Pak Ning Harmanto,
Saya pikir kita sekalian tidak perlu "katrok" karena betapapun kita adalah
orang-orang yang mau belajar. Belajar mengekspresikan pendapat dan pandangan,
belajar memahami pendapat dan kepercayaan orang lain dan akhirnya belajar
membuat sintesa dari semua itu untuk kita pakai sebagai tesa baru kedepan (
yang pada gilirannya akan ditantang oleh tesa2 baru orang lain). Saya kagum
bahwa anda sudah banyak menulis buku. Saya sendiri bukan orang yang produktip
dibidang ini. Tentang Mas Permadi, saya pribadi kenal baik dan kalau bertemu
(lewat media apapun) biasanya kami selalu saling lontar kritik . Itulah seni
hidup berteman yang sejati!. Selamat berkenalan. Salam dari Surabaya Tjuk
Kasturi Sukiadi
Ning Harmanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hallo Pak Kasturi dan pak Haniwar yth,
Waduh terima kasih banget anda berdua berkenan menanggapi postingan bakul jamu
yang mungkin kurang bermutu dan kurang populer ya. Sebenarnya selama ini saya
paling takut ngomongin soal politik.Soale saya ini agak 'Katrok'...pinjam
istilahnya mas Tukul. Saya nulis buku semuanya tentang kesehatan dengan solusi
herbal. Baru nyadar kalau saya salah karenasudah menyalahkan mas Permadi
SH..."nyuwun sewu mas" Ya saya minta maaf klo gitu. Tujuan saya mengikuti Forum
Pembaca Kompas agar saya tidak terlalu 'katrok' banget gitu lho. Nekat kirim
tulisan nimbrung di topik 'Meruwat Pancasila', karena prihatin banget kok mas
Permadi SH enteng banget membincangkan
tentang pembunuhan. Oh itu saja...mudah2an kehadiran saya di forum ini tidak
membuat anda semua
merasa tidak nyaman dengan kehadiran seorang bakul jamu yang menulisnya masih
kiurang bermutu. terima kasih, matur nuwun, kepareng.
Ning Harmanto.