Oh, begitu ya ceritanya. Saya sendiri baru tahu kalau Untung itu ternyata nama 
samaran. Mustinya Pak Harto tahu juga dong nama asli si Untung. 

Nah, ngomong-ngomong Pak Julius Pour ini kan wartawan senior Kompas. Kok bisa 
nulis di harian Sinar Harapan ya? Apakah koran sore ini sudah diambil alih 
Kompas? Adakah yang tahu?

salam,

radityo djadjoeri


  ----- Original Message ----- 
  From: Sunny 
  To: Undisclosed-Recipient:; 
  Sent: Monday, October 01, 2007 10:42 PM
  Subject: [mediacare] Untung Sebenarnya Bernama Kusman



  http://www.sinarharapan.co.id/berita/0710/01/sh04.html


  Letkol (Purn) Soehardi:
  Untung Sebenarnya Bernama Kusman
  Oleh
  Julius Pour


  Salah seorang sosok misterius dalam Peristiwa G-30-S (Gerakan 30 September) 
namanya Untung. Dengan mendadak, dia muncul ke atas pentas. Dia tampil sebagai 
tokoh utama sekaligus pusat peristiwa. Tetapi, hanya dua minggu nama Komandan 
Dewan Revolusi tersebut bertahan, sebelum akhirnya bisa diringkus di Tegal, 
ditahan, dan diajukan ke Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) kemudian 
dijatuhi hukuman mati. 

  "Untung bernama asli Kusman, waktu kecil senangnya main bola, anggota KVC, 
Keparen Voetball Club di Kelurahan Jayengan, Solo." Orang tua tersebut 
melukiskan semuanya dengan lancar. Dia bukan sekadar kenal melainkan, ".ayah 
angkatnya bernama Samsuri, bekerja sebagai buruh batik di rumah orang tua saya. 
Maka kalau Si Kus menyapa, dia selalu memanggil saya Gus Hardi."Pensiunan 
letnan kolonel yang mengungkapkan kisah di atas namanya Soehardi. Tanggal 20 
Mei lalu usianya genap 80 tahun. Oleh karena sudah di ambang senja, dia kini 
bersedia membuka tabir sekitar Letnan Kolonel (Inf) Untung Samsuri. 
  Untung Samsuri menjadi sosok kontroversial dalam sejarah Indonesia baru 
dengan jabatan resmi terakhir Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen 
Tjakrabirawa, kesatuan khusus pengawal Presiden Soekarno.


  Untung kemudian terkenal dalam kaitan Peristiwa 30 September. Pada dini hari 
tanggal 1 Oktober 1965 tersebut, dia memimpin gerombolan G-30-S menculik 
sejumlah jenderal Angkatan Darat. Tujuh perwira tinggi akan ditangkap, dituduh 
sebagai anggota Dewan Jenderal yang bermaksud menggulingkan Bung Karno. Dari 
tujuh jenderal yang jadi sasaran, enam berhasil mereka tangkap. Sasaran utama, 
KSAB Jenderal AH Nasution, justru berhasil meloloskan diri.

  Sesudah enam jenderal ditangkap, paginya akan dihadapkan kepada Bung Karno 
".semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan 
kepada mereka," demikian jawaban Untung pada sidang Mahmilub yang nantinya 
menjatuhkan vonis hukuman mati dan eksekusinya dilaksanakan pertengahan tahun 
1966.

  Skenario di atas ternyata menjadi berantakan. Para jenderal yang baru saja 
diculik oleh anak buah Untung kemudian dibunuh di Lubang Buaya. Siapa yang 
memerintahkan? "Bukan saya, " jawab Untung dalam sidang Mahmilub. 

  Nantinya diketahui, perintah justru diberikan oleh anggota Biro Khusus PKI. 
Dengan membawa akibat, skenario awal tadi akhirnya lepas kendali, menyambar ke 
segala arah dengan ekses berikut derita, yang meski telah empat dasawarsa 
berlalu, dukanya belum bisa terpulihkan. 
  Khususnya derita para keluarga korban aksi pembunuhan massal yang 
menghabiskan sekurangnya 500.000 nyawa pengikut komunis dan mereka yang sekadar 
dianggap sebagai komunis.


  Sesama Tjakrabirawa

  Soehardi anggota Tjakrabirawa, berasal dari CPM (Corps Polisi Militer) dengan 
jabatan saat Peristiwa G-30-S meletus, Kepala Provost Tjakrabirawa. Ketika 
tahun 1966, kesatuan tersebut dibubarkan dan tugas mengawal Presiden digantikan 
Yon POMAD/Para, Soehardi tidak ikut di-bersih-kan karena tidak terlibat. 
"Sesungguhnya, meski Untung menjabat Komandan Batalyon, hanya satu Kompi 
bersedia mengikuti petualangannya ke Lubang Buaya. Anggota Tjakrabirawa 
lainnya, tidak tahu apa-apa." 

  Memasuki masa pensiun tahun 1982. Sebelumnya, Soehardi di-tugas-karya-kan di 
Inspektorat Jenderal Depdikbud, ketika Daoed Joesoef menjadi menteri. Panjang 
jalan harus ditempuh oleh anak juragan batik asal Solo tersebut dalam meniti 
karier militer, diawali dengan menjadi anggota PT (Polisi Tentara) di masa 
perang kemerdekaan. 

