Saya slelau aja kesal dengan pengertian ketahanan pangan ini yang jadi 
ramai lagi  gara gara   mahalnya kedele..

Kekesalan saya karena kata "tahan" punya arti defensip..jadilah kita negara 
yg cuma bisa bertahan... buykan penyerang, padahal pertahanan terbaik 
adalah menyerang..


Lalu kata ketahanan pangan sering di artikan bhw kita nggak boleh impor dan 
harus produksi smeuanya sendiri..

Lha Singapore dan Arab saudi nggak menghasilkan pangan apapun.. kok 
rakyatnya aman aman aja nggak ada yg rawan pangan...Bagi saya semboyannya 
bukan kita harus punya ketahanan pangan.. tapi kita harus produksi pangan 
kita dengan tingkat efisiensi dan produktivitas 
setinggi  tingginya...dengan pendekatan agar produsen petaninya mendapat 
kesejahteraan seting gitingginya.


Sah sah aja.. kalau petani kedele pindah nanam jagung karena harga jagung 
meningkat duluan...,  mereka kan juga boleh punya penghasilan lebih baik.

Yang nggak boleh adalah ilustrasi yg di berikan di hal 22 kolom 7 Kompas 22 
Januari, produktivitas kedelai kita hanya 0.8 sampai 1.2 ton per ha .. 
semestinya bisa smapai 1.8  sampa1.9 per ha.

Tentunya angka yang dikuitp dr ucapanProf.Dr.IrDewa Ngurah Suprapta 
berdasar pengalaman negara lain.

Begitu juga produktivitas beras kita yang hanya 4 ton per ha.., padahal 
bisa jadi 8 ton per ha..

Jawaban masalah kita.. bukan  dengan.. kita harus punya ketahanan pangan.. 
tapi teriakan kita harusnya disegala bidang harus tinggi produktivitasnya..


Tulisan Pak Anton Apriyantono di hal 17,, sangat bagus untuk melihat 
permasalahan yg ada. Kata penutupnya "saatnya bangkit dengan pangan 
hibrid..." menjadi bagian dari seruan agar lebih prduktip..

bahkan menurut saya kalau perlu GMO ( rekayasa genetis) pun kita terapkan..


Beliaupun jelas tidak mengharamkan produk gandum ... merupakan keterbukaan 
pikiran yg benar.. lalu ditambahkan gandumnyua kaj bisa di kombinasikan dgn 
bahan lokal.

Saya tahu sudah ada produk bernama "bumie" , yaitu mie instant yang 
merupakan campuran terigu dgn labu, ada juga mocal , modified cassava, yang 
adalah tepung ketela yg di modifikasi , yang paling nggak bisa  ganti 10 
persen gandum dalam  pembuatan mie.atau roti , saya juga sudah pernah coba 
roti yang terbuat sebagaiannya dari tepung ubi jalar... Saya yakin 
persentasenya akan naik terus...  sementara penerimaan konsumen akan tetap 
baik..

Juga media seperti  dikatakan pak Anton, jangan mengesankan mereka yg 
makanan pokoknya bukan nasi sebagai orang yg menderita.. karena lagi 
lagiyang terpenting adalah apakah makanan itu cukup efektip untuk bukan 
saja menjada kesehatan tapi menumbuh kembangkan tubuh yg makan..


Inovasi.. produktivitasi kreasi... itu yang dipacu..

Bukan teriakan kosong tentang ketahanan pangan.. karena dgn 
berproduktivitas tinggi, kraetif  , inovatif  dalam bidang apapun kita bisa 
kaya dan bisa membeli pangan kita, .. Singapore jadi buktinya.. yg hampir 
hampir nggak produksi makanan apapun


Tapi tentu saja dalam hal Indonesia yg negara agraris.. .. tuntutan utk 
berproduksi bidang pertanian merupakan pilihan yang bukan saja masuk akal.. 
tapi sesungguhnya pilihan terbaik..

Asal tahu aja.. produktivitas perkebunan karet, gula  dan kelapa sawit kita 
pun tergolong rendah

Habis ributnya bertahan aja sih... kapan bikim gol nya...



Salam

Haniwar


Haniwar
http://haniwar.blogspot.com/

Kirim email ke