Oleh TRISNO S SUTANTO
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/28/opini/4034121.htm
======================


"Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tetapi bukan iman kepada
Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan
kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena
Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran." Bisa
juga ditambahkan: Tuhan yang tak (pernah) selesai.
• Untuk GM, dengan hormat

Berhubung judul esai ini bisa dianggap mengada-ada, atau bahkan rentan
dituduh sirik, maka biarlah ditegaskan dari awal bahwa judul esai ini,
seperti juga perspektif yang hendak dikembangkan di sini, berutang
pada buku baru Goenawan Mohamad, sebuah kumpulan 99 tatal yang
memukau, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai (Jakarta: KataKita, 2007).

Memang saya tidak akan membahas hal-hal lain yang juga tidak selesai
dari berbagai tatal yang berserakan dalam buku itu, tetapi "hanya"
menyinggung soal Tuhan yang, bagi saya (dan saya yakin bagi GM juga),
suatu perkara yang tak (pernah) selesai. Saya berutang padanya karena
esai ini juga ditulis, sama seperti buku itu, "di masa yang seperti
kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah
penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan,
tetapi juga membingungkan dan menakutkan".

Saya yakin GM tidak mengada-ada. Hari-hari ini nama Tuhan diserukan
dan dipanggil pada setiap titik dalam perjalanan waktu hampir tanpa
jeda. Dan "agama"—karena perkara Tuhan, paling tidak di negeri ini,
hampir tak (pernah) dapat dilepaskan darinya—serba hadir (omnipresent)
dalam setiap ruang kehidupan, dari yang paling intim personal sampai
pada urusan publik. Agama telah menjadi bahasa, atau bahkan
satu-satunya bahasa yang memberi gramatika dan kosakata untuk
menangkap, merumuskan, dan menanggapi perkara-perkara hidup
sehari-hari. Saya pernah menengarai (Bentara, 1 April 2006) bahwa
keserbahadiran agama menjadi bermasalah karena wajah ganda
keterbelahan akut yang dewasa ini begitu kuat melanda pandangan
keagamaan kita: pada satu sisi, bahasa itu tidak pernah melalui
kritik-dakhil yang sangat dibutuhkan; dan, pada sisi lain, bahasa itu
dicangkokkan tanpa perspektif sosiologis.

Lewat ke-99 tatalnya GM seperti mencari cara baru untuk membicarakan
Tuhan—dan agama—yang, mungkin, dapat meretas jalan keluar dari
perangkap wajah ganda krisis itu, sembari mengakui bahwa setiap upaya
membicarakan Tuhan berarti memasuki pembicaraan yang tak (pernah)
selesai. Esai ini mau mengikuti pergulatan GM dalam mencari kosakata
dan cara-cara baru dalam membicarakan Tuhan. Saya kira GM adalah salah
satu dari sedikit orang di negara ini yang mau bergumul dengan
persoalan pelik tentang keterbatasan bahasa untuk mengungkapkan
sesuatu yang, pada dasarnya, tak terpermanai, tidak dapat dikatakan,
atau dikonsepkan.

Keterbatasan dan keniscayaan bahasa

Persis pada titik itu GM menyentuh persoalan inti dari setiap proyek
teologi yang berambisi mau membicarakan Tuhan, membuat logos tentang
theos—sebuah proyek yang, sudah dari sejak awal mulanya, memang
problematis. Saya teringat pada anekdot yang diceritakan Dorothee
Sšlle, perempuan teolog dari Jerman saat mengunjungi Martin Buber.
Ketika filsuf Yahudi itu bertanya apa profesinya, Sšlle menjawab
singkat: teolog. Buber memandanginya, lalu berkomentar pendek,
"Bagaimana mungkin membicarakan yang tak dapat dibicarakan?"

Bagi Buber, orang yang besar dalam tradisi Yudaisme yang bahkan
melarang menyebut nama YHWH dalam ibadah mereka di sinagoga, ambisi
teologi untuk membuat logos tentang theos sungguh muskil. Upaya
seperti itu dengan mudah terjebak menjadi—untuk menyitir pemikir
kontemporer dari Perancis, Jean-Luc Marion, yang sering dikutip
GM—"berhala konsep" yang kerap kali justru "telah menggantikan
Tuhan-itu-sendiri" (hlm 157). Akan tetapi, pada saat bersamaan orang
juga harus menyadari bahwa bahasa yang terbatas dan "selamanya
terlibat dalam kemusrikan" itu juga dibutuhkan untuk membahasakan
Tuhan, walau "Di depan Ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, lidah tak bisa
bertingkah" (hlm 54).

Posisi yang serba-taksa ini, yakni kebutuhan yang niscaya akan bahasa
tetapi sekaligus kesadaran akan keterbatasannya, telah menjadi ruang
hermeneutis kontemporer untuk membicarakan pengalaman religius yang
selalu memikat, tetapi menakutkan. Agaknya baru pada masa sekarang
inilah kesadaran akan keterbatasan bahasa justru menjadi bahasa baru
dalam mengungkapkan Yang Maha Tak-Tersamai. Kita harus menelisik soal
ini lebih dekat.

Memang benar, kesadaran akan keterbatasan bahasa sudah sejak lama
disuarakan oleh para mistikus besar. Bahkan, dalam Buddhisme Zen
kesadaran ini sering diungkapkan dengan cara yang ekstrem. Kasus
Shanhui, salah seorang master Zen yang paling luar biasa dan dijuluki
sebagai Bodhisattva, bisa disebut contoh paradigmatis. Suatu kali
dikisahkan Kaisar Wu dari Dinasti Liang (502-549) meminta Shanhui
membabarkan Sutra Intan. Sang master datang, naik podium yang telah
disediakan, lalu memukul meja dan pergi. Sang Kaisar terkejut dan
bertanya apa artinya. "Tidakkah Paduka memahami?" kata Shanhui. "Saya
telah selesai memberi ceramah...".

Boleh jadi tindakan eksentrik para guru Zen seperti Shanhui itulah
yang membuat David J Kalupahana menggolongkan tradisi kerohanian Zen
sebagai "tradisi tanpa suara" (the voiceless tradition). Soalnya, para
guru Zen sangat menyadari betapa terbatas kata-kata untuk
mengungkapkan kebuddhaan, satori, kebenaran, atau bahkan Zen itu
sendiri. Metafora yang sering dipakai dalam Zen untuk melihat bahasa
adalah seperti jari yang menunjuk bulan. Bukan jari, atau bahasa yang
penting, tetapi bulan itu sendiri. Namun, pengalaman keagamaan kerap
memperlihatkan bahwa orang sering sibuk berdebat atau bahkan bertempur
sampai berdarah-darah justru tentang jari yang menunjuk,
rumusan-rumusan dogmatis yang ada, ritus atau aturan hukum, ketimbang
mencari pengalaman religius yang otentik, yakni perasaan akan
kehadiran Tuhan yang selalu, kata GM, "luput dari alfabet" karena
alfabet, pada akhirnya, hanyalah "sebuah organisasi, urutan yang hanya
dihafal dan tak perlu dihayati" (hlm 31).

Zen memang contoh yang ekstrem tentang kesadaran akan keterbatasan
kata-kata dalam menangkap dan membahasakan Realitas paling ultim yang
kita sebut "Tuhan". Namun, kita juga menyadari bahwa, betapa pun
terbatasnya kemampuan kata-kata, pengalaman religius yang otentik
tetap butuh dibahasakan. Tanpa pembahasaan itu, pengalaman
religius—atau pengalaman apa pun!—hanya akan menjadi momen peristiwa
sesaat, sebelum akhirnya lenyap dalam kesunyian. Atau, yang juga
sering terjadi, pengalaman itu hanya menjadi milik segelintir orang
"terpilih" dan tidak dapat dibagikan.

Sebagai seorang penyair liris, GM sangat menyadari ketaksaan ini.
Momen-momen puitis selalu tidak pernah dapat direngkuh sepenuhnya oleh
kata-kata. Akan tetapi, pada sisi lainnya, kata-kata, terutama dalam
puisi, selalu juga menyimpan ruang-ruang di mana enigma memperoleh
suakanya, yang membuat setiap konstruksi tentang realitas jadi tidak
pernah utuh, komplet, atau final, tetapi selalu terbuka bagi misteri
yang melangkaui bahasa. Seperti Boris Pasternak ketika mendefinisikan
puisi dalam empat larik padat yang dikutip GM (hlm 55):

Siul yang jadi matang di saat sekejap

Kertak suara es di angin kedap

Malam yang mengubah hijau jadi beku

Duel suara bulbul dalam lagu

Setiap larik adalah momen peristiwa yang sekejap muncul untuk kemudian
hilang. Namun, sang penyair menyadari betapa tak ternilai momen-momen
itu sehingga butuh dibahasakan, betapa pun terbatasnya, agar dengan
itu dapat dibagikan dan disyukuri. Apa yang dilakukan Pasternak
hanyalah "membikin abadi yang kelak retak", seperti judul tinjauan A
Teeuw yang memesona tentang syair-syair GM.

Saya kira tugas seorang teolog pada masa sekarang, pascakritik Kant,
kegilaan Nietzsche, dan die Kehre Heidegger, mirip dengan tugas para
penyair: dengan keterbatasan kata-kata mau mengabadikan yang kelak
retak itu! Bagian berikut mau mengelaborasinya.

Menantikan Sang Mesias

Kritik Kantian yang mencerminkan ghirah Pencerahan telah menjadikan
cara bicara metafisik tentang Tuhan menjadi tidak mungkin karena harus
tunduk pada batas-batas akal budi semata. Di awal abad lalu Nietzsche
mengabarkan kematian Tuhan metafisik sembari mengajak kita "berteologi
dengan palu". Dan, Heidegger mengumumkan berakhirnya onto-teologi,
lalu mengganti bahasa diskursif filsafat menjadi puisi.

Masing-masing raksasa pemikiran itu telah mendorong proyek teologi
sampai pada batas-batas akhir daya ucapnya. Lewat mereka kita
menyadari bahwa ambisi teologi untuk membuat logos tentang theos
adalah sebentuk kemustahilan, atau akan menemui jalan buntu (aporia)
jika memang mau dengan jujur dijalani. Akan tetapi, kesadaran akan
aporia itu justru menjadi retakan di mana Yang Maha Tak-Tersamai
menyingkapkan Wajah-Nya. Momen tersebut—"kejadian" atau l'vnement-nya
Alain Badiou yang berkali-kali disebut GM—tidak pernah dapat ditebak
atau direncanakan, tetapi selalu "mengguncang dan mengubah keadaan
yang berlaku, seakan-akan dari nihil" (hlm 39).

Dalam l'vnement yang dirujuk Badiou, waktu memasuki matra dan memiliki
kualitas yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Di situ orang tidak
lagi berbicara chronos, waktu sehari-hari yang dapat diukur dan
digunakan, tetapi memasuki matra kairos, kejadian yang tiba secara
mendadak dan penuh misteri. Ini seperti kedatangan sang Mesias dalam
cerita aneh Maurice Blanchot. Menurut Blanchot, mari kita andaikan
sang Mesias, dengan menyamar, datang di pintu gerbang Roma, tinggal
bersama kaum gelandangan dan penderita lepra. Namun, walau orang
mengenalinya, mereka akan tetap bertanya pada Sang Mesias, "Kapan kau
akan datang?" sebab bukan kedatangan itu sendiri yang menjadi pokok,
tetapi justru penantian (adventus) yang penuh harapan.

Cerita Blanchot, yang kerap didiskusikan Derrida maupun Levinas, mau
menggarisbawahi aspek yang selama ini sering terlupakan dalam
kesibukan teologi: bahwa Sang Misteri lebih tepat diungkapkan sebagai
janji ketimbang pengada (being). Blanchot seperti melukiskan apa yang
dirayakan selama minggu-minggu advent dalam liturgi gerejawi: bukan
hanya penantian akan Natal, kelahiran Yesus yang "menandai Yang Suci
masuk merasuk ke dalam hidup sehari-hari dan Yang Kekal menempuh laku
temporal" (hlm 120), tetapi sekaligus juga pengharapan akan parousia,
saat di mana—dalam ungkapan eskatologis Paulus—"Allah menjadi semua di
dalam semua". Maka, bahasa Sang Misteri bukanlah bahasa kepastian,
peraturan, ritus, hukum, atau rumusan dogmatis, melainkan bahasa
harapan yang selalu terbuka bagi masa depan yang tidak pernah dapat
diduga, bagi l'vnement.

Dengan kata lain, kesadaran akan keterbatasan daya ucap teologi untuk
merumuskan Yang Maha Tak-Terpermanai justru membuka retakan yang
memungkinkan bahasa harapan kembali menyapa kita. Bagi GM, dalam
tulisannya yang lain beberapa waktu lalu (Bentara, 6 Oktober 2007),
lebih baik orang menerima keterbatasan bahasa sebagai sesuatu yang tak
terelakkan, dan belajar untuk "hidup dengan janji: kelak ada Makna
Terang yang akan datang—betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti
hidup dalam iman, tetapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai
diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak
henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan
datang, Tuhan dalam ketidakhadiran." Bisa juga ditambahkan: Tuhan yang
tak (pernah) selesai.

Saya yakin itulah kosakata baru yang sangat kita butuhkan untuk
membahasakan kembali pengalaman religius tentang kehadiran Tuhan yang
selalu "luput dari alfabet" itu. "Tiap masa," tulis GM, "selalu ada
orang yang mengembara dan membuka kembali pintu ke gurun pasir tempat
Musa—yang tak diperkenankan melihat wajah Tuhan—mencoba menebak
kehendak-Nya terus-menerus. Di sana, tanda-tanda tetap merupakan
tanda-tanda, bukan kebenaran itu sendiri. Di sana banyak hal belum
selesai" (hlm 41). Kumpulan ke-99 tatal GM adalah semacam
noktah-noktah dari pengembaraannya ke gurun pasir, locus classicus
dalam cerita Alkitab bagi l'vnement, saat di mana Sang Misteri
menyingkapkan Wajah-Nya.

And the rest is silence, kata Hamlet.

TRISNO S SUTANTO Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat Dialog Antar
Agama), Jakarta 

Kirim email ke