Tingkat kesulitan masyarakat sering ditandai oleh sulitnya makan sesuai standar
(beras). Ketika ada masyarakat yang makan nasi aking, maka itu dianggap miskin,
walaupun, masyarakat tersebut biasa makan nasi aking. Sama dengan orang Madura
yang biasa makan beras jagung, bukan karena miskin, tapi tanpa jagung terasa
belum makan.
Bagaimana dengan orang yang antri singkong? Antri-mengantri juga sering
dijadikan indikator kegagalan pemerintah dalam menyediakan kebutuhan masyarakat.
Tapi kalau tentang antri singkong, ini jelas bukan masalah kegagalan
pemerintah, justru ini sebuah keberhasilan. Bisa dibayangkan orang mau berantri
panas-panas hanya untuk mendapatkan singkong keju. Mereka bukan tidak punya
beras, tapi karena ingin makan singkong. Anda tidak percaya? Lihat di jalan
Raya Cinere. Di tengah terik, orang antri beli singkong keju. Dua jenis makanan
yang dulu dianggap sebagai identitas miskin (singkong) dan kaya (keju)....masih
ingat lagu Ari Wibowo: "aku suka singkong, kau suka keju". Melalui kreativitas
si penjual singkong-keju, identitas tersebut hancur. Si penjual berhasil
mengharmoni kedua jenis makanan ini.
salam
raja
pemakan singkong, jagung, kedelai, kacang, juga keju....
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]