Mas Martin,

sebenarnya rakyat itu sudah tahu bagaimana caranya mencari makan
sendiri, pemerintah hanya diharapkan jangan menghambat saja.

itu saja cukup, gak usah ngapa-ngapain, cukup jangan menghambat.

namun kenyataannya, birokrasi kita ini aneh, bukannya mendukung
iklim usaha, malah gak ada kerjaan, coba lihat dinas kesehatan,
dinas ini dinas itu merazia supermarket.

aneh

tempat usaha bukannya didukung malah dirazia.  pulisi sejak gak
boleh mendukung judi mencari income di supermarket.

apalagi TKI, bukannya didukung malah dipersulit.

orang mau kerja bikin SIM B1 harus bayar minimal Rp 750,000

belum kerja aja harus bayar.

nanti kerja juga dipersulit....

tilang damai setiap hari..

mau bikin akte kelahiran saja harus bayar Rp 150,000

bagaimana kalau gak punya uang?  apa anaknya gak usah pakai akte?

bikin KTP apalagi...... mana ada yang gratis?

jalan tol semua bayar, jalan alternatif tidak memadai.  jalan
JAGORAWI itu sudah satu generasi 28 tahun lebih masih bayar, apa
harus nunggu 17 generasi jadi gratis?

apa belum balik modal usaha 28 tahun?

aneh.....

salam,
goen


--- In [email protected], Martin Widjaja
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Goen yg baik,
> Saya termasuk yg pesimis dan penasaran dgn kondisi
> perekonomian kita, melihat P SBY yg makin redup dlm
> strategi dan managemen memimpin bangsa terutama
> dalam soal pemberantasan korupsi spt yg dijanjikannya
> Penegakan hukum yg jelas juga tebang pilih [ mungkin
> saking banyaknya ..] juga menyebabkan korupsi berjamaah
> berkembang pesat sampai dimana2 di daerah terpencil
> sekalipun.Logika saya kalau tiadanya kejelasan hukum
> dan amok dimana2 meraja lela maka investasi yg menghasilkan
> penurunan pengangguran akan tetap minim gitu.
> Jadi penasaran akan baca berita2 yg optimis , saya memang
> coba memahami secara bodoh aja, awam , hanya bicara dgn
> orang2 kecil di Jakarta spt yg saya laporkan pada Mas Goen
> sebelumnya.
> Terakhir ini saya berkesempatan menyusuri kota2 di P Jawa
> Bali, Madura selama 3 mingguan.
> Rasanya saya harus tetap berkesimpulan memang ekonomi
> kita yg berhubungan dgn rakyat banyak ada kemajuan yg
> berarti.
> Rasanya dibanding 5 thn lalu, daerah atau minimal kota2 kecil
> telah berkembang cukup baik walau di jalan2 tetap saja terlihat
> banyak sekali yg nganggur , aah mungkin karena memang rakyat
> kita banyak pak...
> Kalau kota, desa tertata baik, bersih, asri maka kita bisa berke
> simpulan secara kulit luar , banyak dana2 yg dihasilkan disitu
> dan bisa memelihara kota atau desa , yg berarti dana2 yg buat
> yg lebih essensial juga cukup pula.
> Saya juga masih yakin kemiskinan masih banyak, tapi kalau kita
> bicara ttg MAKIN jeleknya  keadaan di Indonesia, maka  saya
> kurang sependapat.
> Kalau dikatakan , mestinya Indonesia bisa semaju RRT atau India
> [ kalau korupsi, penegakan hukum dllnya itu berhasil] saya lebih
setuju.
> Suka atau tidak suka, ekonomi kita yg dihela oleh pajak yg sekarang
> makin mencekik saja [ heran DPR ngga ada suaranya ?]  memang
> mungkin membuat progress buat ekonomi kita.
> Tapi kalau pendapatan pajak dan minyak ini mau dijadikan kebanggan
> P SBY dan pemerintah kita yah kurang fair juga yah ?
> Baru2 ini saya baca pengiriman TKI Sukabumi dr LN bisa mencapai
> 180 miliar setahun... sbg perbandingan RAPBD Sulteng misalnya hanya
> 500 an miliar ? PAD nya sendiri juga cuma 300 an miliar ...
> Entah berapa besar uang TKI yg menggelontor ekonomi kita yg juga
> bisa menambah kekuatan ekonomi kita namun tidaklah patut
dibanggakan
> oleh penguasa kita ...
>
> Salam , martin - jkt

Kirim email ke