Oleh Rosihan Anwar http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/09/opini/3977493.htm ===================
Hari ini, memperingati perjuangan arek Suroboyo 10 November 1945, saya ingin berhenti memitoskannya atau mendewa-dewakannya, sejauh mengenai diri saya sebagai wartawan dan pelaku sejarah saat itu. Untuk menghapuskan mitos, ada ungkapan, demitologisasi. Orang lain bilang debunking menolak aneka kepalsuan seseorang. Saya pakai istilah true confessions, pengakuan-pengakuan sejati. Kisahnya. Waktu fajar 12 November 1945, peron Stasiun Wonokromo. Sayawartawan harian Merdeka (23)beserta rekan Mohamad Supardi keluar dari kereta api, terdiri dari satu lokomotif dan dua gerbong berisi amunisi untuk pemuda Surabaya. Semalaman, dalam perjalanan dari Stasiun Tugu Yogyakarta, pekik perjuangan bertalu-talu: Merdeka, merdeka, Bung. Cepat-cepat keluar dari stasiun. Sebuah kereta api penuh kaum pengungsi siap berangkat. Di udara melayang-layang pesawat Inggris Thunderbelts. Suasana perang terasa. Seorang anggota PT (Polisi Tentara) mencari mobil untuk kami. Dalam perjalanan menuju Surabaya, kami dicegat seorang pemuda Ambon membawa senapan. Ia ingin menumpang. "Bangsat, kitorang belum sarapan dia sudah jatuhkan bom. Nanti beta hajar". Pemuda Ambon ini berjuang untuk Republik. Markas Pemuda Republik Indonesia (PRI). Di lantai sebuah kamar, seorang lelaki Ambon sedang merintih. "Dia mata-mata NICA-Belanda. Sedang diperiksa," ujar pengantar kami. Pasti orang itu dalam interogasi telah disiksa. Revolusi memang kejam. Rumah sakit umum. Direktur Prof Dr Syaaf, putra Kotagadang, membawa kami dari satu bangsal ke bangsal lain. Di sana dirawat rakyat yang luka-luka, korban tembakan dalam pertempuran. Berbagai logat bahasa daerah terdengar. Seluruh bangsa Indonesia ikut dalam perjuangan Surabaya. Bertemu gadis-gadis yang bekerja di Palang Merah Indonesia. Mereka baru kembali mengantar makanan ke garis depan, di bawah tembakan mortir tentara Inggris. "Mari saudara, makan dulu," kata mereka kepada pemuda yang telah lelah bertempur. Berkeliling ke beberapa bagian kota, jalanan sunyi. Tampak banyak wanita tinggal di rumahnya meski Residen Sudirman dan Wali Kota Surabaya menyerukan agar wanita dan anak-anak mengungsi. Malam hari, di sebuah rumah kampung di tengah sawah, yang ditinggalkan penghuninya. Di situ kami menginap. Merebahkan diri di atas bale-bale yang lembap. Sepanjang malam udara bergegar, karena kapal-kapal perang Inggris terus menembak dari jurusan Selat Madura. Supardi, yang sebelum jadi wartawan adalah guru Taman Siswa di Medan, sebentar-sebentar berkata, "Waduh apa iki?" Kami tidak dapat memicingkan mata. Baru menjelang subuh, saking terlalu letih, kami tertidur sekejap. Pagi hari di sebuah rumah di tengah kebun pisang. Markas pemuda pejuang. Senapan mesin ditumpukkan di situ. Pemimpinnya Ruslan (kelak anggota pimpinan PKI). "Berjuang seperti arek Suroboyo. Jangan lagi pakai diplomasi. Dengan Inggris kita tidak dapat berdiplomasi lebih lama," kata Ruslan. Mitos Kami mau menuju front pertempuran terdepan, tetapi kami dinasihati agar tidak ke sana, risikonya terlalu besar. Tidak jelas di mana garis pertahanan para pemuda kita, dan di mana musuh berada, kata pengantar kami. Kami mencari Sumarsono, pemimpin PRI, yang memimpin delegasi Jawa Timur ke Kongres Pemuda di Yogyakarta tanggal 10 November. Saat itu, pukul 11.00, datang berita telepon interlokal, Surabaya dibom tentara Inggris di bawah Mayjen Mansergh. Sumarsono segera ke podium dan memerintahkan delegasinya keluar dari Societeit Mataram, langsung balik ke front. Seorang anggotanya, Boes Effendi (kelak diplomat), juga berangkat. Namun, selama di Surabaya, saya tidak pernah melihat Sumarsono dan Boes Effendi. Sumarsono yang dikenal sebagai tokoh pemberontakan PKI di Madium 10 September 1948kini menjadi warga negara Australiamungkin hanya sampai Mojokerto atau tinggal di Malang? Jadilah ini pelajaran bagi kita untuk tidak memitoskan seseorang sebagai pahlawan. Seorang TP (Tentara Pelajar) mengantar kami keluar dari Surabaya. Di Jalan Darmo, di sebuah rumah, kami bertemu sekelompok pelajar berusia 17-20 tahun sedang ngaso. Mereka ikut bertempur dengan tekad "biar kita tenggelam dalam lautan darah dan api, tidak mau dijajah lagi". Bulan November 1945 itu, saya sudah ke Surabaya, tetapi tidak pernah sampai ke front pertempuran paling depan. Jadi apa yang saya banggakan? Maka bila saya menulis bahwa saya adalah wartawan perang di zaman revolusi, hal itu tak lebih hanya mitos. Rosihan Anwar Wartawan Senior
