Pemberian klarifikasi dan permintaan maaf Tempo atas timbulnya "perasaan
kurang sreg" yang diakibatkan ilustrasi gambar di sampul muka Tempo saya
anggap suatu tindakan yang bijak. Mungkin bagi anda yang bisa mengerti
hakekat persoalan dan mampu memaknainya secara mendalam berdasarkan daya
intelekutalitas anda akan menganggap tidak ada masalah yang penting dan oleh
sebab itu menganggap permohonan maaf adalah berlebihan dan baseless.
Sayangnya tingkat kedewasaan berfikir, bersikap dan daya interpretasi
masyarakat itu tingkatannya dan macamnya berbeda-beda.

Orang yang protes tidak dijamin dasarnya benar sebagimana orang setuju
tidak berarti sudah dijamin dasarnya benar. Dalam hal ini permintaan maaf
Tempo kepada yang memprotesnya (terlepas apa pihak yang protes itu benar
atau salah) bisa diibaratkan sebagai bentuk rasa tahu maklumi dan peduli
memahami perasaan orang lain  karena Tempo secara tidak disengaja membuat
suasana keagamaan banyak orang terganggu.

Hak jawab atau hak muat bantahan itu sebenarnya relevansinya dengan status
benar-salahnya persoalan yang diperdebatkan. Itu sayangnya hanya dianggap
penting oleh mereka yang memang masih fikirannya terbuka akan benar-salahnya
permasalahan, bukan mereka yang sudah meyakini penuh salah menurut keyakinan
atau fikirannya. Karena Tempo harus mengatasi berbagai fikiran pengeritik
dalam waktu yang bersamaan dan dengan pertimbangan supaya keberlangsungan
terbitan berikut tidak terganggu, maka tentu yang terbaik adalah meminta
maaf sambil mempersilahkan orang membuat hak bantahan.

Terakhir yang harus saya tekankan sekali lagi disini adalah bahwa jangan
sampai isu Tempo ini dibiarkan terus berlarutan karena justeru akan
melemahkan konsentrasi kita dalam upaya penanganan hukum kasus Suharto itu
sendiri. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan kasus cover Tempo untuk
memindahkan perhatian umum kepada kasus hukum Suharto.
SH


On 2/6/08, Goenawan Mohamad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


>
> KULITMUKA TEMPO
>
> Tentu tidak ada maksud majalah TEMPO untuk melukai hati orang
> Kristen, tetapi tidak berarti tidak ada yang salah dalam gambar itu.
> Menurut hemat saya, menggunakan tema "Perjamuan Terakhir" dalam
> karya Leonardo da Vinci jadi dasar tema kepergian Suharto
> sama sekali tidak tepat. Tema dan suasana "Perjamuan Terakhir"
> dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan
> dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa. Sedang justru
> itu yang tak ada
> di hari terakhir Suharto. Suharto tidak mati disalib. Juga saya
> ragu apakah kematiannya akan melahirkan keyakinan baru. Dan yang
> jelas, yang dibagi-bagikannya
> (dan dinikmati anak-anaknya) bukanlah potongan roti dan beberapa
> reguk anggur, melainkan kekayaan yang berlimpah-limpah, yang
> didapat karena kekuasaan politik.
>
> Saya senang bahwa ada protes tapi tak ada kekerasan. Saya senang
> bahwa dengan tulus pimpinan TEMPO minta maaf, dan Sekjen KWI
> memberikan maafnya.
> Itu tanda kita masih bersedia menjaga peradaban.
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke