Oleh Yasraf Amir Piliang
http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.21.0436324&channel=2&mn=11&idx=11


Hari-hari ini, perhatian, perasaan, dan pikiran bangsa Indonesia
tercurah pada kondisi mantan Presiden Soeharto yang sedang terbaring
sakit. Ada ekstra kesibukan di mana-mana. Para dokter rumah sakit
sibuk merawat Pak Harto, para wartawan tak henti memberitakan kondisi
beliau, para kerabat silih berganti membesuk ke rumah sakit, para
politikus tak bosan-bosan memberikan komentar politik, para simpatisan
tak putus-putus memanjatkan doa, bahkan para mistikus ambil bagian
memberikan analisis gaib.

Pemberitaan intensif kondisi harian Pak Harto di aneka media mengubah
sakit Pak Harto menjadi ”dramatis”. Istilah ”normal”, ”stabil”,
”kritis”, ”ventilator”, ”cairan tubuh”, ”memaafkan” kini menjadi
bagian sentral drama publik.

Sakit hiper-real

Sakit itu menjadi sebuah ”wacana” (discourse), ”teks”, dan kumpulan
”tanda-tanda” (sign) untuk dimaknai setiap orang. Sakit itu kini
menjadi ’imagologi kesakitan’ (imagology of sickness): keprihatinan,
kedukaan, dan empati yang dibangun melalui citra-citra media.

Sakit Pak Harto dimuati pula dengan tafsir-tafsir politik, ekonomi,
sosial, spiritual, bahkan mistis. Sakit itu kini dikaitkan dengan
kesalahan politik, dosa sosial, peristiwa mistik, bahkan
fenomena-fenomena spiritual. Sakit itu tidak saja membentuk opini
publik (pro-kontra antara diadili/dibebaskan, dihukum/diampuni),
tetapi juga ”histeria massa” (mass hysteria): gejolak keprihatinan,
kedukaan, dan empati mendalam.

Sakit Pak Harto kini menjadi hiperteks (hypertext), yaitu kesakitan
yang dinarasikan dari hari ke hari melalui media elektronik-digital.
Sakit itu pun kini menjadi sakit ”hiper-real”, di mana organ-organ
dalam tubuh Pak Harto (jantung, lambung, paru-paru, ginjal, saluran
pencernaan) dinarasikan menit per menit dalam format citra
virtual-digital di dalam aneka media elektronik, yang memperbesar
”efek” sakit dan kesakitan itu sendiri bagi publikâ€"hyperreality of
sickness.

Publisitas duka

Realitas sakit Pak Harto kini menjadi citra duka publik di dalam layar
elektronik. Naik turun detak jantung Pak Harto seakan menjadi naik
turun detak jantung publik; harap-cemas para dokter seakan menjadi
harap-cemas publik; komat-kamit doa keluarga kini menjadi komat-kamit
doa publik. Sakit Pak Harto membangun sebuah ruang ”publisitas” duka,
keprihatinan dan doa.

Sebagaimana dikatakan Susan Sontag dalam Regarding the Pain of Others
(2003), abad informasi mampu menghadirkan kesakitan dan duka seseorang
ke hadapan mata setiap orang sehingga membentuk ”duka publik”. Akan
tetapi, teknologi informasi tidak saja mampu memindahkan informasi
dengan kecepatan tinggi dan secara real time, tetapi juga mampu
memberi ”pembesaran efek” (amplifier effect) sehingga duka diri kini
menjadi duka setiap orang.

Akan tetapi, citra visual itu tidak selalu merupakan cermin realitas.
Citra-citra ”dipilih” untuk satu tujuan tertentu. Mengambil foto
berarti membingkai (to frame) dan meminggirkan (exclusion), yaitu
menyembunyikan realitas-realitas lain dari mata publik. Narasi visual
Pak Harto yang terbaring sakit dibingkai bersama narasi-narasi visual
masa kecil, kegigihan, keberanian, dan kepahlawanannya sehingga
menggugah empati di hati publik.

Julia Kristeva dalam Black Sun: Depression and Melancholia (1989)
mengatakan, duka tidak sekadar fenomena psikis, tetapi menuntut
diekspresikan. Duka tidak mungkin hanya disimpan dalam hati, tetapi
harus diungkapkan melalui tanda-tanda sehingga menjadi sebuah
”semiotika duka” (semiotics of melancholia). Membesuk, berdoa,
meruwat, mengirim bunga, menyampaikan pesan duka adalah bagian dari
’semiotika duka’ itu.

Semiotika duka di abad informasi dapat memberi efek ganda. Di satu
pihak, melalui tanda duka, orang mengungkapkan rasa simpati. Di pihak
lain, ungkapan duka dapat menjadi media ”publisitas rasa duka”, yaitu
memperlihatkan ”ungkapan duka” pada publik untuk mendapatkan efek
sosial, ekonomi, politik, maupun kultural.

Meski ungkapan duka sejati bebas dari kepentingan, ungkapan rasa duka
dapat pula menjadi sebuah iklan perusahaan, sarana kampanye politik,
bahkan publisitas diri.

Duka sebagai pelupaan

Agama-agama mengajarkan ”etika duka”, bahwa dalam suasana duka tidak
etis menyebutkan aib, kesalahan, dan keburukan seseorang, dan
dianjurkan menyebutkan kebaikan, jasa, dan prestasinya. Duka memiliki
dimensi pelupaan yang buruk dan pengingatan yang baik. Duka adalah
mistik pelupaan (forgetfulness) dan ”pemaafan” (forgiveness). Adalah
terpaan kabut duka yang menyebabkan seorang tokoh besar dapat berbalik
memaafkan musuh besarnya.

Namun, seperti dikatakan Richard Rorty dalam Achieving Our Country
(1998), pemaafan dan pelupaan dapat berujung pada penipuan sejarah
bangsa. Karena, penciptaan sejarah kebanggaan nasional (national
pride) tidak melulu melalui cerita pencapaian membanggakan dari
tokoh-tokoh sejarah, tetapi juga narasi-narasi menyakitkan sebagai
sarana bagi pembelajaran publik tentang ”kejujuran sejarah”. Pemaafan
dapat berujung pada ”penguburan sejarah pedih”, tetapi melahirkan
”dendam sejarah”.

Kata maaf adalah ekspresi dari ”kearifan” (virtue), meski kearifan
yang kontradiktif karena meniadakan bagian dari esensi kearifan itu
sendiri, yaitu ”rasa keadilan”. Memaafkan segala kesalahan Pak Harto
di masa lalu sama dengan mengubur rasa kepedihan orang-orang yang
diperlakukan tidak adil dari lembar sejarah. Tetapi, tidak mau
memaafkan sama sekali bukan pula tindakan bijaksana secara kemanusiaan
dan agama. Di sini, sakit Pak Harto meninggalkan dilema historis
antara rasa maaf dan rasa keadilan.

Sebagai manusia beragama, kita semestinya berdoa demi kesembuhan Pak
Harto. Dan sebagai sebuah bangsa, memberi ungkapan maaf kolektif atas
segala kesalahan. Tetapi, di pihak lain tidak menghapus kesalahan dan
kejahatan itu dari lembar sejarah dan mata hukum, dengan menghargai
pula rasa keadilan para korban kejahatan, adalah sebuah situasi
dilematis paling pelik yang dihadapi bangsa ini, sebagai ”batu ujian”
bagi reformasi dan demokratisasi.

Yasraf Amir Piliang Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK) FSRD-Institut
Teknologi Bandung

Kirim email ke