Oleh Baskara T Wardaya SJ http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/02/opini/3886623.htm ====================
Belum lama ini berlangsung diskusi buku sejarah di Yogyakarta. Buku yang menjadi bahan diskusi itu menarik. Isi pokoknya sebenarnya adalah penceritaan kembali peristiwa pembunuhan massal yang terjadi tahun 1965. Menarik, karena isinya bersifat kritis terhadap narasi resmi yang ada selama ini serta menggunakan sebanyak mungkin sumber yang relevan. Selain itu, buku ini menyertakan latar belakang panjang atas terjadinya peristiwa itu, sekaligus memberikan gambaran yang luas mengenai dampak dari tragedi itu hingga kini. Dalam diskusi itu, muncul pertanyaan biasa tetapi menggelitik. Untuk apa kita mengingat-ingat kembali apa yang terjadi tahun 1965-1966? Apakah sekadar untuk mengorek luka lama? Salah kaprah Jawaban atas pertanyaan macam itu tentu penting, tidak hanya bagi si penanya, tetapi juga bagi kita: salah satu fungsi dari setiap penuturan kembali peristiwa masa lalu adalah untuk membantu melawan amnesia sejarah. Dengan kata lain, untuk mengikis kecenderungan lupa akan masa lalu kita sendiri. Sudah bukan rahasia lagi, banyak warga masyarakat lupa akan sejarah bangsanya sendiri, khususnya berkaitan dengan tragedi berdarah tahun 1965. Setidaknya banyak warga yang ingatannya akan peristiwa itu terpotong-potong. Padahal peristiwa itu merupakan peristiwa luar biasa: ada tujuh perwira tinggi militer yang dibunuh secara keji, ada setengah juta rakyat sipil dibantai sebelum secara hukum terbukti bersalah atau tidak. Berdasarkan ingatan yang terpotong-potong itu, misalnya, terjadilah berbagai bentuk salah kaprah. Contohnya kecenderungan untuk memperingati Tragedi '65 pada September. Orang sering mengaitkan tragedi itu dengan bulan September, padahal sebenarnya pada September 1965 itu tidak terjadi tindak kekerasan massal. Pembunuhan para perwira militer terjadi pada Oktober, tepatnya pada dini hari tanggal satu bulan itu. Sementara itu, pembantaian besar-besaran terhadap warga masyarakat baru mulai terjadi sekitar pekan ketiga bulan Oktober, untuk kemudian berlanjut hingga Desember 1965. Namun, karena salah kaprah, orang mengira semua itu terjadi pada September 1965, hanya karena nama kelompok penculik dan pembunuh itu adalah "Gerakan 30 September". Salah kaprah lain, diyakini tubuh para perwira tinggi itu disayat-sayat anggota Gerwani. Dalam laporan visum et repertum para dokter yang secara resmi ditugasi memeriksa jasad para perwira, ternyata tidak ada catatan tentang penyayat-nyayatan. Apalagi keterlibatan kelompok sipil perempuan dalam tindak kekerasan terhadap tubuh para tokoh militer yang amat terhormat. Orang juga sering mengira, "Lubang Buaya" adalah nama sumur tempat tubuh para korban dimasukkan. Padahal itu adalah nama sebuah desa. Tentu masih ada banyak contoh lain. Berapa pun jumlahnya, salah kaprah macam itu menunjukkan betapa mudah kita lupa akan masa lalu kita sendiri. Gara-gara salah kaprah itu, orang juga menjadi lupa, misalnya, setelah terjadi pembantaian massal tahun 1965, pada tahun berikutnya (1966) terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno yang berasal dari kalangan sipil ke penguasa baru yang berhaluan militeristik. Berikutnya, tahun 1967, penguasa baru itu membuka pintu lebar-lebar masuknya banyak perusahaan asing. Yang masuk dan mulai beroperasi tahun 1967 itu antara lain perusahaan tambang emas raksasa yang masih sibuk mengeruk kekayaan alam kita, bahkan sampai sekarang. Orang pun menjadi tidak ingat, apa yang berlangsung tahun 1968 dan sebenarnya hanya kelanjutan dari apa yang telah diputuskan sejak Tragedi '65 itu. Fatal Menjadi tampak bahwa apa yang terjadi pada masa lalu tidak hanya berhenti pada masa lalu saja, tetapi terus memiliki dampak hingga kini. Karena itu, penceritaan kembali masa lalu amat penting. Apakah sekadar untuk mengorek luka lama? Tentu tidak. Menceritakan kembali masa lalu dapat membantu kita melihat dinamika masyarakat dalam konteks lebih luas dan dengan perspektif lebih kaya. Sebaliknya, kesengajaan untuk melupakan masa lalu bisa berakibat fatal. Kalau kita melupakan begitu saja peristiwa pembunuhan atas tujuh perwira tinggi militer yang tak berdosa serta pembantaian massal terhadap setengah juta rakyat sipil yang belum terbukti bersalah, lantas bagaimana dengan berbagai pembunuhan dan tindak kekerasan yang korbannya kurang dari itu? Apakah juga mau dilupakan begitu saja? Kalau mau dilupakan, lantas apa jaminannya nanti kita tidak akan menjadi korban serupa? Lebih dari itu, penceritaan kembali peristiwa masa silam merupakan bagian penting dari upaya melakukan rekonsiliasi di masyarakat. Melalui narasi masa lalu kita dibantu melihat secara lebih jelas aktor-aktor dan faktor-faktor yang terlibat dalam peristiwa masa lampau. Dengan demikian, pemahaman kita atas permasalahan yang ada juga akan menjadi lebih utuh. Selanjutnya upaya untuk mewujudkan rekonsiliasi antara para mantan korban dan bekas pelaku akan menjadi lebih dimungkinkan. Bersama Mengingat banyaknya peristiwa penting yang terjadi pada masa silam dan menyadari betapa akutnya amnesia yang diderita oleh banyak warga masyarakat, upaya perlawanan melawan lupa itu tak cukup hanya dilakukan secara individual. Ia harus diupayakan secara bersama. Berbagai upaya kolektif perlu ditempuh guna selalu mengaktualkan kembali ingatan kita akan pengalaman masa lampau. Pengalaman adalah guru terbaik dan kita ingin terus belajar dari pengalaman kita sendiri, entah itu pengalaman tahun 1965 atau pengalaman-pengalaman lain. Mari bersama-sama melawan lupa! Baskara T Wardaya SJ Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
