"Masalah kemacetan lalu lintas di kota makasar dibenahi"
Begitu katanya, tapi bagaimana, membenahinya..... 

Ada dua pendekatan penting dalam pengelolaan sistem transportasi perkotaan,.. 
Transport demand management, TDM .... 
 - pengendalian penggunaankendaraan pribadi
- pembenahan landuse yang lebih compact
-  road pricing,fuel taxing
- parking pricing management,
- flexi-working hours

Supply Management,.....
- selain penambahan panjang jalan (kalau memungkinakan), juga perbaiki dan 
priritaskan transportasi umum yang massal,... 
kalau bisa MRT subway, atau monorail,.... kalau sederhana yah busway,.... 
sebelum terlambat, angkutan umum harus jadi fokus kebijakan,....... jangan 
angkutan pribadi,..... 

Bagusnya TDM juga diperhatikan,...

tapi segala upaya untuk mendorong angkutan umum berada di jalan utama dan 
diprioritaskan, wajib didukung,..dan itu tidak sesat,... dinegara manapun, itu 
tidak sesat. 
 
B. Dwiagus Stepantoro   
Jakarta, INDONESIA
http://bdwiagus.blogspot.com 
Just be open,... who knows lightning will strike!!



----- Original Message ----
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, November 9, 2007 9:59:41 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Makassar, Makin Tua Makin Tak Nyaman

http://www.kompas. com/kompas- cetak/0711/ 09/daerah/ 3980796.htm
============ ========= ===

Sehabis mengajar di Universitas Hasanuddin, Jayadi Nas (36), doktor
ilmu politik lulusan Universitas Indonesia, menancap gas mobilnya ke
arah Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Selasa (6/11) sore itu di
rumahnya, di kawasan Baraya, telah menunggu pekerjaan selanjutnya:
menyusun makalah untuk suatu seminar.

Namun, perjalanan yang harus dilalui tak semulus yang diharapkannya.
Kemacetan lalu lintas di jalan poros dari Bandar Udara Hasanuddin ke
arah pusat Kota Makassar memaksa semua pengendara bersabar. Makin
merangsek ke arah kota, laju kendaraan makin rendah, terlebih di depan
sebuah mal baru dekat Jembatan Tello.

Jayadi akhirnya pegal, bolak- balik menginjak pedal kopling, gas, dan
rem. Ia pun segera memutuskan mencari jalan alternatif. "Tak apalah
membuang waktu dan bahan bakar tiga kali lebih banyak ketimbang
terjebak kemacetan yang tak berujung," demikian pendapatnya.

Namun, jalan tol dari Sudiang yang ia bidik ternyata terendam akibat
banjir dengan ketinggian air sekitar 50 sentimeter. Padahal sore itu
baru sekitar satu jam Makassar diguyur hujan. Kondisi inilah tampaknya
yang mengakibatkan para pengendara dari pinggiran timur Makassar yang
ingin ke pusat kota memilih Jalan Perintis Kemerdekaan- Urip Sumoharjo.

Jayadi baru sampai di rumahnya pukul 21.00 Wita. Jarak 12 kilometer
antara kampus dan rumahnya, yang normalnya ditempuh 30 menit, kali ini
harus dilalui selama enam jam.

Dua kilometer per tahun

Kemacetan lalu lintas menambah daftar panjang permasalahan Kota
Makassar yang Jumat (9/11) ini genap berusia 400 tahun. Jika kota ini
mengklaim dirinya sebagai pusat pelayanan dan gerbang Kawasan Timur
Indonesia, pembenahan lalu lintas tentunya patut diprioritaskan.

"Saatnya masalah lalu lintas dibenahi sebelum kota ini macet seperti
Jakarta," kata Sahabuddin (41), warga Jalan Gunungsari, Makassar,
menggerutu.

Wali Kota Makassar Ilham Arief Siradjuddin mengatakan, tidak
seimbangnya antara laju pertambahan kendaraan dan panjang ruas jalan
menjadi penyebab kemacetan itu.

Penambahan panjang jalan di kota itu, menurut Ilham, tidak pernah
lebih dari dua kilometer per tahun. Sementara laju penambahan
kendaraan umum dan pribadi tak terbendung.

Saat ini, katanya, di Makassar terdapat jalan kota sepanjang 1.550
kilometer (km) dan jalan nasional 45,29 km. "Menambah panjang jalan
tidak mudah, sebab untuk merawatnya saja dibutuhkan Rp 100 miliar per
tahun," kata Ilham menambahkan.

Mengacu pada jumlah penduduk yang 1,5 juta jiwa, Ilham menilai, jalan
sepanjang itu idealnya hanya diisi 3.000-4.000 pete-pete (angkutan
umum). Nyatanya, sekarang terdapat 6.500 pete-pete. "Itu belum
termasuk pete-pete dari Sungguminasa dan sekitar 2.000 taksi," ujarnya.

"Belum lagi mobil pribadi yang beragam merek laris manis di kota ini,"
tutur Ilham, seraya mengatakan, semua itu adalah dampak dari
pertumbuhan ekonomi yang 8,6 persen pada tahun 2006 dan dampak
investasi dari berbagai pihak senilai Rp 7 triliun dalam tiga tahun
terakhir.

Investasi sebesar itu tersebar ke berbagai usaha barang dan jasa yang
mencakup, antara lain, properti, perhotelan, dan hiburan. Oleh wali
kota, investasi tersebut dijadikan penyumbang bagi pendapatan asli
daerah (PAD) yang tahun ini mencapai Rp 100 miliar.

Semrawut

Melihat pembangunan fisik di kota yang satu ini patut diakui bahwa ada
perkembangan yang cukup signifikan. Pusat kegiatan ekonomi tumbuh di
mana-mana. Deretan rumah toko (ruko) berdiri megah di banyak tempat
meski tak berpenghuni dan ditempeli tulisan "disewakan" atau "dijual",
seperti di kawasan Tanjung Bunga, Tamalanrea, dan Panakkukang.

Akan tetapi, Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas
Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Kahar Mustari menilai, pengembangan kota
yang berorientasi PAD itu kini semrawut dan mengingkari masterplan.

Tamalanrea yang ditetapkan sebagai kawasan pendidikan, misalnya, kini
ditambah mal dan ruko. Demikian pula kawasan hunian Panakkukang yang
sekarang sudah berbaur dengan ruko dan mal. "Udara pun makin panas,
karena ruang hijau sudah tergantikan menjadi hutan beton," kata Kahar.

Belakangan ini suhu udara di Makassar rata-rata 37 derajat Celsius.
Padahal pada tahun 1980-an masih tercatat rata-rata 32 Celsius.

Kesemrawutan fisik kota tersebut tampaknya berkorelasi dengan psikis
dan perilaku manusia. Mahasiswa sebagai calon intelektual muda nyaris
setiap hari tawuran. Parahnya, acapkali hal itu terjadi di kampus
pencetak guru.

Pakar sosiologi dari Unhas Dr M Darwis melihat fenomena itu sebagai
kejutan budaya. Budaya pop dari pengaruh kapitalisme yang reaktif
diserap mentah- mentah tanpa disaring sesuai dengan budaya lokal,
sipakatau, sipakalebbi (saling menghargai). "Dalam situasi begini,
orang mudah mengamuk."

Hal itu, lanjut Darwis, diperparah dengan kecenderungan mahasiswa yang
tinggal di pemondokan dengan rekan sedaerah asal. "Hal ini membuat
toleransi dengan orang lain tidak tumbuh," ujarnya.

Di usia yang makin tua dan matang, Makassar mestinya makin nyaman bagi
warga dan pendatang. Namun, yang ada justru sebaliknya. (DOE/REN/NAR)




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke