Tanggapan atas Endo Suanda (Bentara, 28 November 2007)

Oleh FARIDA INDRIASTUTI
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/05/Bentara/4124948.htm
=====================

Saat bersua dengan Gandrung Temu dan Basuki (panjak gandrung) Agustus
2007 di Desa Kemiren, Banyuwangi, terlintas di benak saya apakah hal
yang sama akan menimpa keduanya, seperti nasib Rasminah maestro penari
topeng Cirebon yang terpaksa makan nasi aking karena terbelit masalah
ekonomi, sementara namanya begitu populer hingga ke mancanegara.

Saya lahir di tengah keluarga wartawan—seniman tradisi. Kakek saya
seorang dalang Istana Merdeka di zaman Bung Karno. Saya tahu persis
kehidupan seniman tradisi kita seperti apa: buram! Tak ada niat
sedikit pun merendahkan ranah intelektual, apalagi melanggar kode etik
jurnalistik seperti yang dituduhkan kepada saya. Saya juga mencintai
profesi jurnalis dengan sepenuh hati. Sebagai penulis saya menghormati
narasumber (informan), termasuk Philip Yampolsky. Oleh sebab itu, pada
8 September 2007 pukul 12.57 saya mengirimkan surat elektronik yang
berisi pertanyaan seputar Temu—dengan alamat e-mail
[EMAIL PROTECTED] Penantian saya selama 2,5 bulan tanpa hasil.

Kalau saya dituduh bekerja tanpa standar jurnalistik, tak melakukan
kros cek kepada narasumber, saya tegas menolak! Saya telah berusaha
menghubungi narasumber. Surat elektronik yang saya kirim tak mendapat
tanggapan apa pun!

Sebagai penulis saya memang bertanggung jawab atas kesalahan data:
rank sales amazon.com dan kalkulasi angka yang terlalu besar. Tapi,
soal mikro jangan sampai mengalihkan soal yang lebih besar. Yang saya
suarakan bukanlah melulu besaran angka, tapi terutama nasib seniman
tradisi kita yang terpuruk, karena dimanipulasi oleh sejumlah
"lembaga" dan "pribadi".

Di Kemiren, Temu pernah menuturkan, "Kata Pak Philip, rekaman itu
untuk pembelajaran saja. CD-nya tidak dijual". Pendapat serupa juga
dikatakan oleh Basuki, bahkan ia menjawab, "CD saja tidak diberi!"
Toh, kenyataan di lapangan bertolak belakang. CD Song Before Dawn
dijual hingga aras internasional. Ironis, bila rekaman album Temu yang
berawal dari ranah intelektual itu, karena satu dan lain hal, tak
mengindahkan standar moral. Buktinya, tidak ada MOU berupa surat
tertulis atau kuitansi pembayaran honor kepada Temu dan kelima panjak
gandrung. Apakah itu bukan persoalan?

Akan berbeda kasusnya tatkala Temu berurusan dengan perusahaan rekaman
lokal seperti Sandi Record. Biarpun dibayar cuma Rp 1 juta per album,
ada proses negosiasi antara Temu dan Sandi Record. Ia pun menganggap
persoalan itu cukup adil. "Dulu saya dibayar Rp 500.000," kata Temu.

Maaf, bila saya menemukan fakta yang berbeda. Secara pribadi saya
berterima kasih atas koreksi dan tantangan Endo Suanda agar
membuktikan dan menjelaskan perhitungan angka. Saya hanyalah wartawan
lepas di kantor berita Italia, sesekali menulis untuk situs The Cheers
dan Kyoto Review Journal. Barangkali saya tak (layak) diperhitungkan
oleh kolega Endo Suanda, narasumber sehebat dan sekredibel Philip
Yampolsky, Anthony Seeger, atau Daniel Sheeny. Pertanyaan yang saya
ajukan (hanya bisa lewat surat elektronik karena saya tak punya dana
untuk mengajukannya secara lebih baik dan langsung), agaknya tak
dianggap penting!

