Dengan demikian, lalu apa yang akan dilakukan oleh KWI?
sebenarnya KWI sangat bisa meredam perdangan manusia ini dengan
berbagai cara, salah satunya cara adalah:
setiap minggu umat katolik pergi kegereja dan berkolekte (minimal 2x
kolekte) dikota2 besar kolekte ini bisa terkumpul jutaan rupiah tiap
minggu nya. saya rasa bila 30%nya kolekte dari seluruh keuskupan
digunakan untuk mendirikan sekolah dengan harga murah (murah, tidak
gratis. Tapi ya syukur banget kalau gratis) pasti akan bisa meredam
perdagangan manusia. menurut saya perdagangan manusia diawali dengan
tingkat pendidikan yang rendah (karena biaya sekolah makin tinggi dan
tak terjangkau oleh kaum miskin. orang yang mempunyai pendidikan yang
tinggi akan tidak mudah ditipu dan masuk dalam perangkap perdagangan
manusia.
kalau saya baca sejarah pendidikan yang dikelola oleh para tarekat
religius katolik bermula dari pendidikan yang murah dan terjangkau
oleh berbagai kalangan, akan tetapi kali ini banyak sekali sekolah2
Katolik banyak yang tidak terjangkau oleh kalangan bawah.
Inilah angan2 saya ketika melihat uang berseliweran saat kolekte
digereja...mungkin ada yang bisa sedikit memberi pencerahan? saya
sungguh-sungguh merindukan adanya langkah kongkrit dan nyata dari
Gereja untuk masalah pendidikan, kesehatan, tempat tinggal bagi kaum
marginal..dan dengan senang hati saya akan mendukung semampu saya.
bahkan yayasan sugiyopranoto (YSS) mengambil langkah nyata dalam
mengadakan sarana tempat tinggal bagi kaum marginal, sekalipun
terbatas dan berjangka..(kok jadi jauh dari topik ya?)

peace,
ana dyah sari.

--- In [email protected], Yuliati Soebeno
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dalam pendapat saya dibawah ini, akan saya kutip beberapa kisah yang
dialami oleh para TKW, yang sangat menyedihkan. Kutipan dari
buku:"Ketika Mereka Dijual" - Perdagangan Perempuan dan Anak di 15
Propinsi di Indonesia.
>   Compiled by a few Indonesian NGOs that collaborates with USAID.
>
>   Ini hanya beberapa kutipan saja. Masih banyak kisah-kisah yang
memilukan terjadi bagi kaum perempuan TKW.
>
>   1. Niar, 25 tahun, merasa hampir tidak mungkin untuk mengurangi
hutangnya saat bekerja sebagai PRT di Malaysia. Dia berkata:
>   "Saat saya masih di Pontianak, pak Cik kasih tahu saya kalau saya
bisa bekerja sebagai PRT dengan gaji 150 ringgit atau 200 ringgit,
bahkan bisa lebih. Sekarang saya sudah bekerja lebih dari 20 bulan dan
tidak pernah menerima gaji. Saya hanya mendapatkan pinjaman yang saya
harus kembalikan nanti. Terkadang mereka memberi pinjaman empat atau
lima ratus ringgit. Agen kami yang mengambil gaji. Ketika kami minta
agen untuk memberikan gaji kami, dia menolak. Apa yang dapat kami
lakukan? (Atma Jaya, 2006)
>
>   2. Kekerasan tidak hanya datang dari majikan para PRT saja tetapi
juga dari para Agen.
>   "Majikan saya marah. Jika ada masalah diluar, jika ada sedikit
saja yang salah, dia pasti marah....jika dia marah, dia pasti akan
menampar saya berkali-kali. Kontrak saya masih belum selesai. Dia
bilang saya tidak boleh pulang. Saya tidak bisa menerima nya lagi.
Saat saya beritahukan hal ini kepada agen bahwa majikan telah menampar
saya, dia bahkan bilang, "Kamu harus tabah. Kamu harus mengendalikan
perasaan mu." Jika seorang PRT belum selesai dengan potongan gajinya,
terus dia menilpun agen nya, agen nya pasti akan marah. Agen juga
menampar saya; mereka tidak ingin saya pergi sebelum kontrak dan
pemotongan gaji selesai. (Human Rights Watch, 2005: 57)
>
>   Perempuan dan anak perempuan yang diperdagangkan ke Papua untuk
tujuan prostitusi sering tidak dapat berbuat apa-apa disebabkan oleh
alat yang disebut "kontrak". Isinya memuat persyaratan-persyaratan
yang hanya membuat hutang terus menggunung. Satu "kontrak" ini
biasanya berlaku selama 4 bulan, dimana selama periode tersebut
pekerja tidak diperbolehkan untuk meninggalkan majikan.
>
>   Saya rasa, alangkah berbeda nya jika PENDIDIKAN sudah bisa
dirasakan oleh para perempuan muda yang berada didesa-desa diseluruh
Indonesia. Dengan mengenyam pendidikan, mereka tidak akan mudah
terjerumus dalam modus "penipuan" oleh para agen-agen yang hanya
mementingkan uang diatas penderitaan manusia lain nya!
>   Kecuali jika mereka sendiri menghendaki untuk mendapatkan uang
dengan mudah tanpa memikirkan hal-hal yang akan menimpa dirinya.
>   Tetapi saya pasti, lebih sering dikarenakan tidak adanya
pendidikan sebagai 'tameng" dari perempuan desa tersebut, dari bujukan
para "agen" curang.
>
>   Sangat memilukan.
>
>   Salam,
>   Yuli

Kirim email ke