Tanggapan atas Kajian UGM dalam Kasus Asian Agri Group Oleh : Metta Dharmasaputra
Kajian Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM atas pemberitaan Kasus Pajak Asian Agri oleh Majalah Tempo dan Koran Tempo mengandung sejumlah catatan dan kelemahan signifikan. Terlebih lagi, kajian itu membuat sejumlah kesimpulan yang menyesatkan. Karena itu, sebagai wartawan yang meliput dan menulis artikel tentang kasus ini, atas nama pribadi saya merasa perlu memberikan sejumlah tanggapan sbb: I. PERSOALAN UTAMA 1.INDEPENDENSI Kajian bertajuk Independent Study ini patut dipertanyakan, karena merupakan pesanan dan dibiayai sepenuhnya oleh Asian Agri Group. 2. KONFIRMASI DAN KLARIFIKASI Pada bagian Metodologi dari Bab I kajian tersebut (hal. 27) disebutkan bahwa data antara lain diperoleh dari wawancara terhadap pengelola Koran Tempo atau majalah Tempo. Sepengetahuan saya, Tim Peneliti belum pernah meminta penjelasan resmi kepada pihak Tempo, termasuk kepada saya selaku penulis artikel tersebut. 3. TIDAK KONTEKSTUAL Kajian seperti diakui Tim Peneliti hanya didasarkan pada teks, tanpa memperdulikan konteks (waktu dan kejadian/fakta). Akibatnya terdapat sejumlah kesalahan fatal atas hasil kajian tersebut. Sejumlah kesalahan fatal itu, antara lain: A. Akurasi berita. Tim Peneliti menilai laporan Tempo tidak akurat. Salah satu tolok ukurnya yaitu pemuatan nilai kerugian negara yang berubah-ubah dari Rp 1,1 triliun menjadi sekitar Rp 786 miliar. Kesalahan penyimpulan ini terjadi karena kajian tidak melihat konteks waktu kejadian. Indikasi kerugian Rp 1,1 triliun merupakan angka taksiran Vincentius pada November 2006. Setelah itu muncul angka taksiran Ditjen Pajak, yaitu Rp 786 miliar (Mei 2007), Rp 794 miliar (September 2007), dan Rp 1,3 triliun (Oktober 2007). Perubahan angka terjadi karena hasil pemeriksaan tim investigasi Ditjen Pajak atas 1.400 boks atau 9 truk dokumen Asian Agri yang disita dari sebuah ruko di Duta Merlin, Mei lalu, hingga kini belum rampung (baru sekitar setengahnya). B. Perbandingan Asian Agri-Lapindo. Memperbandingkan liputan Tempo atas kasus Asian Agri dan Lapindo dalam kurun Januari-Mei 2007 jelas merupakan suatu kesalahan fatal. Bencana Lapindo sudah terjadi sejak Mei 2006, sedangkan kasus Asian Agri baru muncul Januari 2007. Kajian ini tidak menganalisis sejumlah liputan khusus Tempo atas kasus Lapindo pada 2006, termasuk cover story pada 3 Desember 2006. Karena itu, kesimpulan tim peneliti bahwa Tempo bersifat lebih moderat dalam pemberitaan Lapindo ketimbang Asian Agri tidak punya dasar yang jelas. C.Tendensius Tim peneliti menyimpulkan Tempo terlalu menekan dan abrasive dalam pemberitaan kasus Asian Agri, padahal kasus ini baru sebatas dugaan. Tim peneliti tampaknya tidak memperhitungkan dua kali pernyataan pers tim investigasi Ditjen Pajak (Mei dan September 2007) soal indikasi manipulasi pajak Asian Agri, yang juga telah menetapkan 8 tersangka. II. ISI KAJIAN 1. Keberimbangan dan konfirmasi Isi Kajian: "Mempertimbangkan keluhan salah satu pihak yang diteliti....masalah keberimbangan ini dapat dikategorikan sebagai masalah serius dari sisi ketaatan pada kode etik jurnalistik." Tanggapan: - Persoalannya, dalam wawancara, pihak Asian Agri tidak pernah mau mengomentari data-data indikasi manipulasi pajak dengan alasan data tersebut berasal dari seorang maling (Vincent). 2. Kepentingan publik "Perlu ditanyakan kepentingan publik apa yang bisa diperoleh dari sejumlah labelling bersifat negatif" - Kasus Asian Agri jelas memiliki dimensi kepentingan publik dan negara yang besar. Menurut taksiran Ditjen Pajak, kerugian negara sedikitnya Rp 1,3 triliun, terbesar dalam sejarah Indonesia. 3. Konflik Vincent Vs RGM "Tempo tidak menyadari bahwa aktivitas jurnalisme investigatifnya berada pada konflik yang tengah terjadi antara Asian Agri dan Vincentius....Apakah Tempo justru melibatkan diri dalam konflik yang ada." - Liputan investigasi yang saya lakukan terfokus pada indikasi manipulasi pajak Asian Agri, yang berarti konflik antara Asian Agri dengan Negara. Bukan pada konflik antara Asian Agri dan Vincentius. Vincent sebatas pemberi data dan informasi. - Artikel sepenuhnya didasarkan pada data-data berlapis (bukti pembukuan internal perusahaan, catatan rekening bank, bukti transfer bank, dokumen transaksi, dll) yang telah diverifikasi ke berbagai pihak. - Validitas data bisa dipertanggungjawabkan, terbukti paparan Tempo sama dengan temuan tim investigasi Ditjen Pajak. 4. Personifikasi Sukanto Tanoto "Tone pemberitaan tampak menekan dan menyerang Sukanto Tanoto dalam kasus Asian Agri." - Tampilnya sosok Sukanto didasarkan pada sejumlah bukti dokumen yang mengindikasikan bahwa aliran uang yang diduga hasil manipulasi pajak pada akhirnya mengalir ke keluarga Sukanto lewat sejumlah perusahaan di luar negeri. - Tudingan Tim Peneliti bahwa ada agenda tertentu dari Tempo terhadap Sukanto tidak berdasar. Banyak media massa di Tanah Air pernah pula memberitakan sosok Sukanto dalam berbagai persoalan, seperti Indorayon, Unibank, Raja Garuda Mas, Riau Pulp and Paper, dll. Karena itu, sesungguhnya penting bagi Tim Peneliti untuk membandingkannya dengan peliputan oleh media lain atau dalam kasus lain. 5. Perlakuan Asian Agri dan Lapindo "Penggambaran Tempo tentang pihak yang bertanggung jawab dalam menangani semburan lumpur Lapindo sepenuhnya ada dalam wacana moderat. Berbeda sekali dengan penggambaran Asian Agri dalam kasus penggelapan pajak." - Perlu dicatat, Tempo termasuk salah satu media pertama yang mengungkap kaitan keluarga Bakrie dengan Lapindo Brantas (Majalah Tempo, 2 Juli 2006). - Tempo juga yang pertama mengungkap adanya surat dari Medco Energi yang mengindikasikan adanya kelalaian pemasangan selubung bor (casing) sebagai penyebab bencana (Majalah Tempo, 2 Juli 2006) - Beberapa kali kasus Lapindo dituliskan dalam cover story majalah Tempo (3 Desember 2006) dan Koran Tempo (23 November 2006), serta sejumlah liputan panjang. 6. Prasangka "Analisis teks berita Tempo menunjukkan penggambaran yang bernuansa prasangka baik terhadap sosok Vincentius, sementara bernuansa prasangka buruk terhadap Sukanto Tanoto." - Dalam penulisan, saya tidak pernah menutup-nutupi aksi pembobolan uang oleh Vincent. Hanya saja, isu indikasi manipulasi pajak yang merugikan negara jauh lebih penting ketimbang pembobolan uang perusahaan. - Vincent pun selalu menyatakan akan mempertanggungjawabkan aksi kejahatannya. Niatnya mengungkap indikasi manipulasi pajak Asian Agri didasari keinginannya untuk bisa diadili secara fair dan mendapat jaminan keselamatan atas diri dan keluarganya dari negara. 7. Agenda Tersembunyi Tempo "Koran dan majalah Tempo cenderung terlihat begitu memiliki agenda tersembunyi yang hanya bisa ditanyakan dengan mengetuk pintu hati nurani para wartawan Tempo." "Kepercayaan penuh wartawan Tempo terhadap statement pihak pemerintah (dalam kasus Lapindo) menunjukkan bahwa kebebasan pers yang dulunya digunakan Tempo untuk berhadapan dengan status quo perlahan mulai bergeser pada kebebasan sebagai story teller kebijakan pemerintah." - Praduga tim UGM di ujung kesimpulannya ini merupakan tudingan serius bagi Tempo. Karena itu, tim UGM harus mengungkap jelas fakta-fakta yang mendasari tudingan tersebut. AKHIR KATA UGM yang selama ini dikenal sebagai kampus "wong cilik" hendaknya senantiasa setia membela dan menyuarakan kepentingan publik, ketimbang mengedepankan kepentingan sempit dari pihak-pihak tertentu. * * * mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]
