Sekali lagi saya kecewa dengan berita Kompas hari ini (21/11) tentang
jalan tol. Kompas tampak memihak dan mengumbar ekspos dari kalangan
yang setuju dengan "perlu hanya menteri" untuk menentukan ganti rugi
pembebasan tanah. Jika mengalami deadlock dalam pembebasan
tanah,begitu tulis Kompas, jalan satu-satunya ialah membawanya ke
pengadilan. Betapa Kompas tidak seimbang (inbalance) dan tidak meliput
dari dua sisi (cover bothside). Pada hal jelas telah ada Penpres No.
65/2005 sebagai koreksi thd. Penpres No. 35 bahwa semua harus melalui
proses musyawarah antara tiga komponen: P2T (panitian pengadaan tanah)
pemilik tanah dan tim apraisal independen.
Tidak ada upaya untuk meminta pendapat pakar hukum, korban penggusuran
dan pihak pemerintah, misalnya BAppenas atau Depkeu. Menteri Keuangan
Sri Mulyani, pernah mengatakan bahwa "investor juga harus menanggung
risiko terhadap pembebasan tanah." Kita maklum, Kelompok
Gramedia-Kompas baru saja masuk menjadi investor jalan tol. Redaktur
dan wartawan Kompas telah menjadi bagian dari tim marketing pemilik
media. Kompas tidak lagi menjadi independen, hal ini terjadi sejak 30
tahun lalu di AS. Pemilik modal media melakukan komodifikasi dan
spasialisasi dan telah lama dikeluhkan oleh pakar komunikasi AS
senderi. Media mengembangkan usaha untuk memupuk modal dan perusahaan
(konglomerasi) dan ternyata kemudian audiens adalah bagian dari pasar
konglomerasi media. McChesney menyebut(1998:29,"jelas ini semua
memberikan  akibat yang sangat buruk bagi kehidupan politik yang
demokratik.Perniagaan media  merupakan suatu sistem perdagangan yang
menciptakan pelbagai batas terhadap kehidupan politik dan  budaya.
Mereka itu, 뱓idak memiliki satupun yang dapat mereka katakan, tetapi
banyak sekali yang dapat mereka jual.�  Akibatnya ialah, media massa
kehilangan daya tekannya ke atas peranan dan kuasa ekonomi dan
politik. Fakta-fakta ini menunjukkan betapa tidak berdayanya
(kebebasan)media manakala berhadapan dengan kekuatan raksasa
ekonom.Jalan terbaik ialah, newsroom harus memebabaskan dirinya dari
campur tangan pemilik.
Kini Kompas telah memasuki era menentukan dalam sejarahnya: Pilih
pembaca atau pemilik(kapitalis). Dalam sebulan saja Kompas telah dua
kali menunjukkan keberpihakannya kepada modal(investor jalan tol, dan
Kompas ada di sana). Jika masih berlanjut, bulan depan (Desember) saya
tidak lagi menjadi pelanggan Kompas yang telah saya lalui sejak tahun
1971. Tidak ada arti ekonomi bagi Kompas, tapi hal tersebut harus saya
lakukan.
Wassalam.

Kirim email ke