Saya sich merasa kasihan saja sama penduduk asli Timor Timur, karena walaupun
merdeka, Timor Timur tidak pernah mempunyai pemimpin penduduk yang asli dari
Timor Timur. Semua yang menjabat dalam pemerintahan kebanyakan tetap keturunan
Portugis.
Dan dari dulu para pemimpin yang berdarah Portugis tersebut selalu "hiding
under the Austrialian apron".
Padahal para tentara yang asli rakyat Timor Timur tidak pernah diperlakukan
secara sopan santun oleh tentara Australia yang bertugas di TimTim, walaupun
kedudukan tentara TimTim tersebut lebih tinggi dari pada para "kroco-kroco"
asing tersebut.
TimTim adalah daerah paling strategis bagi negara tetangga asing tersebut
untuk mengendalikan Indonesia. Indonesia bagian Timur selalu "digoyang" agar
keadaan politiknya selalu tidak stabil.
Apa perlunya para tentara asing tersebut masih menetap di TimTim? Semestinya
kan pemerintahan TimTim sesegera mungkin memperkuat tentara pribumi mereka
sendiri, kok malahan selalu bergantung pada tetangga asing? Jadi yang merasa
tertindas ya "retaliate", kan?
Salam,
Yuli
anton_djakarta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Jelasnya mirip kasus Westerling, cuman kan kasus Timtim Hortanya
kagak hebat, kehajar juga
kalo kasus Westerling, Sri Sultan HB IX yang jadi sasaran Westerling
jago banget punya intel yang bisa halangin anak-anak KNIL yang
terlibat APRA cuman sampe di daerah Lengkong, Bandung.
ANTON