Kasihan media cetak kalau dijadikn ujung tombak
karena lazimnya ujung tombak
ujungnya tombok....!

Banyak kisah tentang ini.

Adhie M Massardi



----- Original Message ----
From: ardiningtiyaspitaloka <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, October 26, 2007 10:03:18 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Media Cetak; Ujung Tombak Asa Masyarakat dalam 
Layanan Publik









  


    
            Media Cetak; Ujung Tombak Asa Masyarakat dalam Layanan Publik

Ardiningtiyas Pitaloka



Bila anda mengalami pelayanan public yang mengecewakan, apa yang 

akan anda lakukan? Tentu, ada banyak alternatif, di antaranya; 

mengkritik secara langsung secara asertif, memprotes dengan 

menegangkan urat syaraf, melaporkan kepada manajemen, meninggalkan 

tempat kejadian perkara dengan mengomel, memutuskan untuk tidak lagi 

berurusan dengan jasa tersebut, … masih ada lagi; menuliskan 

kejadian berikut data lengkap sebagai bukti di kolom suara pembaca 

surat kabar nasional.



"Tulis saja di koran nasional, pasti deh dapat tanggapan," kurang 

lebih kalimat tersebut telah menjadi mantra sakti bagi sebagian 

masyarakat, terutama di kota besar dan masyarakat yang memiliki 

apresiasi tinggi terhadap budaya tulis. Media publik menjadi ajang 

pencarian keadilan yang dipercayai kekuatannya.



Ada beberapa hal yang ingin penulis bedah dalam kasus atau fenomena 

di atas. Suatu fenomena yang tidak lagi asing. Kita bisa dengan 

mudah menemukan berbagai macam pengaduan, mulai dari pelayanan mesin 

ATM yang tidak berfungsi baik, pelayanan parkir di pusat 

perbelanjaan, pelayanan rumah sakit, pelayanan kartu kredit, dan 

banyak lagi. 



Kesadaran masyarakat



Hal yang menggembirakan dari fenomena tersebut adalah apresiasi 

masyarakat kita terhadap media cetak. Masyarakat memiliki tempat 

penyaluran yang bisa memuaskan, setidaknya jika dibandingkan dengan 

melapor pada infrastruktur hokum. Dengan menulis kepada media cetak, 

kasus yang diajukan gamblang tersaji bagi pihak penggugat dan 

tergugat. Bukti pun tidak diabaikan, mereka akan mencantumkan 

berbagai data pendukung seperti bukti pembayaran, tanggal kejadian, 

alamat kantor cabang tempat kejadian, bahkan waktu serta nama subjek 

yang memberikan pelayanan tidak menyenangkan, misalnya.  Identitas 

pun secara lengkap dan resmi akan dicantumkan, beberapa ada yang 

tidak ditampilkan tetapi disimpan oleh redaksi.



Terkandung pula kesungguhan dan kemauan masyarakat untuk menghargai 

dan mengikuti proses, tidak hasil instan. Menulis dan menceritakan 

kejadian tidak menyenangka di Surat/ Suara Pembaca jelas tidak sama 

dengan bergosip atau curhat. Mereka mempertaruhkan nama baik mereka 

dengan mengirimkan identitas diri yang jelas. Mereka juga harus 

mampu menunjukkan bukti-bukti yang jelas, kalau pun tidak disebut 

lengkap. 



Kesabaran dan apresiasi terhadap proses pun diuji. Meskipun anda 

begitu ingin kasus anda segera ditanggapi, atau setidaknya tampil 

untuk memberi peringatan pada khalayak umum, anda bukan satu-satunya 

yang melakukan hal tersebut. Maka tindakan ini bukan langkah gegabah 

melainkan satu bukti anda sebagai warga yang beradab, meski diliputi 

kekecewaan.



Motivasi



Mungkin ada satu yang hampir bisa dipastikan mengapa surat-surat it 

uterus mengalir, terlebih dengan semakin canggih teknologi informasi 

dan komunikasi meringkas waktu dan ruang. Kekecewaan. Kekecewaan 

mendorong orang berduyun-duyun mengumpulkan bukti, membuat salinan 

bukti, scan bukti, menulis surat, menulis email, lalu mengirimkannya 

beserta identitas diri mereka.



Masih ada hal lain yang bisa kita telusuri;

-       memberi pelajaran pada suatu institusi baik pemerintah 

maupun swasta

-       berbagi pengalaman pada pembaca yang berarti sesama warga 

masyarakat agar tidak mengalami kejadian (kekecewaan) serupa

-       sebagai langkah `akhir' dari proses komplain yang telah 

dilakukan secara langsung pada institusi



Sejauh ini, yang terselip adalah, benarkah institusi baru akan 

bergerak ketika namanya terpampang dalam deretan keluhan di Surat/ 

Suara Pembaca?



Selanjutnya; Mengapa?



Ketidakpedulian dan atau Tidak Sensitif?



Bila hipotesa di atas benar, bahwa institusi akan lebih cepat 

memberikan perhatian terhadap keluhan konsumen, ketika konsumen 

melaporkan dalam media cetak. Maka, banyaknya demonstrasi yang 

sering merembet pada aksi anarkis bisa mendapatkan kesamaan 

penjelasan.



Akan hadir deretan pertanyaan terhadap diri kita sendiri sebagai 

bangsa, negara, masyarakat yang masih mengaku memiliki budaya 

kolektif, dengan beribu jabaran indah yang menyertai. 



-       Apakah lebih memilih ditegur di depan umum, daripada secara 

internal?

-       Apakah memilih menegur di depan umum, daripada secara 

internal?

-       Apakah tidak mendatangkan nama buruk yang ke depannya akan 

menurunkan citra, terlebih bila hal itu terpampang di media cetak 

nasional?



(Budaya) Mempermalukan



Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar beberapa jenis hukuman 

ada di masyarakat yang tujuannya membuat pelaku kesalahan menjadi 

malu. Harapannya adalah rasa malu itu akan menyadarkan pelaku untuk 

kemudian sadar dan tidak mengulangi kembali di lain waktu. Sebut 

saja; mengarak pasangan bahkan tanpa pakaian keliling desa, menyuruh 

orang untuk menampar pipinya sendiri di muka umum, mungkin anda bisa 

menambahkan lagi.



Benarkah tujuan dari hukuman itu tercapai?

Benarkah kesadaran dan interospeksi tumbuh setelah hukuman 

dipermalukan?



Pernahkah anda mendengar curahan hati teman yang kurang lebih 

bernada, "Aku bersedia dimarahi oleh bos, tapi tolong tidak di depan 

orang-orang, aku kan malu.."

Pernahkah anda melihat orangtua memarahi buah hatinya sendiri di 

depan umum?



Malu, itu yang pasti hadir.

Menyadari kesalahan?

Interospeksi?



Sepertinya harus terlebih dahulu direnungkan oleh yang memiliki 

posisi sebagai pemimpin, sebagai bos, sebagai orangtua. Apakah kita 

mau dipermalukan?



Suara Pembaca – Demonstrasi



Kisah yang kita baca di halaman surat kabar itu tidak hadir dengan 

sendirinya. Tidak muncul dengan penuh senyum, tidak pula dalam 

sekejap. Perusahaan memiliki resiko mendapatkan nama buruk dan malu 

oleh keluhan di media tersebut. Konsumen pun harus 

melakukan `protes' yang lebih menguras tenaga.



Bandingkan jika keluhan konsumen mendapatkan penyaluran dan proses 

yang layak di tempat atau institusi yang dikeluhkan. Proses yang 

tidak berbelit, hanya menyajikan janji dan permainan lempar konsumen 

ke satu operator ke operator lainnya. Bukankah kedua belah pihak 

menyalurkan energi secara positif dan mendapatkan keuntungan ke 

depan?



Bila dengan berbisik orang telah menoleh, teriakan pun menjadi 

sumbang dan hanya membuang energi. Namun, yang masih banyak kita 

saksikan adalah teriakan-teriakan di jalan hingga media cetak. 

Sayangnya.. teriakan itu pun belum mampu membuat mereka yang di atas 

menoleh barang satu detik yang berarti.



Salam,

Piet




=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke