Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/31/ln/3963825.htm
====================

"Sang Burung Besar akan terbang... mengisi dunia dengan kekaguman"
(Leonardo da Vinci, genius dan penemu dari Italia).

"Tuan dan Nyonya... tidak lama lagi kita akan mendarat ke Bandara
Changi di Singapura dan kita akan mendarat secara otomatis. Artinya,
komputerlah yang akan mengatur pendaratan. Namun, tidak usah cemas,
kami juga akan mengawasi." Itulah suara Pilot in command pesawat
Superjumbo Airbus A380 Robert Ting sekitar setengah jam sebelum
pesawat mendarat pukul 23.50 waktu Singapura, Jumat 26 Oktober lalu.

Selama setengah jam terakhir dari total penerbangan 7,5 jam dari
Sydney, kesan terhadap jet Superjumbo yang berkapasitas 471 penumpang
ini tak habis-habisnya, seolah membenarkan ucapan Leonardo da Vinci di
atas.

Ketika flap sudah mulai dikeluarkan—proses yang tampak dalam
keremangan cahaya bulan tanggal 14—muncul perasaan berat karena
penerbangan akan segera berakhir. Namun, hal itu tak terlalu
menyusahkan karena penerbangan Sydney-Singapura ini bukan akhir,
tetapi justru awal dari momen sejarah yang baru saja ditorehkan
Singapore Airlines (SIA) dan Airbus. Justru pada hari itu, berlakulah
apa yang disampaikan CEO SIA Chew Choon Seng ketika menerima
penyerahan A380 pertama di pabrik Airbus di Toulouse, 15 Oktober
silam, bahwa "Mulai hari ini, ada ratu udara baru dalam perjalanan
udara. Dan, sebagai operator pertama A380, maskapai Singapura ini
pantas berbangga karena ialah perusahaan penerbangan pertama di dunia
yang menguasai operasi pesawat penumpang paling besar di dunia ini.

Selain itu, ia juga maskapai yang sempat ikut dag-dig-dug dengan
berbagai keruwetan proses kompleks yang menyertai pembuatan A380. Jet
mutakhir ini dibuat dengan rangkaian proses lintas batas
negara—Perancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris. Satu hal yang bahkan
oleh Airbus yang sudah berpengalaman dalam membuat pesawat adalah
urusan pemasangan dan penataan kabel, yang total untuk A380 mencapai
sekitar 450 km.

Di luar itu, ide A380 memang dari awalnya kompleks sehingga membuat
pelaksanaannya harus diwujudkan oleh 18.000 pemasok yang tersebar di
30 negara. Dalam kenyataannya, tutur SilverKris (Okt 2007), memang
tidak ada fasilitas manufaktur yang cukup besar dan sanggup membangun
keseluruhan pesawat di satu tempat.

Keruwetan itu membuat A380 muncul terlambat, membuat Airbus kena
semprot dari berbagai penjuru, memunculkan ketegangan di antara
manajemen puncak, yang memaksa terjadinya pergantian CEO. Hal ini
mudah dimengerti karena, selain menampar citra, keterlambatan juga
membuat biaya pengembangan pesawat membengkak 50 persen dari anggaran
awal sebesar 12 miliar dollar AS dan rugi akibat kehilangan peluang
keuntungan sebesar 7 miliar dollar AS antara tahun 2006-2010.

Memetik buah

Kini jet yang lebih menyerupai hotel mewah daripada pesawat penumpang
itu sudah mulai diserahkan ke maskapai pemesan. Tahun 2008, Airbus
bertekad akan bisa menyerahkan 13 A380, tahun depannya 25, dan akhir
2010 sebanyak 45 pesawat.

Dengan pesawat yang interiornya ditata dengan apik oleh SIA itu,
harapan pun membubung, juga dari para penggunanya. Penumpang kaya
mungkin akan mencoba "suite", sebutan SIA bagi kabin kelas 1 plus yang
hanya dibuat 12 di dek utama ini. Seperti apa terbang di kabin yang
dirancang oleh Jean-Jacques Coste, perancang perahu pesiar (yacht)
Perancis, yang konon juga bisa untuk berbulan madu itu? Harga yang
dipatok untuk kelas ini adalah 5.127 dollar AS atau sekitar Rp 50 juta
untuk pergi-pulang Singapura-Sydney. Ruang privat dengan kursi-kursi
kulit dan dipan terpisah dengan kasur ini dibungkus kain berwarna krem
rancangan Givenchy.

Kalau ingin bekerja, ada colokan untuk laptop dan USB yang
memungkinkan penumpang menyiapkan bahan presentasi dengan program
Office yang tersedia. Kalau bekerja merupakan hal terlalu serius,
kanal hiburan pun menyediakan 100 film yang bisa dipilih untuk
ditonton dengan layar LCD berukuran 23 inci.

Selain 12 kelas suite, A380 punya 60 kursi kelas bisnis di dek atas
dan 399 kursi kelas ekonomi yang dibagi di bagian belakang dek atas
dan dek bawah. Meskipun toilet kelas satu dan kelas bisnis lega, SIA
tidak memasang pancuran mandi, sementara maskapai lain berencana
memasang fasilitas ini. Alasannya adalah hal itu akan membuat SIA
harus menyediakan banyak air, membuat bobot jadi terlalu berat untuk
jadi ekonomis, ujar Stephen Forshaw, Humas SIA, seperti dikutip New
York Times.

Dengan anggur berbagai pilihan serta berbagai layanan lain, SIA
berharap A380 bisa menjadi daya tarik untuk memikat penumpang yang
bertambah banyak di musim perjalanan yang dimulai Oktober-November
ini, khususnya untuk apa yang disebut sebagai Rute Kanguru, yang
mencakup Sydney-Singapura-London. Jalur Singapura-London dengan A380
sendiri baru akan dibuka Maret mendatang setelah SIA menerima A380
kedua. Selanjutnya, A380 yang datang kemudian akan digunakan untuk
melayani jalur ke Tokyo dan berikutnya lagi ke Hongkong dan San Francisco.

Dimulai dengan amal

Dengan layanan A380 yang setinggi gedung berlantai delapan ini, SIA
menorehkan berbagai hal penting. Pesawatnya sendiri banyak mengandung
teknologi canggih. Sebut saja mesinnya yang irit bahan bakar dan
bersih lingkungan. Pembuatnya—Rolls Royce yang berpusat di Derby,
Inggris—menggunakan teknologi canggih yang membuat mesin mengeluarkan
kebisingan rendah, hanya setengah dari kebisingan 747. Melihatnya
terbang di Pameran Kedirgantaraan Asia di Singapura, Februari 2006,
dan juga merasakannya sendiri dari kabin, penulis yakin akan klaim
Rolls Royce yang telah menyetel mesin dengan ilmu akustik maju. Karena
karakteristiknya ini, A380 juga dijuluki "Whispering Giant" (Raksasa
yang Berbisik).

Yang lebih menarik juga, mesin Trent 900 yang dipakai pada 10 A380 SIA
pertama juga ramah lingkungan, dengan emisi karbon dioksida 2,5 kali
lebih rendah per penumpang kilometer dibandingkan dengan mobil keluarga.

Dengan semua kelebihannya, A380 memang menerbitkan penasaran dan rasa
ingin tahu besar, seperti halnya ketika jet supersonik Concorde
muncul. A380 bahkan sudah mendapatkan lagu tema yang dibawakan oleh
penyanyi Italia, Diva Agata, berjudul Near to the Sky.

A380 kini sudah hilir mudik Singapura-Sydney dan sebentar lagi ke
daerah tujuan lainnya. Pesawat yang satunya disebut berharga 285 juta
dollar AS atau sekitar Rp 2, 8 triliun ini akan menjadi saksi bagi
pertumbuhan industri angkutan udara yang pesat, seiring dengan
pertumbuhan ekonomi banyak negara.

Proyek Airbus A3XX 19 tahun silam kini telah mewujud dan operasi
komersialnya ditandai dengan penjualan tiket secara lelang melalui
situs eBay. Hasil lelang sebesar 1,9 juta dollar Singapura atau
sekitar Rp 12 miliar telah disalurkan ke empat lembaga, satu di
Singapura, dua di Sydney, dan satunya lagi adalah Dokter Tanpa
Perbatasan (Medicins Sans Frontier) yang telah memenangi Hadiah Nobel
Perdamaian.

Dapat mengikuti penerbangan komersial perdana A380 menimbulkan banyak
kekaguman. Seperti halnya warga Sydney, khususnya para petugas Air
Traffic Controller di Bandara Kingsford Smith, Sydney, datangnya A380
di petang hari Kamis 25 Oktober lalu menimbulkan rasa persahabatan.
Tak heran kalau lalu mereka memanggilnya dengan sebutan akrab "Big Fella".



Kirim email ke