Rekan2, "work from home" mungkin juga suatu cara mengantisipasi kemacetan, dalam arti mengurangi jumlah orang dijalan menuju kantor dan pulang kerumah. cuma mungkin susah dapat ijin dari para boss. karena masih belum membudaya. sebuah perusahaan multinational dari Eropa, (bukan perusahaan besar), membuat peraturan dan saat ini hanya untuk para sales/ marketing nya saja. untuk bekerja dirumah dan langsung ke pelanggan2nya. tidak perlu ke kantor. kekantor hanya dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari Jumat dan dimanfaatkan sebagai sarana bersosialisasi dengan rekan sekantor, rapat dan diskusi2. dengan bekerja dirumah, yang tentunya dilengkapi dengan internet connection untuk baca e-mail, telepon, fax dan tentunya HP ... biaya2 ini tentunya dikompensasi oleh perusahaan. perusahaan tsb tidak memfokuskan pada kemacetan, tapi lebih pada penghematan. biaya sewa ruangan kantor supaya tidak memerlukan ruangan yang besar, listrik dan biaya transportasi dan lain-lain
untuk para karyawan dibagian sales/ marketingnya pun bermanfaat, karena terbebas dari stress dan kepikiran kemacetan-kemacetan yang ada saat ini. salam, DS ----- Original Message ---- From: B. Dwiagus Stepantoro <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, 8 November, 2007 2:06:55 PM Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Re: Fauzi Bowo: Program Busway Akan Dievaluasi Dari 7 juta yang menggunakan jalan itu , tak semuanya "terpaksa menderita". Ada yang "rela menderita" menyadari memang transportasi publik lah yang harus diutamakan,. .... sebagaian lagi "rela menderita" menunggu jalur busway terbangun dekat tempat tinggal mereka,.... B. Dwiagus Stepantoro Jakarta, INDONESIA http://bdwiagus. blogspot. com Just be open,... who knows lightning will strike!!
