Ya memang kalau ukurannya seperti itu, kita musti ngecek ke tuan rumah DO & DON'T nya sebelum bertandang. Kalau perlu lakukan survei lapangan. Memang kita harus hormati tuan rumah.
Soal ruang publik terus terang saya kurang paham batasannya. Tapi kalau misalnya Mbak Daniar terlalu banyak aturan, apa tidak bikin orang lain jadi jengah? Alih-alih mau menegakkan aturan, malah dijauhi tetangga, kerabat dan sebagainya. Iya kan Mbak Dhaniar? ----- Original Message ----- From: dhaniar To: [email protected] Sent: Wednesday, January 23, 2008 1:20 PM Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Re:Tanda tanya - Re: Imam B. Prasodjo: Merokok Tindakan Bodoh >>Posted by: "mediacare" [EMAIL PROTECTED] radityo_dj Mon Jan 21, 2008 2:46 am (PST) >>Ada tanda tanya di potongan artikel tersebut. Terlalu berlebihan, menurutku. Saat Lebaran, umumnya yang muda justru berkunjung ke kerabat yang dituakan, bukan sebaliknya. Kok Imam malah menunggu pamannya? Bukannya ia musti bertandang ke rumah pamannya? ==>kebiasaan setiap keluarga kan beda, saya pikir ini tidak perlu dipermasalahkan. atau bisa jadi juga pamannya itu usianya lebih, dia hanya 'paman' berdasarkan struktur keluarga besar. >>Kedua, kalau toh di dalam rumah Imam Prasodjo tidak boleh merokok, toh masih ada teras di halaman rumah, atau kebun di belakang rumah. Bukankah di area itu boleh merokok karena bukan ruang tertutup? Kalau toh Imam masih juga melarang, sungguh keterlaluan. ==>teras atau halaman memang bukan ruang tertutup, tapi itu tetap milik si pemilik rumah, jadi harus ngikutin aturan si pemilik rumah. mungkin maksud anda orang boleh merokok bukan di ruang tertutup itu merujuk ke PP no. 81/99, yaitu RUANG PUBLIK tidak tertutup. saya tekankan, itu ruang publik, bukan ruang milik pribadi. tapi, aturan itupun menurut saya masih kurang tepat, karena pembolehan merokok di ruang publik tidak tertutup tetap memarjinalkan orang yang tidak merokok, karena kadang2 kaum non-smoker harus membayar lebih mahal utk mendapatkan haknya memperoleh udara bebas asap rokok. padahal mestinya justru kaum smoker itu yang dimarjinalkan. >>Saya jadi ingat ada seorang teman yang saking rapihnya, kalau kedatangan tamu malah muring-muring. Takut mejanya kotorlah, takut ada air minum tumpah di karpetlah, takut bantal sofanya kusutlah dll. Orang-orang akhirnya menjauhi dia. ==>Kasus merokok beda. itu namanya tamu membahayakan kesehatan si pemilik rumah. mana yang lebih nggak sopan? perokok yang membahayakan hidup orang lain atau pemilik rumah yang nggak udara di rumahnya tercemar? salam, dhaniar
