Modernisasi Modal Ibu Jari
   
  Hari ini Rabu 13/02/08 merupakan batas hari antara hitam dan putih, hari 
bersejarah bagi pegawai pajak di wilayah Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur dan Bali. 
Beberapa hari lagi setelah pelantikan, ribuan orang yang terdiri para pelaksana 
dan pejabat yang telah ditetapkan Surat Keputusan (SK) mutasinya untuk 
menempati kantor pajak modern TIDAK BOLEH LAGI menerima uang suap dan uang 
haram lainnya. Penghasilan bulanan bisa saja menurun (bagi yang suka menerima 
suap) namun gaji dan tunjangan yang dibayar oleh negara naik tiga hinga empat 
kali. Gaji dan tunjangan/uang yang bisa dibawa pulang per bulan mulai dari 
delapan juta bagi pelaksana/AR dan 12 - 20 juta bagi yang punya jabatan/Kasi. 
Jauh beda gajinya dengan PNS lain.
   
  Modernisasi dimulai sejak tahun 2002 dari kantor pajak di Jakarta, tahun lalu 
di Jawa Barat dan meluas hingga seluruh wilayah negeri ini modern pada tahun 
2009. Pada awal terbentuknya kantor modern, para pegawai diseleksi melalui tes 
khusus yang diikuti oleh pegawai pajak se-indonesia, tapi tes-2 seleksi 
tersebut tidak ada artinya karena mereka yang lulus diabaikan juga. Sekarang 
ini "asal punya ibu jari" dan punya kedekatan dengan "bos" bisa masuk kantor 
modern karena presensi, tanda kehadiran cukup menempelkan jempol pada finger 
print scaner. Bila kehadiran penuh gaji dan tunjangan juga dibayar penuh, tidak 
ada yang sulit.
   
  Ada sesuatu yang kurang pantas, mereka yang telah menerima gaji ratusan juta 
per tahun masih minta "disuapi" juga. Pada akhir September 2007, di sebuah 
bandara aku mendengar percakapan beberapa pejabat PEMDA dari wilayah Indonesia 
Timur akan berangkat ke Jakarta menyetor uang suap ke seorang pejabat pajak di 
kantor pusat yang membagi penerimaan PBB ke kabupaten-2 se-indonesia. 50 juta 
per kabupaten, mereka menghitung bila 200 kabupaten saja yang memberi ke orang 
pajak, sudah 10 miliar didapatkan orang Jakarta, belum lagi "insentip" yang 
jumlahnya 50juta juga per kabupaten bagi kepala kantor pajak setempat. Aku 
mendengarnya hanya nyengir saja. Benar tidaknya cerita ini konfirmasi saja ke 
para pejabat PEMDA setempat khususnya di Indonesia Timur dan lihat buku tamu di 
kantor pusat pajak Jakarta tempat mereka negosiasi, mereka datang berkelompok.
   
  Sulit memang untuk mengubah sikap mental seseorang dari buruk menjadi baik 
hanya sekedar nama kantornya diubah menjadi modern dengan tambahan KPP Pratama 
atau Madya dan daftar hadirnya pake jempol. Seseorang yang sebelumnya suka 
memeras wajib pajak dan menghalangi masuknya uang pajak ke kas negara, tidak 
cukup "disumpahi" atau dilantik, dipaksa berjanji tidak akan menerima uang 
haram lagi, namun perlu suatu unit pengawasan yang memantau para pegawai. Unit 
di ditjen pajak yang kerjaannya "nangkepin orang" KITSDA harus lebih agresif 
lagi.
   
  Harapan kami mereka yang dulu suka merampok uang negara, mengeruk keuntungan 
pribadi melalui restitusi faktur pajak fiktif dsb, yang saat ini masih terlihat 
menjabat di kantor modern segera bertobat setelah dilantik beberapa hari lagi, 
dengan cara mengembalikan kekayaannya ke negara. Semoga Tuhan memberkati.
   
  Salam
  Nano Papua

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke