http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.24.03193657&channel=2&mn=12&idx=12

Jakarta, Kompas - Theologi Al Maa’un yang diajarkan pendiri
Persyarikatan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, tidak hanya mengajarkan
Islam dan keimanan sebagai hafalan, tetapi harus diwujudkan dalam
tindakan nyata. Tanpa aksi nyata, keislaman sulit dipahami dan sulit
dikatakan bisa mendorong terwujudnya kesejahteraan umat.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin
menyampaikan ini di depan rombongan Dewan Penasihat untuk Pembangunan
Perdamaian di Provinsi-Provinsi Perbatasan Selatan (The Advisory
Council for Peace Building in The Southern Border Provinces Thailand)
yang berkunjung ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jakarta, Rabu
(23/1).

Dewan ini juga berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU) di Jakarta. Dalam kesempatan ini, Ketua Umum PBNU KH Hasyim
Muzadi mengatakan, konflik bernuansa agama di wilayah Thailand Selatan
tak cukup diselesaikan dengan pendekatan keamanan dan militer semata.
Konflik harus dihadapi secara komprehensif dengan menggunakan
pendekatan ekonomi, kesejahteraan sosial, agama, maupun perkembangan
peradaban.

Acara di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah antara lain juga dihadiri
Amidhan dan Tuty Alawiyah dari Majelis Ulama Indonesia, Makmun dari
Persin, dan Zahir dari Dewan Dakwah Islam Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Din antara lain mengatakan, ”Ajaran Ahmad Dahlan
inilah yang mendorong Muhammadiyah untuk membangun amal usaha dalam
beragam bentuk, mulai dari sekolah, rumah sakit, panti, dan lembaga
ekonomi mikro BMT.”

Gerakan keislaman yang dilakukan Muhammadiyah, menurut Din, harus bisa
mendorong Islam yang berkemajuan dengan pendekatan dakwah yang
mencerahkan.

”Langkah semacam ini sebetulnya tidak hanya diambil Muhammadiyah,
tetapi organisasi keislaman lain yang ada di Indonesia pun juga
melakukan hal yang sama, tentunya dengan menerapkan caranya
masing-masing,” ujarnya.

Tentang usaha membangun perdamaian di provinsi-provinsi di selatan
Thailand, Din kembali mengingatkan agar Pemerintah Thailand bisa
mengambil langkah soft power yang tidak menggunakan kekerasan.

Ketua Advisory Council Thailand Aziz Benhawan dalam sambutannya
mengatakan, kunjungannya ke Indonesia karena tertarik dengan keislaman
yang plural di Indonesia.

Aziz Benhawan menegaskan, kunjungan delegasi dari Thailand Selatan ini
bertujuan menimba pengalaman dari NU dan Muhammadiyah, terutama dalam
pengembangan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Kunjungan ini
diharapkan dapat menghasilkan kerja sama yang baik antara kedua ormas
Islam terbesar di Indonesia itu dan masyarakat Thailand Selatan. (MZW/MAM)

 

Kirim email ke