Forum Bogor untuk Susun Peta Jalan 2012
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/25/humaniora/3941246.htm
==========================

Jakarta, Kompas - Menghadapi perubahan iklim yang makin nyata
ancamannya untuk umat manusia di seluruh dunia, masyarakat menuntut
aksi konkret dan nyata hingga pasca-Protokol Kyoto 2012. Namun, aksi
konkret dan nyata itu tidak boleh mengalahkan upaya pencapaian
kesejahteraan rakyat negara-negara berkembang lewat pembangunan ekonomi.

Karena itu, penjagaan hutan di negara-negara berkembang demi mencegah
perubahan iklim harus mendapatkan kompensasi layak dari negara-negara
maju yang menikmati karbon yang dihasilkan hutan-hutan tersebut.
Besarnya kompensasi penjagaan hutan itu harus ditentukan oleh pasar
berdasarkan hukum penawaran dan permintaan.

"Dengan demikian, negara-negara hutan hujan tropis tak akan menanggung
opportunity cost," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka
Pertemuan Pendahuluan Tingkat Menteri Konferensi Ke-13 Negara Pihak
dari Konvensi Kerangka Kerja tentang Perubahan Iklim/Konferensi dan
Pertemuan Ke-3 Negara Pihak (UNFCCC COP-13/CMP-3) di Istana Bogor,
Rabu (24/10).

Mengenai opportunity cost atau biaya yang harus kita korbankan untuk
menjaga dan mencegah kerusakan hutan, Ketua Tim Delegasi Indonesia
Emil Salim menekankan akan memperjuangkan kompensasinya. Dengan
menjaga hutan, rakyat tidak bisa memanfaatkannya untuk pertanian dan
berbagai hal. "Kita akan berjuang. Kewajiban climate change kita akan
penuhi. Tetapi, kepentingan dan kesejahteraan rakyat tidak boleh
dikorbankan," ujar Emil.

Menyusun peta

Pertemuan pendahuluan tingkat menteri yang diikuti 40 negara yang
masing-masing berbeda posisi, menurut Emil, akan dipakai untuk
memikirkan peta jalan sebagai hasil konferensi internasional di Bali
awal Desember 2007. "Keadaan makin gawat. Yang dilakukan selama ini
perlu, tetapi tidak cukup."

Kerja bersama menyusun peta jalan menuju 2012 dan setelahnya dianggap
sebagai fokus pertemuan juga oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup
Rachmat Witoelar. Kerja bersama itu akan ditajamkan sebagai hasil
dalam konferensi internasional di Bali. "Tidak bisa untuk masalah
perubahan iklim kita sendiri-sendiri. Negara maju begitu, negara
berkembang begini. No way." Terhadap forum Bogor yang berlangsung dua
hari, Rachmat mengaku gembira karena negara- negara yang banyak
berseberangan sikap mengenai perubahan iklim dapat duduk bersama.

"Kami mendesak agar ada kebijakan yang koheren di tingkat
internasional maupun nasional. Legitimasi mekanisme baru terkait
adaptasi harus lebih tinggi dibandingkan Organisasi Bank Dunia dan
Bank Dunia," kata Deputi Direktur Walhi Farah Sofa ketika dihubungi
Rabu kemarin.

(INU/GSA) 

Kirim email ke