  Awal tahun 1965, di Istana Merdeka, Soehardi bertemu kembali dengan teman 
masa kecilnya. "Lho, Gus Hardi inggih wonten mriki? (Lho, Gus Hardi juga di 
sini)," begitu tanya Untung spontan.

  Menurut Soehardi, "Saya langsung menjawab sambil menghormat, siap Mayor." Dia 
segera menambahkan, "Saya harus menghormat, karena saya hanya Kapten, dia sudah 
Mayor. Meski saya sudah tugas di Istana Presiden sejak tahun 1954 dan Untung 
baru saja pindah dari Semarang, dalam kepangkatan kenyataannya dia lebih 
senior."

  Pengalaman semasa kecil, jarak sosial dan hal-hal lain menyebabkan 
Soehardi-Kusman tidak akrab sesudah sama-sama di Jakarta. "Sebagai pejabat baru 
di Tjakrabirawa dia tidak menonjol, tinggalnya di daerah Cikini, dekat dengan 
rumah DN Aidit, Ketua CC PKI. Kami tidak pernah melakukan kontak, sebab sejak 
kecil dia orangnya pendiam."

  Ayah kandung Untung namanya Abdullah, bekerja di toko peralatan batik milik 
warga keturunan Arab di Pasar Kliwon, Solo. Tetapi sudah sejak kecil Untung 
diambil anak oleh Samsuri, pamannya, yang bekerja sebagai buruh batik di rumah 
orang tua Soehardi. 

  Untung masuk sekolah dasar di Ketelan, kemudian melanjutkan ke sekolah 
dagang. "Pelajaran belum selesai, Jepang masuk dan dia menjadi Heiho..."


  Meloloskan diri ke Madiun

  Semasa perang kemerdekaan Untung berada di daerah Wonogiri, Solo, menjadi 
anggota Batalyon Sudigdo. Ketika tahun 1948 Peristiwa Madiun meletus, Gubernur 
Militer Kolonel Gatot Soebroto memperoleh informasi bahwa sebagian anak buah 
Mayor Sudigdo disusupi orang-orang komunis, "Pak Gatot memerintahkan Letnan 
Kolonel Slamet Riyadi, Komandan Brigade V Wehrkreise I, untuk memindahkan 
mereka..." 
  Soehardi melukiskan, "Pak Slamet berhasil menarik Batalyon Sudigdo ke Cepogo, 
lereng Gunung Merbabu, jauh dari Madiun. Kusman, waktu itu sersan mayor, bisa 
lolos ke Madiun bergabung dengan rekan-rekannya."
  Mengapa keterlibatan dalam Peristiwa Madiun tidak diselesaikan? Soehardi, 
penyidik semasa Peristiwa G-30-S, antara lain ikut menentukan lokasi Lubang 
Buaya hingga meringkus Sofyan, pemimpin gerilya komunis di Kalimantan Barat, 
terus terang mengatakan, "Tiba-tiba saja Belanda melancarkan agresi militer 
kedua. Akibatnya, Peristiwa Madiun tidak pernah tuntas ditangani, sebab semua 
orang lantas sibuk melawan Belanda sehingga segala kesalahan kemudian 
di-putih-kan." Sesudah Peristiwa Madiun, Kusman berganti nama jadi Untung, 
kembali bergabung di TNI, bertugas di Divisi Diponegoro. 

  Tahun 1958, dalam operasi penumpasan PRRI, Letnan I Untung menjabat Dan Kie, 
bertugas di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat.

  Tanggal 14 Agustus 1962, Mayor Untung selaku Dan Yon 454 Para/Banteng 
Raiders, diterjunkan di Sorong, Irian Barat. Tanggal 25 Agustus 1962, Panglima 
Mandala Mayor Jenderal Soeharto mengeluarkan perintah gencatan senjata. Dengan 
demikian, Untung sebenarnya belum pernah sekali pun bertempur melawan pasukan 
Belanda selama sebelas hari bertugas di daratan Irian. 

  Kapan Untung kenal Soeharto? "Karier militer mereka sama-sama dari 
Diponegoro. Sesudah kembali dari tugas menumpas pemberontakan Andi Azis di 
Makassar, Pak Harto menjabat Dan Rem Salatiga, lantas Dan Rem Solo, Panglima 
Diponegoro, masuk Seskoad di Bandung, sebelum akhirnya ditunjuk untuk menjadi 
Panglima Mandala. 
  Mereka sudah kenal lama. Keakrabannya tampak, ketika bulan Februari tahun 
1965 Untung menikah di Kebumen, Pak Harto rela naik jip dari Jakarta hanya 
untuk bisa njagong.". 

  Dari luar rumah suara adzan maghrib terdengar dengan jernih. Soehardi segera 
minta diri untuk menuaikan sholat. Kisah mengenai Untung, untuk sementara 
terpaksa berhenti sekian dulu. n

  Penulis adalah wartawan senior, sedang menyusun buku sejarah Indonesia baru. 
    

   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.35/1040 - Release Date: 30/09/2007 
21:01


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke