Pak Ma'ruf yb

Tulisannya amat menarik. Sekalian mau tanya, apakah kalimat di bawah ini 
maksudnya Gunung Toba?

Danau Toba sekarang ini, apakah masih aktif? Ya. Bekas
letusan berskala kecil dan kubah lava baru pasca
erupsi hebat itu masih dapat dijumpai di kerucut

Lalu sejak kapan diberi nama Toba?

Terima kasih.

salam,

radityo







  ----- Original Message -----
  From: Ma'rufin Sudibyo
  To: [email protected]
  Cc: Jogja Astroclub ; Himpunan Astronom Amatir Jakarta ; Fisika ; Rovicky Dwi 
Putrohari ; rachmadresmi ; Riyan Triyono ; Dr. Hj. Margareta Dwi ; Ayah 
Abdillah H ; Sulis OSN ; Budi Sm ; Purwoko
  Sent: Monday, December 24, 2007 12:13 AM
  Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Gunung Toba


  Danau Toba yang besar itu (luasnya kira2 100 x 30 km)
  sebenarnya berdiri di atas reruntuhan 3 kaldera besar.
  Di selatan terdapat Kaldera Porsea, berbentuk ellips
  dengan dimensi 60 x 40 km, terbentuk oleh letusan
  gigantik 800 ribu tahun silam. Kaldera ini meliputi
  sebagian selatan danau Toba dari Pulau Samosir, hingga
  ke daratan wilayah Parapat - Porsea dan "teluk" yang
  menjadi outlet ke Sungai Asahan. Wajah kaldera Porsea
  ini 'dirusak' oleh kaldera Sibadung yang terbentuk
  kemudian. Sementara di sebelah utara, di utara Pulau
  Samosir terdapat kaldera Haranggaol yang nyaris bulat
  dengan diameter 'hanya' 14 km. Haranggaol terbentuk
  pada 500 ribu tahun silam. Keberadaan kaldera-kaldera
  besar ini menunjukkan Danau Toba adalah kompleks
  vulkanik nan luar biasa.

  Kita fokuskan ke Kaldera Sibadung. Inilah kaldera yang
  terbentuk dalam erupsi gigantik 71.500 +/- 4.000 tahun
  silam dan dinobatkan sebagai letusan terdahsyat di
  muka Bumi dalam 2 juta tahun terakhir setelah banjir
  lava di Yellowstone (AS). Bentuk kaldera mirip kacang
  (peanut-like) dan secara kasar memiliki panjang 60 km
  dengan lebar 30 km. Bentuk unik ini mengesankan bahwa
  kaldera Sibadung dulunya kemungkinan adalah gunung api
  kembar yang meletus secara bersamaan, seperti halnya
  gunung Danan dan Perbuwatan dalam erupsi katastrofik
  Krakatau 1883. Kaldera Sibadung mencakup seluruh
  bagian Pulau Samosir dan perairan selatan Danau Toba,
  kecuali "teluk" di sebelah tenggara yang menjadi
  outlet ke Sungai Asahan.

  Letusan Toba 71 - 75 ribu tahun silam memang sungguh
  luar biasa. Gunung ini melepaskan energi 1.000 megaton
  TNT atau 50 ribu kali lipat ledakan bom Hiroshima dan
  menyemburkan tephra 2.800 km kubik berupa ignimbrit,
  yakni batuan beku sangat asam yang memang menjadi ciri
  khas bagi letusan-letusan besar. 800 km kubik tephra
  diantaranya dihembuskan ke atmosfer sebagai debu
  vulkanis, yang kemudian terbang mengarah ke barat
  akibat pengaruh rotasi Bumi sebelum kemudian turun
  mengendap sebagai hujan abu. Sebagai pembanding,
  erupsi paroksimal Tambora 1815 (yang dinyatakan
  terdahsyat dalam sejarah modern) 'hanya' menyemburkan
  100 km kubik debu dan itupun sudah sanggup mengubah
  pola cuaca di Bumi selama bertahun-tahun kemudian,
  yang salah satunya menghasilkan hujan lebat yang salah
  musim di Eropa dan berujung pada kekalahan Napoleon
  pada pertempuran besar Waterloo.

  Kerikil (lapili) produk letusan Toba ditemukan hingga
  di India, yang berjarak 3.000 km dari pusat letusan.
  Keseluruhan permukaan anak benua India ditimbuni abu
  letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm. Bahkan di
  salah satu tempat di India tengah, ketebalan abu
  letusan Toba mencapai 6 meter. Debu vulkanik dan
  sulfur yang disemburkan ke langit dalam letusan
  dahsyat selama 2 minggu tanpa henti itu membentuk
  tirai penghalang cahaya Matahari yang luar biasa
  tebalnya di lapisan stratosfer, hingga intensitas
  cahaya Matahari yang jatuh ke permukaan Bumi menurun
  drastis tinggal 1 % dari nilai normalnya. Kurangnya
  cahaya Matahari juga menyebabkan suhu global menurun
  drastis hingga 3 - 3,5ยบ C dari normal dan memicu
  terjadinya salah satu zaman es. Rendahnya intensitas
  cahaya Matahari membuat tumbuh2an berhenti
  berfotosintesis untuk beberapa lama dan tak sedikit
  yang bahkan malah mati, seperti terekam di lembaran2
  es Greenland.

  Bagaimana dengan manusia? Ambrose (1998) berdasar
  jejak DNA manusia purba menyebut saat itu terjadi
  situasi "genetic bottleneck" yang ditandai dengan
  berkurangnya kelimpahan genetik dan populasi manusia.
  Bahkan dikatakan jumlah individu manusia saat itu
  (tentunya dari generasi homo sapiens awal seperti homo
  sapiens neanderthalensis dan rekan-rekannya) merosot
  drastis hingga tinggal 10 % saja dari populasi semula.
  Bencana lingkungan akibat erupsi Toba ini diduga
  membuat homo neanderthalensis berevolusi menghasilkan
  individu yang lebih lemah. Sehingga ketika katastrofik
  berikutnya terjadi, yakni pada 12.900 tahun silam di
  ujung zaman es tatkala asteroid/komet berdiameter 5 km
  jatuh ke Bumi dari ketinggian awal yang rendah
  (mendekati horizon) sehingga benda ini meledak pada
  ketinggian 60 km di atas Eropa - Amerika sembari
  melepaskan energi 10 juta megaton TNT, neanderthal tak
  sanggup lagi bertahan dan punahlah ia bersama kawanan
  mammoth sang gajah raksasa zaman es.

  Danau Toba sekarang ini, apakah masih aktif? Ya. Bekas
  letusan berskala kecil dan kubah lava baru pasca
  erupsi hebat itu masih dapat dijumpai di kerucut
  Pusukbukit di sebelah barat dan kerucut Tandukbenua di
  sebelah utara. Terangkatnya Pulau Samosir hingga 450
  meter dari elevasi semula (yang dapat dilihat dari
  lapisan2 sedimen danau di pulau ini) juga menunjukkan
  bahwa reservoir magma Toba telah terisi kembali,
  secara parsial. Studi seismik menunjukkan di bawah
  danau Toba terdapat sedikitnya dua reservoir magma di
  kedalaman 40-an km dengan ketebalan 6-10 km.

  Kapan Toba akan kembali meletus dahsyat? Kita tidak
  tahu. Namun dilihat dari historinya butuh waktu
  sedikitnya 300 ribu tahun pasca letusan besar Toba
  untuk kembali menghasilkan letusan katastrofik. Memang
  sempat muncul kekhawatiran Toba akan kembali
  menggeliat pasca guncangan gempa megathrust Sumatra
  Andaman 2004 yang mencapai 9,15 Mw itu dengan
  episenter hanya 300 km di sebelah barat danau, namun
  sejauh ini belum terbukti. Kekhawatiran ini bukannya
  tanpa alasan. Krakatau bangkit dari tidur panjangnya
  selama 200-an tahun tatkala gempa besar mengguncang
  kawasan Selat Sunda di awal 1883 dimana getarannya
  terasakan hingga ke Australia.

  salam

  Ma'rufin

Kirim email ke