarakat sehingga bisa menjadi mobilitas kelas di masyarakat. 
Disini kaum Haji memiliki wilayah kewenangannya sendiri, selain 
dipandang sebagai kaum kaya mereka juga dianggap sebagai kaum 
berilmu lebih. Imaji ini kemudian merasuk ke dalam masyarakat awam 
dimana makna Haji tidak lagi sepenuhnya diyakini sebagai Perintah 
Nabi untuk terus memegang benang sejarah dengan berziarah ke Mekkah 
tapi juga diikuti pemaknaan bahwa Haji adalah sebuah proses 
mobilitas sosial sehingga apapun dikorbankan untuk menjadi Haji. 
Bahkan jual tanah untuk naik haji sampai 20 kali.

Di jaman dunia yang semangkin mengglobal ini makna nama Haji tidak 
lagi bergema, karena `tukang buah-pun bisa jadi Haji' atau `TKW-pun 
sudah menyandang nama Hajjah' maka Haji dalam pemaknaan kelas-kelas 
sosial sedikit demi sedikit pudar. Maka masyarakat mencari gelar-
gelar baru untuk dijadikan pegangan. Dulu nama Syarif atau Sayid 
sempat mendapat posisi elite di kalangan masyarakat Islam Indonesia 
namun kemudian hal ini dimentahkan oleh Syeikh Ahmad Soorkati 
pemimpin gerakan Al Irsyad lalu semakin mentah lagi ketika KH Ahmad 
Dahlan mengeluarkan fatwa `Islam tidak mengenal diskriminasi karena 
keturunan, harta dan pangkat. Pudar Syarif dan Sayid lalu 
gelar `Habib'  naik daun setelah munculnya gerakan Islam eksklusif 
yang lebih mementingkan agama terinstitusi atau identifikasi 
keagamaan dengan basis budaya Arab. Lalu saat Gus Dur naik daun maka 
bareng-bareng orang pakai nama Gus, seluruh elite Jawa Timur lantas 
pakai nama Gus, tatkala Gymnastiar memesonakan masyarakat maka nama 
A'a yang dulu merupakan panggilan sayang pada orang yang lebih tua 
di Bandung atau sekitar Priangan (saya masih ingat nama teman saya 
A'a Kusumayadi) menjadi semangkin berbunyi bahkan nama berbau Jawa-
pun melampirkan diploma A'a seperti : A'a Haryono, A'a Subagyo atau 
A'a Kusumo. Saya pastikan bila Aom (sebutan gelar bangsawan Sunda) 
Kusman populer lagi, maka rangkaian nama Aom ini bisa terus 
berderet. Tak aneh karena ini bagian dari masyarakat latah gelar.

Dalam budaya Jawa gelar menjadi lebih bermakna lagi. Saat gelar 
masih punya tempat di masyarakat seribu satu macam jenjang gelar ada 
dalam struktur masyarakat Jawa mulai dari Den Bei (Raden Ngabehi) 
sampai Sinuwun (Rajanya). Raden, Raden Mas, Raden Nganten, Raden 
Ayu, Raden Roro, Bendoro Raden Mas, Kanjeng Gusti Pangeran Hario itu 
yang basis keturunan ada juga yang berdasarkan pangkat kraton, 
seperti : Mas, Panatus, Penewu, Ndoro Kliwon, Ngabehi dan banyak 
lagi. Untuk masyarakat yang tidak memiliki gelar baik dari keraton 
maupun dari keturunan, maka dia berhak merebut politisasi gelar 
lewat perubahan nama. Bagi orang Jawa masa hidup memiliki fase-
fasenya. Biasanya lelaki Jawa menganggap pernikahan itu sebagai awal 
dari kelaki-lakiannya maka mereka biasanya merubah nama mereka dan 
dikenal-lah nama kecil juga nama dewasa. Seperti : Panjul jadi 
Sastrowiryo atau Kuncung jadi Mangunprawito.

Raden Anton 


Kirim email ke