Mas Hudan, saya bingung. Apakah tulisan di bawah ini semua karya GM atau 
diselipkan opini dari Mas Hudan?

Kalau iya, bisa minta tolong kirim puisi karya GM yang versi utuhnya?

Terima kasih


  ----- Original Message ----- 
  From: Hudan Hidayat 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: hudan hidayat 
  Sent: Saturday, January 19, 2008 9:21 PM
  Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Dari Sebuah Puisi Goenawan Mohamad




  Penyair yang Mencatat Kematian

  (dari sebuah puisi Goenawan Mohamad)

  Momen alam ditangkap seorang penyair, untuk sebuah kematian. Kita bertemu
  dengan pernyataan tiba-tiba, seolah maut yang tak diketahui kapan datangnya.
  Seolah nasib membawa kita pada arahnya.

  Puisi “Hari Terakhir Seorang
  Penyair, Suatu Siang”, dapat dibaca secara dikotomik: dia yang mencatat
  kematian, dia yang menjalani kematian. 

  Dia yang mencatat kematian, adalah saat penyair menulis, atau mencatat,
  biografi kematian penyair lain. Tapi dalam tulisan yang singkat. Sesingkat
  kemendadakan maut itu sendiri. Karena itu sang penyair yang menuliskan
  detik-detik kematian itu, seolah tercekat, gugup. Siang, kenapa tiba-tiba jadi
  lain?

  Sebuah puisi mengangkut momen dalam bahasa, dalam kata. Seakan anak tangga,
  kata-kata itu mengantarkan sang penyair ke dalam momen yang ditangkapnya. 
Momen
  yang ingin dikekalkannya. 

  Sudah sampaikah, kematian itu? 

  Sang penyair melihat tandanya. Mencatat tandanya. Dengan “siang” yang
  “suram”, dengan “bertiup angin”, ia pun mencatat detik-detik kematian itu.
  “Kuhitung pohon satu-satu”, katanya, “tak ada bumi yang jadi lain: daun pun
  luruh, lebih bisu”.

  Memang “Tak ada bumi yang jadi lain”, tapi sang penyair yang mengumpulkan
  remah-remah maut itu, menangkap beberapa tanda, yang mengubah persepsinya akan
  alam sekitarnya, tempat dia mencatat “detik-detik yang gawat” itu. Karena itu,
  bumi yang biasa itu, sampai padanya seolah “bumi yang jadi lain”. “Ada 
matahari
  lewat mengendap”, bisik sang penyair, dan waktu yang seolah film yang diputar
  lambat, mencapai terminalnya. 

  Menyadari ketelahsampaian maut itu, sang penyair pun seolah melenguh dalam
  repetisi kematian yang tak bisa ditolak lagi. Sang penyair hanya bisa pasrah
  dan menyerah di ujung waktu (“hari menunggu”). Ia pun mengucap dengan kata
  penuh kepasrahan pada Tuhannya. “Segala akan lengkap, segala akan lengkap,
  Tuhanku”.

  Dan benar: kematian itu tiba pada akhirnya. 

  Tetapi, siapakah “Engkau” yang “tiba” itu? Adakah “Engkau” di sana adalah
  “Engkau” Tuhan, yang akan mengambil nyawa sang penyair, menjemputnya sehingga
  kita tak kan bisa menemukan sajaknya lagi (“sajak yang tak tersua”). Ataukah
  karena tugasnya yang sejak tadi mencatatkan kematian itu, sang penyair
  membahasakan dirinya sebagai “Engkau”, yang akan membawa pulang, atau
  menguburkan, jasad sang penyair yang di”abadi”kannya. 

  Ataukah kita akan menduga, bahwa “Engkau” di sana adalah sang penyair yang
  mencatatkan kematiannya sendiri? Jadi sajak telah bergerak ke arah lain. Ke
  arah diri sang penyair.

  Untuk itu sang penyair menyebut dirinya sebagai “cinta” yang “berangkat dalam
  rahasia” – rahasia kematiannya yang sejak bait pertama telah sibuk
  dicatatkannya.

  2007-2008

  (Hudan Hidayat)

  __________________________________________________________
  Looking for last minute shopping deals? 
  Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.7/1233 - Release Date: 19/01/2008 
18:37


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke