Wah makin marak nih....
   
  Kehadiran Mbak Mega di tengah2 rakyat saat ini menurut saya bukan sekedar 
basa-basi. Komunikasi politik ini tentunya akan diteruskan melalui instrumen 
partai lainnya seperti Fraksi PDIP di tingkat Pusat maupun Daerah. Dan sebagai 
Partai Oposisi adalah tugas semestinya yang harus dijalankan adalah melakukan 
kritik terhadap Pemerintah, terutama kebijakan2 yang secara langsung terkait 
dengan rakyat. Lalu yang disambangi oleh Mbak Mega kan rakyat2 kecil yang tidak 
memiliki akses komunikasi politik yang baik. Mungkin juga pasif secara politik. 
Jadi klop kan kunjungan Mbak Mega ini.... Protokoler pastilah ada, karena walau 
bagaimanapun Mbak Mega kan mantan Presiden RI, tapi tidak terlalu ketat dan 
formal. Kalau sangat ketat manalah mungkin Mbak Mega bisa makan siang santai di 
berbagai warung2 kecil di berbagai kota yang disinggahinya?
   
  Cara ataupun metode yang dilakukan oleh Mbak Mega juga tidak bisa dibilang 
kuno lho....karena kandidat Presiden AS yang akan bertarung pada tahun depan 
juga masih melakukannya dengan model dialog langsung. Dan secara komunikasi 
politik, metode inilah yang sangat efektif untuk menyerap aspirasi publik dan 
memperkuat ikatan emosional publik dengan sang Kandidat. Contohnya, beberapa 
hari dalam lawatannya ke Iowa, Obama memberikan kesempatan untuk berdialog 
secara langsung kepada koran-koran lokal. Dimana dengan dialog tersebut Obama 
bukan sekedar menyapa kepada publik secara lebih intens akan tetapi juga jauh 
lebih dalam dengan "menyentuh" emosional publik calon pemilih. 
   
  

Ignas Iryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ikut nimbrung dikit boleh khan.

Menurut saya sah sah saja Mega mulai melakukan manuver...toh yang lain juga 
melakukannya. Hanya metodenya yang kuno, tidak kreatif serta tidak menarik. 
Datang sebagai sang putri yang menyapa berbasa-basi (segala yang formal penuh 
dengan protokoler adalah basa basi). Saya yakin, bahwa kesan yang muncul 
hanyalah dikulit yang dapat disapu jika calon lain lebih kreatif melakukan 
"kampanye".

Sayang, kita belum melihat langkah strategis dari Sultan jogya. Langkah pertama 
adalah menunjukkan bahwa Sultan bukan hanya pemimpin jogya namun juga adalah 
pemimpin bangsa. 

Salam, Irry.

Kirim email ke