Ide2 kreatif iklan emang berasal dari creative agency, bukan dari brand 
product. Sayangnya brand product ketika dipresentasikan format iklan mrk oleh 
agency & creative production, sering juga tanpa berpikir langsung main setuju2 
aja. Tapi terkadang format art director dr agency ketika sampai ke creative 
production bisa beda. Nah ketika sampai di lapangan bisa beda juga aplikasinya 
oleh sutradara. Kadang kesatuan yg utuh, kadang enggak. 

Iklan kita (sebagian) msh terjebak pd penyampain direct atau langsung ketimbang 
azas estetika, etika & kreatif pak Harry. Sebenarnya banyak iklan yg 
"mempertontonkan" machoism tapi dng prinsip2 yg ideal spt iklan Marlboro (Leo 
Burnett advertising agency). Puluhan tahun Leo Burnett membangun citra brand 
Marlboro. Kalo liat banner besar laki2 koboi, meski tanpa brand, yg ada di 
kepala pertama pasti Marlboro. Ini brand awareness yg nggak terkalahkan sampai 
sekarang. Marlboro & Leo Burnett memang membangun citra macho utk produk mrk, 
tapi dng kearifan. Kreatifitas spt ini kita msh kurang & perlu diaplikasikan 
utk L-Men (meski L-Men produk "obat kuat"), dll.

Contoh lain dari iklan yg kondusif spt iklan produk jeans Levi's (Levi Strauss) 
yg dikerjakan Michel Gondry (yg peka gender + diferensiasi & dikenal sgt 
up-to-date). Pernah hadir di televisi Indonesia tapi sudah bertahun lalu & 
sangat sebentar. Divisualkan laki2 & perempuan sama2 kuat, berlari menembus 
tembok2 besar bangunan sampe kejar2an mencapai pucuk pohon oak menuju langit. 
Si laki2 & si perempuan saling nggak mau terkejar satu sama lain, akhirnya mrk 
sejajar sama2 mencapai langit. Iklan kontemporer dng pesan sosial yg tinggi & 
positive brand. Salah satu iklan terbaik dunia & meningkatkan respect thd brand 
product. Kreatifitas & kepekaan spt ini juga yg kita msh kurang.  

Tapi itupun udah banyak iklan2 dng kreatifitas tinggi dng komunikasi yg peka 
sosial. Ada yg satire, humor, empati, gender aware, humanity, dsb spt yg sy 
sebut ke pak Haniwar utk Coca-Cola, Dove, Lux, susu 123 (1997-2000), termasuk 
juga Star Mild, Gudang Garam, Djarum, A Mild, DjiSamSoe, dsb.
              
Utk iklan produk "mitos kecantikan" pemutih yg diprotes pak Haniwar & mungkin 
bu Anik, mungkin yg berdosa adalah brand product. Kenapa hrs "dibuang" ke 
Indonesia, kalo di Amerika & Eropa nggak laku ya? Hehehe. Tapi semoga aja, 
meski produk ini tetap nggak musnah, creative iklan akan segera mengubah format 
mrk "keluar" dari format direct/langsung, tapi lbh creative tanpa menekankan 
kultus.

Salam,
Ade Badui

 
Harry Wisnu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               to Anik 
Wusari,
    
   Loh kan ada Ibu Mariana Amiruddin sebagai Koordinator Umum dari MEDIA WATCH, 
yang sebelumnya telah melayangkan protes untuk Iklan XL yang merendahkan citra 
wanita. Kemudian saya usul kenapa hanya Iklan yang merendahkan citra wanita 
saja yang diprotes, kenapa iklan2 yang merendahkan citra Pria tidak diprotes.
   Mengapa kita harus membela gender masing2 saja ? Saya sebagai laki-laki 
tidak malu tuk membela dan dibela oleh perempuan koq... 
   Saya pernah dijalan menemukan ada pria hendak menampar seorang perempuan 
lalu saya cegah. Lalu kenapa para perempuan hanya membela kepentingan kaumnya 
saja, dan tidak peka apabila ada hal yang sama terjadi pada kaum laki-laki, 
seperti contohnya iklan L-Men itu.
   Mohon maaf jika ada kata2 yang kurang berkenan, saya hanya menyayangkan jika 
kita terjebak ke dalam eklusivisme gender semata, dan tidak melihat laki - laki 
atau perempuan sebagai manusia yang sederajat.
   
 

Kirim email ke