Bung Putra, Gerakan orang tua asuh ini sekarang masih jalan (tepatnya jalan lagi, setelah 'istirahat' selama beberapa waktu), dan masih dikomandani oleh Halimah. Bisa dilihat di http://www.gn-ota.or.id/. Setahu saya saat ini GN-OTA dikelola dengan lebih profesional dan lebih mandiri (setidaknya tidak lagi menggantungkan pada kekuasaan). Tapi memang gaungnya kurang terdengar, karena tidak seperti sebelumnya yang didukung penuh oleh pemerintah pada waktu itu. Tapi ada hikmahnya juga,GN-OTA kembali ke khitahnya sebagai gerakan filantrofi, yang digerakkan oleh kesadaran sosial, dan tidak oleh desakan kekuasaan.
Salam, Kunto --- In [email protected], "Putra" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ngomong2 tentang orang tua asuh. Kenapa sekarang tidak ada gaungnya > yah? Ini sebenarnya contoh program bagus yang harusnya tetap > dijalankan secara konsisten biarpun Orde baru sudah lengser. > > Untuk keperluan data2 misalnya, bisa saja pakai data pajak. Jadi > misalkan keluarga yang berpenghasilan diatas 50 juta perbulan wajib > memiliki minimal 2 anak asuh untuk menamatkan pendidikan dasar dari > SD-SMU (boleh negeri/swasta). > > Dan banyak faktor2 lain bisa dipakai acuan, misal korelasi antara > penghasilan dan jumlah anak. Misalkan semakin dikit anak tapi semakin > besar penghasilan, maka semakin banyak juga syarat minimal anak asuh. > > Program ini bisa juga dipaketkan dengan program pajak biar tepat > sasaran. > > Salam, > p >
