Pak Barbanas, Terima kasih mengirimkan pendapat Pak Yong. Pak Yong tidak mengikuti diskusi sebelumnya, sehingga salah kutip mana yang sebenarnya disampaikan oleh GM, Saya, dan BS. Tanggapan saya ada di bawah. Saya akan senang kalau Pak Yong bersedia membahas secara langsung, namun pembahasan lebih jauh mengenai hal ini mungkin tidak tepat dilakukan di FPK (sudah lepas dari konteks tulisan GM, serta akan membosankan banyak member yang tidak belajar filsafat).
On 10/22/07, Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Gunawan M dan Mas Budiman S, > > Ulasan agak rinci mas Budiman kemaren di FPK sudah > mulai kabur dalam kerajinan mengingat dan membaca, > jadi saya minta komentar dari dosen Filsafat saya, > jadi DR. Yong Ohoitimur memberi tanggapan ini. Kalau, > Anda membalasnya, akan saya forwardkan ke group kami, > atau ke JAPRI DR Yong. Tanya juga "Om Google", siapa > beliau. (berthy b rahawarin). > > DR. Yong menulis, > > "Saya sedang dalam perjalanan kembali ke tanah air, > sehingga tidak sempat melihat kemblai buku > Tractatus-nya Wittgenstein. Tetapi sejauh yang dirujuk > oleh Iwan dan Budiman, ini komentar spontan saya: > > Pertama, apakah benar kutipan ini berasal dari GM > seperti dirujuk Iwan: > > <<Lebih aneh lagi kalau nama-nama di atas disandingkan > dengan buku > Tractatus-nya Wittgenstein yang ajarannya "berbau" > Positivistik (dan > sangat mempengaruhi gerakan "saintisme" Postivisme > Logis tahun 1920-an).>> Ini bukan tulisan GM, melainkan tulisan saya. Dalam tulisannya, GM sama sekali tidak menyinggung Wittgenstein. Yang menyingung Wittgenstein adalah Budiman Sujatmiko yang mengambil beberapa kutipan Tractatus. Adalah fakta sejarah bahwa buku Tractatus sangat mempengaruhi, bahkan mengispirasi gerakan Postivisme Logis (silahkan lihat tulisan beberapa tokoh positivisme logis spt Schilck, Carnap, Waismann). Apakah pembacaan Positivisme logis terhadap Tractatus sudah tepat, ini tentu saja terbuka untuk diperdebatkan. Kebanyakan pembacaan kontemporer terhadap Tracatus sudah berbeda dengan pembacaan positivisme logis. Mengenai buku Tractatus "berbau" positivistik sudah saya jelaskan pada posting sebelumnya. Melalui "teori gambar" Wittgenstein ingin membedakan mana proposisi yang make sense dn nonsense. Gagasan semacam ini pasti dicibir oleh tokoh-tokoh dalam postmodernisme (Derrida, Inc.), maupun teori sosial kontemporer (Zizek, Badiou, cs.). Tractatus berkembang pada tradisi filsafat analitis (Anglo Saxon), sedangkan industri Derrida ada pada tradisi kontinental yang kemudian melebar kritik sastra, teori-teori sosial, dan sebagainya. Secara singkat hubungan Tractatus dengan Derrida bisa saya singkat sebagai berikut: Jaka sembung bawa golok. > Kalau kalimat ini berasal dari GM, mestinya boleh > dikatakan bahwa GM tidak sangat keliru. Bukan kalimat GM. > GM tidak > mengatakan bahwa Tractatus atau Wittgenstein (part I) > tergolong positivisme, melainkan "BERBAU" positivisme. > Dalam arti apa? Penjelasan Pak Yong menguatkan apa yang saya sampaikan sebelumnya. Beberapa catatan dari saya di bawah. > Kedua, rujukan-rujukan Budiman dalam menjelaskan alur > pemikiran Tractatus, menurut saya memang begitulah > Namun Tractatus lebih luas dari sekadar pointers tsb. Setuju. Buku Tractatus perlu dibaca secara keseluruhan, tidak bisa hanya dibaca melalui beberapa pointers. Mereka pernah melihat halaman-halaman buku Tractatus pasti menyadari benar bahwa buku tersebut bukan buku yang mudah, bahkan bagi mereka yang pernah mendalami filsafat. Buku Tractatus tidak bisa dipahami tanpa menguasai logika simbolik tingkat lanjut (yang tidak diajarkan dalam ilmu politik), dengan demikian untuk mempelajarinya butuh ketekunan, tidak bisa melalui 3-5 pointers, lalu dibaca melalui framework ilmu politik, sastra, dlsb. > Dalam Tractatus, Wittgenstein membedakan antara "apa > yang dapat dibahasakan" dan "apa yang tidak dapat > dibahasakan" . Kategori kedua ini, hanya bisa dihadapi > dengan diam; apabila mau dibahasakan, maka hasilnya > "tidak bermakna". > > Interpretasi yang paling umum adalah sebegai berikut. > Tractatus pada umumnya dianggap "berbau" positivisme > logis, karena Tractatus dianggap menganut paham bahwa > bahasa hanya punya satu fungsi, yaitu fungsi > deskriptif terhadap apa yang ada (realitas). Proposisi yg berbau postivisme logis ada beberapa, diantaranya: 4.11 The totality of true propositions is the whole of natural science (or the whole corpus of the natural sciences). 6.53. The right method of philosophy would be this: To say nothing except what can be said, i.e. the propositions of natural science, i.e. something that has nothing to do with philosophy: and then always, when someone else wished to say something metaphysical, to demonstrate to him that he had given no meaning to certain signs in his propositions. Postiviisme logis menurut saya mengabaikan apa yang disampaikan Wittgenstien ketika dia menulis mengenai etika. > fungsi bahasa tunggal itu ditarik? Argumen pertama: > Tractatus menganut fungsi bahasa tunggal karena "yang > mistik" dianggap tak terungkapkan dengan bahasa. Mengapa bahasa berfungsi tunggal? Wittgenstein berangkat dari gagasan bahwa dunia ini terdiri dari totalitas fakta yang bisa dibagi-bagi menjadi fakta-fakta atomistik. Semua bahasa yang berbeda-beda memiliki struktur logis yang sama. Mengapa? karena didikte oleh dunia (fakta) yang sama. Dengan demikian struktur bahasa merupakan representasi atau cermin dari struktur dunia. > Argumen kedua, karena dalam Philosophical > Investigations Wittgenstein meninggalkan teori tentang > fungsi tunggal bahasa ke fungsi majemuk bahasa yang > digambarkan sebagai (games: masing-masing dengan > aturannya sendiri). Argumen kedua tidak ada hubungannya dengan persoalan yang dibahas (ignoratio elenchi). Salam hangat, Iwan > Kesimpulannya, memang benar > Tractatus tidak boleh digolongan dalam positivisme > logis. Namun teori di Tractatus memang "berbau" > positivisme logis, bukan dalam arti Tractatus > menganut prinsip verifikasi yang Lingkungan Wina, > melainkan pada interpretasi bahwa Tractatus menganut > teori bahasa tertentu yang juga dianut oleh kaum > positivis logis. Positivisme Logis menganut fungsi > tungal bahasa, yaitu bahasa deskriptis dengan ukuran > positivistis (verifikasi) . > > Berikutnya, sebenarnya akhir dari Tractatus sudah > membuka gerbang inspirasi bagi dua jalur interpretasi. > Bagi kaum positivis pemegang prinsip verifikasi, > Tractatus memberi roh yang menjadi jiwa positivisme > logis, karena apa yang tak dapat diungkapkan dan hanya > dapat dilewati dengan diam, bagi mereka, merujuk > kepada fungsi tunggal bahasa bergaya positivistik. > Sedangkan bagi mereka yang menggemari hermeneutika, > Tractatus membuka pintu bagi banjir kritik; bahwa > dalam Tractatus, Wittgenstein tidak konsisten: > mestinya ia tidak barakhir dengan statement yang kita > temukan pada akhir buku tersebut. Namun itulah sejarah > pemikiran: setiap kesalahan konsep atau interpretasi, > selalu membuka kesempatan baru bagi lahirnya pandangan > alternatif. Interpretasi Budiman dan GM berada dalam > jalan ini juga: bersama-sama mencari pemahaman dalam > bingkai hermeneutik. > > Salam, > > /yong
