http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/16/utama/4168442.htm
======================

Yogyakarta, Kompas - Semangat kebangsaan Indonesia kian hari kian
luntur sehingga mengancam Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.
Karena itu, semua elemen bangsa ini diserukan agar kembali setia
memegang teguh pada kontrak politik Pancasila dan Mukadimah UUD 1945.

Demikian poin-poin penting yang mengemuka dalam sarasehan kebangsaan
bertema "als ik eens Indonesier was (Andai Aku Orang Indonesia)",
Selasa (15/1) di Kampus Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa, Yogyakarta.

Sultan Hamengku Buwono (HB) X sebagai Raja Keraton Yogyakarta yang
menjadi salah satu pembicara menuturkan, Indonesia kini menghadapi
empat tantangan utama. Pertama, masalah kebangsaan dikaitkan dengan
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan segala
persoalannya. Kedua, masalah kesejahteraan rakyat. Ketiga,
pemerintahan yang akuntabel dan transparan, tidak hanya eksekutif,
tetapi termasuk legislatif dan yudikatif. Keempat, gelombang besar
globalisasi dengan segala efeknya.

Menurut Sultan, globalisasi yang dikendalikan sebenarnya oleh kekuatan
kapitalisme global telah masuk memengaruhi berbagai sendi kehidupan
kebangsaan sampai di tingkatan terkecil, yaitu keluarga.

Strategi pembangunan karakter bangsa Indonesia, ungkap Sultan, telah
terjadi pergeseran dari pendekatan gaya Timur, yaitu moralitas dan
etika dengan strategi kebudayaan memanusiakan manusia, menjadi
pendekatan material yang mengadopsi konsep Barat. "Apakah strategi itu
pas untuk bangsa ini," ujarnya.

Menurut Sultan, dalam praktik kehidupan Bhinneka Tunggal Ika, keakuan
di dalam masyarakat ternyata lebih mendominasi dibanding kekitaan.
Mestinya, keakuan itu dikontribusikan untuk kekitaan, dan dipakai
membangun identitas Indonesia.

Rikard Bagun, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, mengatakan,
prinsip kebinekaan di dalam Bhinneka Tunggal Ika telah dipersepsikan
sebagai pertentangan bukan perbedaan. Perbedaan dalam sebuah bangsa
tidak bisa dihindari karena manusia memang berbeda dengan atribut yang
menempel, seperti suku, agama, dan lainnya.

Mantan Wakil KSAD Letjen Kiki Syahnakri menyerukan Indonesia harus
kembali pada jati diri bangsa, yaitu Pancasila dan Preambul UUD 1945.
(RWN)



Kirim email ke