Di balik itu semua, saya sedih bercampur gembira, banyak tanggapan
publik di situs internet baik yang pro dan kontra. Saya perlu tegaskan
bahwa saya mendompleng penelitian orang lain, seperti yang dituduhkan
oleh pihak tertentu di berbagai milis. Saya percaya dengan instinct of
journalism, bahwa nasib Temu dan kelima panjaknya layak disuarakan.

Bila Endo Suanda kecewa dengan data yang saya kumpulkan dan dikutip
oleh Maria Hartiningsih: "jauh panggang dari api", saya pun kecewa,
mengapa sejumlah intelektual (etnomusikolog) bisa "berdusta" kepada
seniman tradisi? Saya prihatin mengapa kegiatan penelitian dan
intelektual yang niat tertulisnya tentu bagus dan mulia itu ternyata
tak membawa perubahan yang membanggakan pada kehidupan para seniman
tradisi. Jika ada yang tampak jelas memetik manfaat nyata dari
kegiatan riset itu, itu adalah para periset dan intelektual tersebut,
bukan seniman tradisi yang menjadi bahan penelitian itu sendiri.
Setidaknya, sejumlah seniman tradisi belum mendapatkan manfaat yang
setimpal dari berbagai penelitian yang pelaksanaannya dimungkinkan
oleh kesediaan para seniman tradisi itu untuk bekerja sama.

Sempat saya baca tanggapan Halim HD, penulis kebudayaan, seputar
polemik tulisan "Dari Kemiren ke Hollywood" (Bentara, 3 November
2007). Ia menuliskan, "[…] Saya ingat obrolan di rumah seorang kenalan
di Evanston, Utara Chicago, Amerika. Pada suatu Konferensi Studi Asia
di hotel Palmer. Saya ditanya oleh sang peneliti yang mendapat
kepercayaan Smithsonian dan pengelola proyek itu (Philip Yampolsky):
Bagaimana pendapat saya tentang honorarium asistensi. Lalu sang
peneliti yang nampak lemah lembut itu menyampaikan bahwa posisi Rahayu
Supanggah akan dibayar sebesar Rp 750 ribu. Dan ia juga membeberkan
bahwa di bawahnya seorang asisten hanya mendapat Rp 250 ribu. Saya
cuma melongo. Saya tidak bisa membayangkan sosok mas Panggah yang
dijadikan asisten (seorang peneliti dan juga komposer handal kita).
Saya tidak tahu berapa ribu dollar AS untuk sang pengelola proyek itu?
Terakhir saya dengar ia dibayar oleh Smithsonian sekitar tiga ribu
dollar AS. Tidakkah honorarium bagi sosok seperti Rahayu Supanggah dan
asisten-asistennya terlalu kecil? Sangat menarik jawaban pengelola
proyek: "Mereka kan sambil belajar dan dibayar!"

Bila benar yang dikatakan Halim HD, bahwa komposer andal seperti
Rahayu Supanggah saja minus penghargaan atas hak intelektualnya,
apalagi dengan Gandrung Temu? Faktanya, suara Temu direduksi secara
bebas hingga menembus batas negara, sedangkan hak asasinya dilanggar.
Keterpurukan Temu justru terjadi di saat ia bersentuhan dengan ranah
intelektual (dunia penelitian).

Sedang di posisi gandrung terop, Temu aman-aman saja. Artinya, Temu
dihidupi oleh panggung gandrung. Sebaliknya, panggung gandrung tetap
hidup berkat napas Temu. Bukan tidak mungkin bahwa kritik Horkheimer
dan Adorno dalam The Dialectic of Enlightenment (1972) itu benar:
industri budaya merupakan media yang paling strategis untuk mengubah
nilai guna (kegunaan yang dimanfaatkan menjadi komoditas) menjadi
sesuatu yang diproduksi oleh sistem kapitalisme.

Saya memercayai logika itu, yang menyeret Gandrung Temu ke tempat yang
tak terjangkau. Saya pun tak memungkiri, ada lembaga nirlaba dan
lembaga donor internasional yang sungguh membantu secara finansial.
Meski demikian, pelaksanaan di lapangan bisa saja menyimpang dari niat
mulia itu, jauh panggang dari api.

