Sebelum membicarakan tentang pemimpin muda, maka saya rasa yang perlu kita bicarakan adalah ideologi yang ditawarkan oleh pemimpin tersebut. Dan karena dia adalah orang muda, maka ideologi yang saya bayangkan juga adalah sesuatu yang lantang, keras dan jelas, yang berkaitan dengan kemudaan:
Hutan kita sudah nyaris habis dibabat. Dia tak meninggalkan manfaat apa pun bagi daerah-daerah yang dahulu memiliki hutan tersebut. Yang tinggal hanyalah bencana alam, dan inilah yang diwarisi oleh orang- orang muda kita. Tapi dimana suara orang-orang muda tentang hal ini? Angka pengangguran begitu tinggi, dan ini terutama melibatkan orang- orang muda. Tapi dimana suara orang-orang muda? Fasilitas pendidikan dan kesehatan masih saja memprihatinkan, dan ini adalah sesuatu yang sangat mempengaruhi kwalitas orang-orang muda kita di masa mendatang. Tapi dimana suara orang-orang muda? Pendek kata, saya nyaris tak mendengar suara orang-orang muda tentang bagaimana negara dan bangsa yang bangkrut ini harus direvitalisasi dan diselamatkan. Saya nyaris tak mendengar suara orang-orang muda tentang bagaimana mereka memandang Indonesia ini 10-15-25 tahun dari sekarang. (Yang ada hanyalah suara Akbar Tanjung, Wiranto, Gus Dur, Megawati, Amien Rais). Disamping ideologi, maka saya juga nyaris tak melihat sebuah tanda- tanda kultur baru dari orang-orang muda yang prihatin karena akan mewarisi sebuah negara dan bangsa yang porak poranda. Orang-orang muda kita itu ternyata sama saja dengan bapak-bapaknya: Oportunis, selalu mencari jalan aman dan senang dengan semua keberhasilan materi yang diperoleh secara instant itu. Usia saya sudah di atas 50 tahun. Dan kepada anak-anak saya, saya selalu mengatakan: "Generasi kami sudah gagal. Kami meninggalkan sebuah negara dan bangsa yang sangat tidak nyaman bagi hidup kalian. Sekarang berjuanglah lebih keras. Rumuskan sendiri masa depanmu. Jangan bertanya apa-apa lagi dari kami. Jangan lagi percaya dengan orang-orang seusia kami...." Saya tak habis pikir kalau melihat orang-orang yang satu generasi dengan saya masih saja sibuk bermimpi hendak menjadi bupati, gubernur, anggota dpr atau anggota dari berbagai komisi negara yang berjibun itu. Tapi saya lebih tak habis pikir lagi kalau melihat orang-orang muda yang begitu penakut dan melempem dalam berpikir dan bertindak untuk membangun masa depannya sendiri. Data menunjukkan bahwa orang-orang yang berusia antara 20 s/d 35 tahun adalah segmen terbesar dari pemilih. Kalau saja ada orang-orang muda yang cukup cerdas untuk memahami kebutuhan real dari kawan-kawan seusianya itu lalu merumuskan sebuah visi tentang Indonesia yang lebih baik bagi mereka, maka saya siap untuk mati dengan tersenyum. Setidak-tidaknya kegagalan saya--dan orang-orang segenerasi saya-- sudah ada yang mengoreksi dan dosa saya mungkin bisa sedikit terampuni. Horas Mula Harahap http://mulaharahap.wordpress.com
