Turut berduka cita untuk Mas Hudan Hidayat sekeluarga. Semoga diberi ketabahan 
atas wafatnya Ibu tercinta.

Sekalian bertanya, di kota manakah itu Pasar Enam Belas?

salam,


radityo


  ----- Original Message -----
  From: hudan hidayat


  Ibu Meninggal
  Hingga hari ini aku masih belum percaya ibu telah meninggal. Keluargaku 
memang belum pernah kehilangan. Kini aku begitu merindukan ibu. Menyesal belum 
sempat membuat ibu bahagia.
  Kehilangan itu membuatku begitu hampa. Segalanya seolah menjadi tak berjiwa. 
Aku seakan tak mendengar bunyi apa pun, saat pulang ke rumah dan mengepak 
barang yang akan kubawa. Anak-anak dan istriku sudah siap dengan bawaan mereka. 
Tapi aku seolah kehilangan pijakan. Kedua kakiku rasanya melayang. Aku seolah 
meluncur ke dalam lubang yang tak bisa kuhentikan.
  Semua kenangan masa kecilku kuingat kembali. Waktu muda dan saat aku masih 
kecil, ibu begitu cantik. Lembut meski keras dalam sikap. Aku bangga punya ibu 
seperti ibuku. Waktu ayah miskin aku membantu ibu jualan beras di Pasar Enam 
Belas. Aku juga sering menagih orang yang kredit dengan ibuku. Semua tugas itu 
hanya aku yang melakukannya. Entah mengapa ibu tidak pernah menyuruh kakak atau 
adik-adikku. Tapi justru itu yang membuat aku dekat dengan ibu. Waktu ibu sakit 
aku kasihan sekali. Aku ingin membantunya tapi tidak bisa: sakitnya ibu sudah 
parah. Aku tidak pernah acuh pada ibu. Memang kuakui aku tumbuh dengan 
pikiranku sendiri dan sibuk dengan diriku sendiri. Mungkin ibu berpikir aku 
seolah tidak perduli. Padahal dalam hati aku selalu sayang ibu. Selalu 
mengingatnya. Kini ibu sudah tiada. Sudah benar-benar hilang dari keluarganya.
  Lain sekali rasanya kematian itu. Sore itu kami mengaji di makam ibuku. Ada 
bentangan daun dan kembang. Juga bunga yang ditabur di makam. Sejam yang lalu 
aku ikut turun ke liang itu, membaringkan tubuh ibu. Meletakkan wajahnya ke 
dalam lubang yang tepinya digali lagi, membentuk kedalaman sendiri. Lubang yang 
miring. Entah mengapa saat itu aku teringat sebuah kisah: lubang dalam lubang, 
yang tadinya aku belum begitu mengerti maknanya. Tapi menghadapi lubang kubur 
ibu, serta lubang yang digali lagi dalam lubang kubur ibu, aku jadi benar-benar 
mengerti kisah itu: lubang cahaya. Ya, kurasakan lubang ibu adalah lubang 
cahaya. Tempat dimana seorang perempuan yang baik budi semasa hidupnya terkubur 
di sana. Wajahnya terbenam dalam lubang itu, masuk ke dalam liang yang aku 
sendiri ikut menggali dan menanam tanah penyangga tubuhnya. Aku juga membukakan 
tali-tali yang mengikat kepala ibu, tubuh dan kaki ibu. Kubuka ikatan-ikatan 
tali itu. Seolah membuka ikatan
  masa lalu, di mana aku terbenam dalamnya. Sejenak melintas saat aku 
menghentak-hentakkan kaki, maju mundur meminta uang pada ibu di jalan. Ibu 
marah dengan sayang. Wajahnya merajuk lalu tersenyum. Diraihnya tubuhku dan 
diciumnya kepala dan mukaku. Anakku sayang, anakku sayang, kata ibu. Hanya 
itulah yang keluar dari mulut ibu. Ia memandangi anaknya. Seolah Tuhan 
memandangi dunia. Duh, perempuan yang baik hati, kini kau telah pergi. Telah 
benar-benar meninggalkan kami.
  Kini aku hanya memiliki seorang ayah. Aku harap ayahku selalu sehat dan kuat. 
Tidak sakit-sakitan seperti ibu. Aku sayang sekali dengan ayahku. Ayahlah yang 
mendidikku dalam banyak hal. Caranya mendidikku luar biasa: aku dibiarkannya 
melakukan apa saja yang aku suka: tidak pernah melarang. Dulu aku memimpikan 
ayahku dua kali: ayah begitu marah padaku, dan meninggal dalam mimpiku. Aku 
begitu sedih sampai terbangun. Tercekam dengan mimpiku. Masih tersisa wajah 
ayah yang marah. Aku tidak begitu mengerti apa yang membuat ayah sangat marah. 
Tetapi lelaki tegas dan gagah itu memandangku dengan raut membesi. Jiwaku 
menggigil melihatnya. Ayah, apa salahku sampai kau marah begitu? Ini anakmu, 
yang sangat sedih karena bermimpi ayah telah mati. Tapi ayah tetap diam. 
Wajahnya sukar dilukiskan: terpaku di tempatnya, matanya seakan mengeluarkan 
api. Membakar tubuh dan jiwaku. Membuat aku putus-asa, sedih dan berduka. Ada 
apa Ayah? Mengapa kau demikian marah padaku?
  Apakah salah anakmu ini?
  Entah mengapa aku mengenang mimpi itu, saat adik perempuanku menelpon, 
mengabarkan ayah sakit di Tanjung Balai Asahan. Dalam telpon adikku menangis. 
Suaranya terbata-bata. Ayah sakit keras. Dibawa naik kapal dari India. Hanya 
ditemani seorang kawannya. Aku terdiam. Segera kuingat kelompok jemaah 
kawan-kawan ayah yang kuantar ke bandara. Terngiang-ngiang kata-kata ayahku. 
Ayah akan empat bulan di luar negeri, berkeliling dari masjid ke masjid di 
malaysia, India, dan kalau mungkin, Banglades. Hidup berdasarkan pemberian 
orang. Makan dan tidur di masjid. Kami tamu di sana. Setelah tiga hari sang 
tuan rumah boleh tidak menganggap tamu lagi. Artinya sang tamu harus pergi. 
Akan mencari masjid lain. Begitulah akan terjadi selama empat bulan. Ayah dan 
kawan-kawannya akan melalukan syiar agama dari masjid ke masjid di sana.
  Suara adikku terdengar lagi. Adek sudah menuju bandara. Kita bertemu di 
bandara dan berangkat dengan pesawat pertama.
  Aku merasa dia sudah mengendalikan diri. Agak tenang. Tetapi justru aku yang 
mulai tidak tenang. Penuh tekanan saat aku berusaha mengatakan sesuatu padanya. 
Seolah segala suka-duka keluargaku masuk ke dalam tekanan itu. Segera 
kukabarkan keluargaku yang lain. Kutelpon kakakku. Dia termenung mendengar 
kabar dariku. Bertanya. Lalu diam. Aku menyadarkannya kembali. Sebaiknya kita 
berangkat bersama. Ada pesawat garuda pukul 14 siang ini. Aku menelpon lagi. 
Ayah sakit kritis, Jen. Beriap-siaplah. Kami yang di Jakarta akan berangkat 
segera ke medan. Kalian yang dari luar kota sebaiknya berkumpul di Jakarta. 
Setidaknya menunggu kabar dari kami.
  Seperti aku pertama kali mendengar kabar sakitnya ayah, adikku pun diam tak 
berkata-kata. Aku hanya mendengar nada kosong dalam telpon. Lalu suaranya yang 
sangat pelan. Aku berangkat hari ini juga. Jalan darat ke Jakarta.
  Sebuah SMS masuk ke dalam telponku. Aku membukanya sambil mengemudi. Aku tak 
mau melihat pengirimnya lagi. Pasti kabar tentang ayah. Mobilku tertahan di 
lampu merah di bawah jembatan fly over Kebayaron Lama. Aku membaca SMS itu, 
saat wajah seorang lelaki yang muncul tiba-tiba dari kaca kanan mobilku. Aku 
masih sempat membaca kalimat pertama.
  Assalamualaikum. Nama saya Abdullah. Jemaah Majelis Tabligh dari Aceh...
  Aku menyimak lelaki itu. Kehadirannya yang begitu mendadak membuatku kaget. 
Aku melihat tonjolan-tonjolan daging di sekujur tubuhnya. Kulit lelaki tua itu 
keriput dan menghitam. Penyakit kulit membuat tubuhnya rusak dan nampak 
mengerikan. Lidahnya terjulur di antara mulutnya yang lebar, membuatku merasa 
seolah lelaki itu bukan manusia. Tetapi ia adalah manusia. Hanya kehidupan 
telah mengalahkannya.
  Lelaki itu tidak menunjukkan isyarat apa pun. Diam dan mematung di balik kaca 
mobilku. Matahari menusuknya. Tonjolan-tonjolan daging di tubuhnya melepuh dan 
mengeluarkan minyak. Ia nampak putus asa dengan keadaannya. Sorot matanya 
kosong tak menunjukkan keinginan. Seolah kehadirannya di tengah jalan itu hanya 
mekanis, dari sebuah pekerjaan rutin untuk meneruskan hidup. Aku merasa tidak 
nyaman dengan kehadirannya. Sikapnya yang memilukan itu membuatku tak sampai 
hati. Bagaimana menolong lelaki ini? Aku mulai menggenggam uang seratus ribu, 
sambil memikirkan lelaki itu. Aku kira lelaki seusianya sudah tidak pantas lagi 
di jalan raya. Tapi toh lelaki ini tetap di jalan raya. Kemanakah keluarganya, 
pikirku. Aku jadi teringat ayahku. Siapakah yang menolong ayah waktu sakit di 
luar negeri? Pasti berat sekali, ayah membawa tubuhnya sendiri.
  Aku sangat menyesal, karena lampu hijau membuat aku harus meninggalkannya. 
Aku belum sempat memberikan uang seratus ribu itu. Mestinya aku tadi tidak 
sibuk berpikir. Tetapi aku telah berpikir dan uang itu tetap di tanganku.
  Benarkah ini nomor Bapak Hudan, putera dari Bapak Jemat. Semoga benar. Saya 
sudah mengontak nomor-nomor di HP ayah kalian. Seseorang yang saya kontak 
menyebutkan antara lain nama Bapak...
  Jadi seseorang di Tanjung Balai telah menolong ayahku. Dengan mengontak 
segala nomor yang ada di telpon seluler ayah.
  Bapak Jemat sakit keras. Ayah kalian terbaring di klinik sederhana di Tanjung 
Balai. Segeralah ke sana sebelum semuanya terlambat.
  Kalimat-kalimat akhir SMS itu bergaung dalam jiwaku. SMS itu mengingatkanku 
berita kematian ibu. Pagi itu aku sudah berada di mobil dengan istriku, menuju 
kantor. SMS itu masuk, hanya gabungan kata-kata, yang kalau kita hilangkan 
bagian-bagiannya tak memiliki arti apapun. Hari-hariku sering disibukkan dengan 
memenggal-memenggalnya. Mengujinya apakah artinya masih dalam maknanya. Sering 
aku menghadapi gabungan kata “kematian” dalam kesepian kamar kerjaku di waktu 
malam. Saat istri dan anak-anaku sudah tertidur, aku naik ke atas dan masuk ke 
kamar kerjaku. Disanalah aku. Menguji kata atau kalimat yang kusukai untuk 
diriku. Kematian tidak menakutkan. Tidak lebih dari ujung sebuah perjalanan, di 
mana kita berhenti di suatu tempat. Perjalanan itulah kehidupan. Perhentian 
itulah kematian. Begitulah kalimat yang terbentang di meja kerjaku. Kalimat 
yang kusukai. Lalu aku memenggal-menggalnya. Kupisahkan kata-kata itu dan aku 
kini hanya menghadapi sebuah
  penggalan kata ‘kematian’, ‘perhentian’, dan ‘kehidupan’. Gabungan huruf yang 
masih bermakna. Lalu kupenggal lagi. Kuhilangkan lagi sampai dia menjadi 
huruf-huruf mati dan huruf-hidup. Terbentang di mejaku sesuatu yang tidak 
bermakna sama sekali. K, p, k, huruf dari sebuah awal yang bisa apa saja. Yang 
jelas sudah tidak menunjuk lagi fakta tentang kehidupan yang berhenti. Huruf 
atau kata yang terpenggal ini dimana menakutkannya? Tidak ada. Kita bisa santai 
menghadapinya. Kita bisa bermain-main dengannya. Mengisinya sesuka hati.
  Tapi pagi itu, aku diharu-biru oleh gabungan kata-kata itu. Seakan kata-kata 
yang kupenggal itu seolah marah, seolah-olah dia mahluk bernyawa dimana 
penggalan yang kulakukan seakan telah membunuhnya. Menghisap darahnya sehingga 
ia menggelepar tak berdaya. Dan kini semua kata-kata yang sering kupenggal itu 
bangkit menunjukkan dirinya. Menghantam tepat di pusat kesadaran jiwaku. 
Membuatku luluh-lantak. Begitulah kudengar berita kematian ibu melalui SMS itu. 
Aku seolah bermimpi. Seakan tak percaya kalimat-kalimat dalam SMS itu. Ibu kita 
telah tiada. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum 
Bengkulu...
  Aku meledak dalam tangis yang mencengkam. Aku sudah berusaha menahannya tapi 
tangis itu seolah mahluk bernyawa yang tak bisa kuhentikan. Aku memutar mobilku 
sambil menangis. Istriku menyabarkanku tapi tak lama kemudian dia pun ikut 
menangis. Anakku yang baru berusia 3 tahun mungkin menangkap dengan batinnya. 
Dia mengucapkan kata-kata dengan wajah anak yang tak mengerti. Ada apa Papa. 
Mana penjahatnya. Mari kita tembak penjahatnya. Istriku mengelus-ngelus kepala 
anakku. Dia belum tahu permaianan orang dewasa dengan tangisnya. Tangis yang 
menyimpan riwayat kesalahan dan dendam. Tangis dari sebuah kehidupan yang 
tiba-tiba terputus.
  (Hudan Hidayat)
  (Kenangan untuk ibuku)


Kirim email ke