Semisal Smithsonian Institution, bukankah sebagai lembaga filantropi
internasional ia tak berhak mengomersialkan CD Song Before Dawn.
Kenapa CD, kaset, dan unduhan MP3 Song Before Dawn bisa dijual di
berbagai situs toko online di berbagai negara? Bukankah di Amerika,
lembaga itu bebas pajak? Dalam klausul Smithsonian (lacak di situs
Smithsonian) disebutkan artis berhak atas royalti. Namun, hingga kini,
tak sepeser pun uang diterima Temu dari proyek CD Song Before Dawn itu!

Untuk menjadi sri panggung, Temu melewati suka duka dan jalan terjal,
dari stigma buruk hingga proses panjang menjadi gandrung. Penulis
kebudayaan Banyuwangi, Eko Budi Setianto, mengatakan, "Temu sudah
melekat begitu hebatnya di masyarakat. Suka dukanya sebagai gandrung
sangat luar biasa. Dari awal sampai diakui oleh masyarakat, menanggung
dosa sampai menjadi tokoh yang terkenal. Kehebatan Temu karena
memiliki suara yang khas, sulit ditirukan oleh gandrung lain".

Gandrung adalah napas hidup Temu. Ia telah berjanji tak akan
meninggalkan panggung gandrung, kecuali tubuhnya tak mampu digerakkan
lagi. Temu, perempuan santun yang mampu menahan urat marahnya, secara
sukarela (tanpa diupah) tetap mengajari anak-anak di kedua desa,
Kemiren dan Olehsari, menari juga menyanyi.

Seperti yang dikatakan gandrung cilik bernama Wulan (14), "Kalau kita
ikut gandrung, sama Mbok Temu dikasih Rp 75.000." Santi (13)
menimpali, "Kata Mbok Temu, kalau menari diingat-ingat gimana urutannya."

Hidup Temu adalah loyalitas dan pengabdian terhadap seni tradisi. Ia
selalu membagi rata setiap rezeki yang diterima dengan panjaknya (pun)
dengan rasa syukur. Seperti yang diajarkan (alm) Anwar, seniornya di
pentas gandrung.

Temu yang tak menyelesaikan pendidikan dasarnya bisa bersikap
arif-bijaksana. Ia tak mengabaikan hak-hak gandrung cilik, "Saya hanya
membantu ekonomi keluarga mereka. Selain regenerasi, biar tradisi
gandrung tak mati di Banyuwangi," kata Temu.

Walau sulit dinalar, atau saya yang tak memahami pemikiran Temu, di
saat terbelit kesulitan ekonomi, ia masih memikirkan nasib orang-orang
di sekelilingnya. Secara batin ia sangat kaya meski menyandarkan hidup
pada panggung gandrung. Uang bukanlah segalanya bagi Temu.

Berkat Temu, panggung gandrung tetap hidup walau kenyataannya semakin
redup sejak tahun 1990-an, tergeser oleh budaya instan seperti musik
dangdut dan organ tunggal. "Gandrung tergilas teknologi, pergulatan
ekonominya sangat besar. Gandrung dipaksakan untuk tetap hidup," kata
Kusnadi, peneliti Universitas Jember. "Dulu tumbuh subur karena basis
masyarakat petani sangat kuat."

Masalahnya, kontrol terhadap teknologi tak mungkin dibatasi. Tak ayal,
teknologi mampu menggeser seni tradisi yang utuh menjadi komoditas
yang instan meskipun di sisi lain, kemudahan teknologi berperan
penting meningkatkan sumber daya lokal.

Sebagai penulis saya coba menafsirkan gandrung, tetapi hal terpenting
dari penelitian ini ialah mengubah cara pandang (perspektif) seniman
tradisi terhadap dunia di luar mereka. Juga agar para "orang pintar"
yang disebut Temu tak (lagi) memanfaatkan kelemahannya. Bukankah Temu
berjasa bagi warga dunia dan melahirkan begitu banyak gelar master dan
doktor di ranah akademik? Toh, Temu tak menuntut imbalan apa pun,
kecuali perlakuan secara adil!

Saya berharap pemerintah tak bersikap curang mempermainkan nasib
seniman tradisi seperti Temu dengan perolehan pajak. Bagi masyarakat
intelektual, Temu masih menantikan sebuah pewujudan harapan!

Ia telah membuka mata saya bahwa seni tradisi adalah ranah yang rentan
disalahgunakan. Tanpa maksud "berprasangka negatif" terhadap lembaga
atau pribadi yang berusaha menumbuhkan kebudayaan lokal, Temu
mengingatkan keterbatasan saya, ternyata korpus ilmu pengetahuan
tak/belum memberikan manfaat terhadap Temu.

Namun saya percaya, ilmu pengetahuan jugalah yang akan sanggup
memecahkan kerumitan ini. Mengubah penindasan menjadi keindahan,
seperti halnya Temu di atas panggung gandrung. Bukankah kajian
akademis telah menunjukkan bahwa selama berabad-abad kepulauan
Indonesia telah menghasilkan karya-karya artistik yang luar biasa?
Suara Temu pun merupakan eksotisme Timur, diakui atau tidak!

Di rumah Temu yang bercat putih kusam, berlantai semen berlubang di
sana-sini, jendela tanpa tirai, kursi tua yang lusuh dan di sudut
ruang teronggok televisi buram (tua) 14 inci, saya melihat wajah Temu
pucat. Ia begitu lelah menjalani rutinitasnya sebagai gandrung terop.

"Mereka janji thok [tapi] gak ada buktinya!" kata Temu menyambut
tamunya. Padahal, menjadi gandrung tak sesederhana yang dibayangkan.
Prosesnya amat rumit. Dari diakui oleh masyarakat, lantas mendatangi
pini-sepuh kebudayaan Using. Tak sembarang orang bisa menjadi
gandrung. "Gandrung bertahan karena kekuatan tradisi dan perempuan
yang ada di dalamnya," kata Eko Budi Setianto.

Seperti yang ditulis Maria Hartiningsih pada rubrik Sosok "Jalan
Kehidupan Gandrung Temu" (Kompas, 26 Oktober 2007), "Saya mau tidur
pada waktunya orang tidur. Bukan teriak-teriak nyanyi dan pencilatan
menari...".

Sungguh Temu gundah, sebagai janda tanpa anak. Tubuhnya kian tua,
sering kali pegal di bagian sendi dan punggungnya, biarpun masih
bertenaga. "Tapi suara Temu tak sekuat dulu," kata Basuki suatu hari
dari balik panggung. Di Kemiren ia hanya mengasuh cucu keponakan (yang
memiliki kekurangan fisik "bisu") dan merawat kakak ibunya yang sudah
teramat tua. Siapa yang kelak diharapkan Temu bila tubuhnya tak sintal
dan tulangnya rapuh di gerogoti usia? Belum tentu 10 tahun ke depan
Temu masih kuat melenggok, mengibaskan sampurnya di atas panggung.

Menurut saya, ini masalah bersama. Saya memahami benar risiko menulis
Gandrung Temu sejak di Kemiren. Pasti menjadi polemik dan dituduh
fitnah! Tapi, konsentrasi saya adalah kerisauan hidup Temu dan Basuki.
Di dalam hati saya resah, melihat kegigihan Temu dan Basuki—yang harus
menggadaikan gelas untuk makan!

Secara pribadi saya tak bermaksud menciptakan polemik kepada Endo
Suanda atau Philip Yampolsky. Saya pribadi menghargai itikad baik
keduanya, sebagai etnomusikolog yang mengembangkan wacana berkesenian
di Indonesia. Tentu saja, setiap tindakan selalu disertai rambu-rambu
atau norma biar kita tak salah langkah. Kalaupun kesalahan langkah
terjadi, upaya untuk mengakui kesalahan itu lalu mengoreksinya menjadi
tuntutan yang tak dapat dielakkan.

Temu tak memiliki deposito masa depan seperti para etnomusikolog. Yang
ia miliki hanyalah bersuara dan menggerakkan tubuhnya di atas panggung
gandrung. Tapi, setiap gerak adalah napasnya, Temu tetap akan menari
hingga tak laku. Bahkan kelak posisinya digantikan oleh
gandrung-gandrung muda yang lebih sintal dan berparas ayu. "Asal
gandrung tak mati!" kata Temu.

FARIDA INDRIASTUTI Jurnalis, Tinggal di Jakarta 

Kirim email ke