Tulisan di bawah muncul dalam bentuk kolom di majalah TRUST edisi 5
November 2007.
Mudah-mudahan diizinkan oleh Bang AH. Mudah-mudahan bermanfaat
Salam hzm
DENDANG IBU KOTA
Hasan Zein Mahmud
Jakarta memang bukan Paris. Monas tak terlalu mirip Eiffel. Taman Monas
belum setanding dengan Place de la Concorde. Sebagai warga kota saya
sering bermimpi tentang sungai Ciliwung yang bertransformasi menjadi
Rhein. Yang disebut belakangan itu, sungguh indah, nyaman dan bersih.
Enak dilayari, entah untuk tujuan transportasi atau sekedar wisata, di
musim panas, gugur, semi maupun dingin. Sementrara Ciliwung tetap
notorious sebagai tempat pembuangan sampah terbesar dan wc terpanjang di
dunia. Janji manis tentang transportasi air yang didengungkan Gubernur
DKI sekian tahun lalu, hinga kini tidak lebih dari omong kosong dan
pemborosan.
Jangan pula bandingkan Paris Metro sub way dengan bus way Trans Jakarta.
Walau juga bejubel pada jam-jam tertentu, Metro sub way, bersih, aman
dan tepat waktu. Dan yang lebih penting memenuhi fungsinya sebagai
sarana transportasi massal. Bus way Jakarta adalah projek instant,
dipaksakan tanpa konsep jelas, dibangun dengan "merampok" fasilitas
publik yang sudah minim. Aku sering merasa rindu saat-saat menapaki
trotoar kota Paris yang bersih dan lindap ketika menelusuri trotoar
Jakarta yang sempit dan berdebu di terik matahari.
Jakarta memang bukan Bogota. Walau konon bus way Jakarta diilhami oleh
bus way dari ibu kota Kolumbia tersebut. Di Bogota bus way dibangun di
atas jalur baru, meliputi jaringan yang luas ke seluruh sudut kota.
Bersamaan dengan pembangunan bus way, taman-taman kota terbentang luas.
Bus way Jakarta dibangun dengan "menggasak" jalur hijau yang tinggal
sedikit. Tak heran kalau Eric Pinalosa, mantan walikota Bogota dalam
kunjungannya di Jakarta menyatakan Jakarta sebagai kota yang sedang
sakit. Terlalu banyak mal dan pusat perbelanjaan dan terlalu sedikit
public spaces, banyaknya ruang terbuka hijau yang disulap menjadi area
komersial dan tentang trotoar yang jadi pasar. It is about economy
stupid! Kata Clinton. Pembangunan public spaces memang tak banyak
menjanjikan upeti.
Jakarta memang bukan Bangkok. Bangkok yang beberapa kali aku kunjungi,
di awal 1990an macet melebihi Jakarta. Konon waktu itu untuk
mengantisipasi lalu lintas yang stuck, setiap pengendara mobil pribadi
menyiapkan pispot dalam mobilnya. Entah benar entah ejekan.
Namun Bangkok hari-hari ini sudah jauh meninggalkan Jakarta. Di sana
kini Anda bisa menikmati sub way atau sky way. Jalan-jalan baru yang
mulus, jalan-jalan lama yang lebih lebar, taksi dan kendaraan umum yang
jauh lebih lancar dan nyaman. Juga perbaikan kualitas pelayanan di
kereta api. Kini Anda bisa menikmati jarak antara Suvarnabhumi - bandara
baru penganti Don Muang - ke down town Bangkok dengan menggunakan
fasilitas sub way yang sungguh wow. Di sini kita memang masih bisa
menemukan tuk-tuk, alat transport yang mirip bajaj, namun tidak
(terlalu) berisik, lebih ramah lingkungan dan..... lebih manusiawi.
Oh ya, di tengah kota Bangkok mengalir sungai Chao Phraya. Kendati keruh
tapi bersih. Di permukaannya yang tenang, memanjang iring-iringan kapal
wisata dan tongkang barang (berges). Di kiri kanan sisi sungai kita bisa
melihat klaster enceng gondok, yang konon diimpor dari Indonesia, untuk
menahan laju sampah di permukaan sungai.
Jakarta memiliki sederet panjang konotasi negatif. Selain kemacetan lalu
lintas yang amat parah, juga gunung-gunung sampah, pemukiman liar,
jumlah besar pengangguran dan pencari kerja, tindak kriminal yang tak
pernah sepi, perkelahian dan kekerasan, "sorga" narkoba dan prostitusi.
Metropolitan, pusat serba kepalsuan ditransaksikan! Herannya, daftar
panjang itu tak membuat orang jeri dan jera. Ratusan ribu pendatang baru
atau pendatang "kambuhan" menyerbu Jakarta setiap tahun.
Boleh jadi kita memang bangsa yang lamban merespons perubahan dan
perkembangan. Satu kesimpulan mungkin bisa pasti: Jakarta adalah etalase
tentang kepincangan antara fasilitas publik dan kekayaan pribadi.
Kesenjangan yang makin lebar antara ketersediaan public goods dan
pameran private assets. Dalam skala yang lebih makro ia juga
mencerminkan ketimpangan infrastruktur antar daerah. Persoalan mendasar
semacam itu, tentu tak cukup hanya dijawab dengan sebaris kalimat dalam
lagu: "Siapa suruh datang Jakarta".....
Jakarta 31 Oktober 2007
[Non-text portions of this message have been removed]